MEMASUKI Juni, Indonesia 'disapa' dua city car (mobil ringkas) berfitur mewah untuk ukuran pasar otomotif Tanah Air. Daihatsu Copen yang bersenjatakan mesin 660 cc turbo intercooler mengawali, disusul Suzuki Celerio 1.000 cc dengan fitur anti-lock braking system (ABS) dan transmisi continiously variable timing (CVT).
Copen dibanderol Rp416,5-Rp431,5 juta, sedangkan Celerio dihargai Rp146-158 juta. Keduanya memberi warna lain bagi segmen city car yang berkembang pesat sejak kemunculan 'mobil murah ramah lingkungan' (low cost green car/LCGC) pada September 2013.
Pada 2012 segmen city car hanya 3,8% dari bobot total penjualan mobil Indonesia yang berjumlah 1.116.224 unit, sedangkan data Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) memperlihatkan kontribusi segmen itu pada 2013 menjadi 8,97% dari 1.229.904 unit. Model-model LCGC mendominasi penjualan di segmen tersebut dengan sumbangan 51.180 unit, setara dengan 4,16% pangsa pasar otomotif nasional tahun itu.
Pada 2014, transaksi jual beli city car meroket menjadi 216.575 unit dan merebut 17,39% pasar roda empat Indonesia yang secara akumulatif mengumpulkan 1.208.019 unit. Lagi, LCGC berperan penting berkat sumbangan penjualan 172.120 unit untuk segmen city car, setara 14,25% pangsa pasar nasional.
Transaksi komersial city car pada Januari-Mei 2015 mengingsut 8,77% menjadi 84.271 unit jika dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya. Meski begitu, dengan dipimpin LCGC yang meraih penjualan 67.442 unit, ceruk pasar city car meningkat dari 17,38% menjadi 19,02%.
Makin dinamisnya gerak city car di Indonesia itu tidak lepas dari tren global. Direktur Pemasaran PT Suzuki Indomobil Sales (SIS) Makmur, saat ditemui Kamis (11/6) lalu di Bogor, menjelaskan tren di industri otomotif dunia mengarah salah satunya pada mobil-mobil kecil. Akan tetapi, yang berkembang di pasar global ialah city car dengan teknologi mesin dan fitur canggih seperti di Jepang dan Thailand.
Pendapat serupa juga keluar dari General Manager Strategi Pemasaran dan Perencanaan Produk PT Nissan Motor Indonesia (NMI) Budi Nur Mukmin. Saat menyinggung soal popularitas city car yang sudah tersohor di Asia dan Eropa, Budi menilai penyebabnya ialah perkembangan teknologi mesin berkapasitas kecil.
"Orang merasa tidak perlu lagi membeli mobil besar. Mobil kecil sudah bisa mengakomodasi kebutuhan karena secara fitur, mesin, semakin lama semakin bisa dipenuhi," tegasnya, Maret lalu, di Jakarta.
Ia mencontohkan segmen city car bertajuk kei car serta eco-car di Thailand. "Sejak ada eco-car di Thailand segmen city car membesar luar biasa," lanjut Budi.
Di sisi yang lain, mobil kecil juga makin menjadi tren karena bersahabat dengan lingkungan. "Mobil mini, selain nyaman dan ekonomis, bisa menjadi solusi mengatasi masalah lingkungan," kata Direktur Daihatsu Motor Corporation Masanori Mitsui seperti dilaporkan wartawan Media Indonesia Usman Kansong dari lokasi pabrik Daihatsu di Osaka, Jepang, pekan lalu.
City car sebagai tren dunia terbukti lewat peran eco-car dalam mengerek performa industri otomotif Thailand. Bangkok Post memberitakan, sewaktu permintaan domestik turun 15,3% menjadi 251.845 unit di empat bulan pertama 2015, permintaan ekspor untuk eco-car ke Eropa, Amerika Utara membuat ekspor naik 13,6% menjadi 410.362 unit.
Masih city car murah Alih-alih mengikuti 'mazhab' city car global yang telah akrab dengan model-model sejenis Celerio atau Copen, yang dipasarkan di Indonesia masih berkutat di model-model berfitur standar. "Harga psikologis konsumen Indonesia masih Rp100 juta dan di bawah Rp150 juta. Jika harga jual dikurangi, fitur juga harus ada yang dikurangi," terang Makmur. Karena itu pula, Celerio diklaimnya lebih untuk pencitraan merek serta tanpa target penjualan.
Daihatsu pun berpandangan sama. Mobil mini Daihatsu Copen yang berkapasitas mesin 660 cc memang telah diproduksi dan dijual di Indonesia. Akan tetapi, kata Direktur Utama PT Astra Daihatsu Motor Sudirman M Rusdi, andalan mereka untuk city car masih Ayla yang berkapasitas 1.000 cc.
"Mobil Copen (hanya) untuk image. Produksinya berdasarkan pesanan. Di Indonesia medannya tidak cocok untuk mobil 660 cc," ujar Sudirman di Osaka, Jepang.
Ya, prasyarat berkembangnya pemasaran city car berfitur canggih di Indonesia memang segudang. Itu tak hanya bergantung pendapatan per kapita masyarakat yang saat ini di kisaran US$3.700, tapi juga soal infrastruktur dan lain-lain. "Teramat banyak faktornya. Contohnya suku bunga pinjaman, struktur pajak kendaraan, kurs, dan hubungan bilateral Indonesia-Jepang," tegas Makmur. Kalau begini caranya, rasa-rasanya, Copen dan Celerio bakal lama berdua saja. (S-2)