Masa Menabur Benih-Benih Prestasi

ACHMAD MAULANA
20/10/2015 00:00
Masa Menabur Benih-Benih Prestasi
(MI/Angga Yuniar)
KALA satu tahun mungkin rentang yang panjang untuk kasus tertentu. Namun, untuk mengubah cara pandang dan membangun sendisendi  kehidupan berbangsa, waktu 12 bulan terbilang sangat singkat, apalagi untuk mengejawantahkan Nawa Cita atau sembilan agenda prioritas dari pemerintahan Presiden Joko Widodo. Bahkan waktu lima tahun pun mungkin tidak cukup. Itu sebabnya yang bisa diberikan pemerintah saat ini hanya membangun dasar-dasar bernegara yang kuat di segala bidang. Jadi, pemerintah kelak sudah punya fondasi dalam membangun. Hal tersebut diuraikan Menteri Pemuda dan Olahraga Imam Nahrawi saat berbincang soal satu tahun kabinet Jokowi kepada Media Indonesia, pekan lalu. Menurut Imam, selama satu tahun memimpin Kementerian Pemuda dan Olahraga, ia telah berhasil menjalankan sejumlah program, salah satunya mereformasi birokrasi. Tujuannya mendorong tata kelola pemerintahan yang bersih, efektif, demokratis, dan tepercaya yang tertuang dalam Nawa Cita poin kedua.

"Saya selalu menekankan bahwa birokrasi merupakan pelayan masyarakat. Untuk itu, kami mencoba membenahi tata kelola organisasi cabang olahraga yang sudah acak kadut dan minim prestasi seperti PSSI. Saya terpaksa tidak mengakui kegiatan PSSI karena kita ingin sebuah federasi yang sehat, (menjalankan) fair play dan berorientasi prestasi," papar Imam. “Biar FIFA menilai sendiri bahwa pemerintah memang hendak membenahi tata kelola olahraga agar kita sebagai bangsa punya dignity. Saya hanya berharap federasi sepak bola ke depan bisa sehat dan transparan,” imbuhnya. Bukan itu saja, guna mewujudkan pembangunan Indonesia seperti digariskan Nawa Cita, ia juga mendorong Program Satu Desa Satu Lapangan Olahraga. Program tersebut menyediakan sarana olahraga yang layak di perdesaan, memasyarakatkan olahraga dan mengolahragakan masyarakat, sekaligus menjadikan olahraga sebagai fondasi pembentukan karakter bangsa.

Program besar lainnya yang dalam satu tahun ini terus digeber Menpora ialah  persiapan Asian Games 2018 yang akan berlangsung di Jakarta dan Palembang, Sumatra Selatan. "Alhamdulillah persiapan Asian Games sudah berjalan. Keppres terbit, iuran ke OCA terbayar, panitia terbentuk, koordinasi persiapan renovasi venue antara Sekneg, Kemenpora, Kemenpar, Pemprov DKI, Pemprov Sumsel, dan Kementerian PU-Pera berjalan baik." "Satu lagi yang sudah saya tanda tangani dalam satu tahun ini adalah kesiapan Indonesia menjadi tuan rumah Moto-GP 2017," tambah Imam. Selain olahraga, Imam juga mengaku terus berusaha membuat program yang diarahkan untuk merangsang kreativitas para pemuda. Tujuannya agar para pemuda Indonesia bisa maju dan bangkit mengatasi berbagai tantangan global dan persaingan regional yang makin ketat dan terbuka seiring dengan akan diberlakukannya Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA).

"Untuk itu, kerja sama kepemudaan regional dan internasional kita bangun lebih intensif. Kita harus belajar dari banyak negara yang berhasil membangun kepemudaan yang lebih baik seperti Jepang, Korea Selatan, dan negara-negara yang tergabung dalam Asia Afrika," jelas Menpora. Perlu dukungan Selain program-program yang sudah berjalan tersebut, Imam tidak memungkiri masih banyak agenda dia yang belum bisa direalisasikan. Karena itu, dia mengaku belum puas dengan kinerjanya selama satu tahun ini. "Reformasi birokrasi tidak semudah membalikkan telapak tangan. Butuh proses. Program Satu Desa Satu Lapangan Olahraga yang menjadi andalan kami untuk membangun Indonesia dari pinggiran sangat terkait dengan dukungan anggaran. Target 1.000 lapangan tahun ini pun saya belum puas. Ada lebih dari 74 ribu desa di Indonesia dan artinya secara persentase program ini masih jauh," katanya.

Demikian juga program-program di sektor kepemudaan juga masih harus ditingkatkan kualitasnya. Pemuda saat ini dihadapkan pada beragam ancaman dan tantangan, khususnya menghadapi MEA yang bakal berlaku akhir tahun ini. "Para pemuda akan kita dorong lagi ke arah yang lebih kreatif, produktif, inovatif sehingga tidak menjadi penonton di negeri sendiri. Jadi, program-program yang berjalan tahun ini, semua akan dievaluasi," tegasnya. Untuk itu, lanjut Imam, dibutuhkan dukungan semua pihak agar semua program yang dia rancang bersama pemerintah bisa diimplementasikan. Tanpa harmonisasi dari semua stakeholder, mustahil semuanya akan berjalan mulus. "Saya selalu bilang, jika kita mau berprestasi dan berbicara di panggung dunia, kita harus bersatu. Hilangkan sektarianisme dan kepentingan kelompok. Kita juga butuh peran  serta swasta lantaran anggaran negara untuk pemuda dan olahraga sangat terbatas. Demikian halnya dengan daerah. Merekalah sejatinya ujung tombak pembinaan," Imam menegaskan. “Mungkin kita tidak bisa menikmati apa yang kita rintis saat ini. Namun, semoga anak cucu kita ke depan sudah punya landasan yang kuat dan kerangka berpikir yang matang saat meniti panggung dunia," tutupnya. (R-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Admin
Berita Lainnya