Momentum Emas Menuju Perbaikan

Maggie Nuansa Mahardika
29/10/2016 05:30
Momentum Emas Menuju Perbaikan
(Ilustrasi)

SUKA atau tidak, bulu tangkis ialah salah satu cabang olahraga yang paling berjasa mengangkat nama Indonesia di tingkat dunia. Tidak mengherankan jika bulu tangkis menjadi cabang terpopuler kedua di Tanah Air setelah sepak bola.

Alhasil masyarakat pun kerap memberi perhatian sekaligus harapan yang berlebih kepada para atlet dan pengurus cabang olahraga tersebut. Tidak jarang pula para pengurus menjadi kambing hitam jika olahraga itu gagal memberi prestasi.

Faktanya, dari sekian banyak cabang yang diunggulkan, bulu tangkis memang menjadi yang paling konsisten mengibarkan bendera Merah Putih di ajang-ajang internasional.

Sebut saja di turnamen bulu tangkis tertua di dunia All England, misalnya, Indonesia memperlihatkan keperkasaan pertama kali lewat Tan Joe Hok yang menjuarainya pada 1959. Kejayaan berlanjut dengan munculnya Rudy Hartono yang melegenda karena menjuarai All England sebanyak delapan kali (1968-1976, kecuali pada 1975).

Rudy berganti Liem Swie King yang punya sederet medali All England dan kejuaraan dunia di masanya. Pada era 70-an hingga 80-an itu, di sektor ganda juga bertebaran nama-nama legenda bulu tangkis asal Indonesia, seperti Christian Hadinata, Imelda Wigoena, dan Verawaty Fajrin. Era 90-an juga masih masa keemasan bagi Indonesia.

Saat pertama kali cabang itu dipertandingkan di Olimpiade, yakni pada 1992 di Barcelona, Indonesia sukses menjadi salah satu negara yang dipandang dunia karena berhasil mengawinkan dua emas tunggal putra dan putri lewat Alan Budikusuma dan Susy Susanti.

Kejayaan di multiajang empat tahunan itu juga dilanjutkan ganda putra Ricky Soebagdja/Rexy Mainaky pada 1996 di Atlanta, Tony Gunawan/Candra Wijaya pada 2000 di Sidney, tunggal putra Taufik Hidayat pada 2004 di Athena, dan ganda putra Markis Kido/Hendra Setiawan pada 2008 di Beijing.

Di nomor beregu, Indonesia juga punya catatan baik. Indonesia merupakan negara yang paling banyak menyabet emas Piala Thomas, yakni 13 kali. Indonesia juga merupakan satu dari lima negara yang mampu menjuarai Piala Uber, di antara Tiongkok, Amerika Serikat, Jepang, dan Korea Selatan. Saat ini Indonesia menempati posisi ketiga pemegang juara Piala Uber terbanyak dengan total raihan 3 kali juara dan 7 kali runner-up.


Tidak harmonis

Namun, setelah itu kejayaan Indonesia mulai menurun. Sejak 2003, kontingen Merah Putih bahkan tidak pernah lagi merebut gelar piala beregu.

Selepas 2008, prestasi Indonesia semakin menukik. Tahun 2012 bahkan menjadi tahun kelam ditandai dengan terputusnya tradisi emas Olimpiade yang dibangun Indonesia sejak 1992.

Hal itu merupakan pukulan bagi organisasi induk, PP PBSI, yang kala itu dipimpin Djoko Santoso. Banyak kritik datang dari berbagai pihak, salah satunya menuding ketidakharmonisan antarpengurus ataupun antara pengurus pusat dan pemangku kepentingan bulu tangkis sebagai salah satu penyebab paceklik gelar. Saat itu beberapa pelatih memilih hengkang ke pelatnas karena perbedaan persepsi. Klub dan pelatnas juga seperti berjarak.

Dengan berbekal pengalaman itu, kesolidan organisasi menjadi bekal Ketua Umum PP PBSI selanjutnya, Gita Wirjawan, untuk meneruskan estafet peran vital bulu tangkis buat Indonesia.

Meski tak lepas dari kritik yang mengatakan Gita kurang merangkul pengurus daerah, kepemimpinan Gita berhasil memperbaiki kesolidan organisasi. PBSI tak lagi menjadi sarang konflik. Komunikasi dengan klub terjalin dengan baik. Misalnya saat Piala Thomas dan Uber 2013, Ketua Harian Klub Jaya Raya Imelda Wigoena dipilih menjadi manajer tim Uber untuk menjembatani pemain pelatnas dengan pemain nonpelatnas. Selain itu, terobosan sistem sponsor menjadi sistem individu diakui meningkatkan kesejahteraan atlet yang bergantung pada prestasinya. Meski demikian, kepemimpinan Gita belum berhasil juga mengenyangkan harapan Indonesia untuk bisa berprestasi di ajang beregu yang sudah tidak menyumbangkan medali emas sejak memenangi Piala Thomas 2002. Ada juga beberapa gelar bergengsi yang terlewat seperti kejuaraan dunia. Keberhasilan Gita baru kembali diakui saat ganda campuran Indonesia Tontowi Ahmad/Liliyana Natsir berhasil menggondol emas Olimpiade 2016 di Rio de Janeiro, Brasil. Emas itu sangat berarti karena merupakan momentum kebangkitan bulu tangkis Indonesia, saat tradisi emas kembali.

"Emas Olimpiade yang kami hasilkan sekarang ini juga merupakan fondasi yang sudah ditanamkan pengurus-pengurus terdahulu, termasuk Pak Djoko. Saya juga tentunya ingin membangun dan berharap siapa pun penerusnya nanti bisa melanjutkan apa yang bagus dan memperbaiki yang tidak bagus," kata Gita.

Verifikasi calon

Masa bakti Gita berakhir pada akhir Oktober tahun ini. PBSI mengadakan musyawarah nasional (munas) pada 30 Oktober-1 November untuk menentukan pemimpin PP PBSI untuk empat tahun ke depan.

Jika Gita berjanji lebih merangkul pengurus daerah, Wiranto berjanji meningkatkan prestasi bulu tangkis dengan bekal pengalamannya di tiga induk organisasi olahraga. Wiranto pernah menjadi pemimpin PB Gabungan Bridge Seluruh Indonesia (Gabsi), PB Federasi Olahraga Karate-do Indonesia (FORKI), dan PB Taekwondo Indonesia (TI). Tepat pada 27 Oktober pukul 17.00 WIB, periode pendaftaran calon Ketua Umum PP PBSI periode 2016-2020 telah resmi berakhir sejak dibuka mulai 15 Oktober lalu. Hingga kini, baru ada dua nama yang resmi mendaftarkan diri, yaitu Gita sebagai petahana dan Menko Polhukam Wiranto. Keduanya sama-sama mengklaim didukung 18 Pengurus Provinsi PBSI.

Setelah pendaftaran ditutup, berkas pendaftaran kedua calon akan mulai diverifikasi tim penjaringan yang diketuai Fuad Basya. Dituturkan Fuad, proses verifikasi akan berlangsung pada 28-30 Oktober.

"Sementara ini kedua calon memiliki jumlah dukungan yang sama, yaitu 18 suara pengurus provinsi. Berarti ada yang dobel? Iya memang ada yang dobel karena jumlah pengrov hanya ada 34. Dalam verifikasi awal, sudah akan ada hal-hal yang perlu disampaikan kepada pendaftar, misalnya ada persyaratan yang kurang.

Contohnya surat dukungan pengurus provinsi yang hanya ditandatangani sekretaris umum, bukan ketua umum pengprov yang bersangkutan. Kemudian akan kami tanyakan apakah ini bisa diperbaiki, istilahnya administrasinya harus disempurnakan lagi," tambah Fuad.

Seusai verifikasi awal, tim penjaringan akan menentukan berapa jumlah suara yang valid, berapa yang tidak valid. Hal itu bakal ditentukan tim penjaringan pada 30 atau 31 Oktober.

Hasil laporan tim penjaringan kemudian secara resmi akan dipaparkan di hadapan forum peserta Munas PBSI.

"Tim penjaringan tidak berhak menentukan siapa yang lolos dan siapa yang tidak lolos. Kami hanya melihat administrasinya, apakah ada yang kurang dari pendaftar. Nanti keputusan akan diambil ketua sidang munas," tutur Fuad. (BWF/R-3)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Msyaifullah
Berita Lainnya