Kepelatihan belum Pakai Sains Olahraga

Rul/R-3
13/8/2016 05:51
Kepelatihan belum Pakai Sains Olahraga
()

SATUAN Pelaksana Program Indonesia Emas (Satlak Prima) menilai pencapaian atlet Indonesia yang bertanding di Olimpiade Rio 2016 tidak optimal.

Hal itu buntut dari belum diterapkannya sains olahraga (sport science) yang sejatinya bisa mendongkrak performa para olahragawan.

"Prestasi kita di Olimpiade seharusnya bisa lebih baik. Syaratnya ke depan harus dengan menerapkan sains olahraga pada proses kepelatihan tinggi," sebut Wakil Ketua Satlak Prima Lukman Niode kepada Media Indonesia di Jakarta, kemarin.

Lukman mencontohkan performa kontingen angkat besi 'Merah Putih' di Olimpiade.

Kendati berhasil merebut dua perak dari Sri Wahyuni di kelas 48 kg dan Eko Yuli Irawan di kelas 62 kg, sejatinya mereka memiliki peluang besar untuk mendapatkan emas.

Raihan dua emas dari angkat besi itu memang sudah ditargetkan sebelumnya.

Tidak diterapkannya sains olahraga di pemusatan latihan, lanjut Lukman, menjadi biang gagalnya tim angkat besi mencapai target.

Dia mencontohkan, ke-pelatihan teknis atlet Indonesia mungkin sudah optimal.

Namun, performa para atlet masih bisa didongkrak jika didukung tenaga fisioterapi, ahli gizi, ahli kebugaran, dokter olahraga, dan sebagainya.

"Sayangnya kita belum memiliki tenaga dukungan tersebut karena masih kekurangan biaya," sebut dia.

Menurut dia, untuk menegakkan pelatihan dengan sains olahraga dibutuhkan biaya yang cukup besar.

Lukman menaksir biayanya diperkirakan Rp4,5 miliar-Rp5 miliar per atlet setiap tahunnya.

Karena biayanya yang cukup besar, pemberian sains olahraga seyogianya diberikan lebih selektif, yakni kepada atlet yang berpotensi meraih medali.

Menurut pandangannya, setidaknya ada 17 cabang olahraga yang perlu diberikan prioritas, antara lain bulu tangkis, angkat besi, atletik, panahan, wushu, judo, karate, dan paralayang.

Jika hal itu sudah diterapkan, niscaya posisi 10 besar Olimpiade bisa diraih kontingen 'Merah Putih' di perhelatan mendatang.



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya