Jaminan Kesejahteraan bagi Atlet Berprestasi

Nurul Fadillah
13/8/2016 04:15
Jaminan Kesejahteraan bagi Atlet Berprestasi
(AP)

RASA bangga tergambar jelas di wajah lifter putra Indonesia, Eko Yuli Irawan, tatkala meraih medali kedua bagi kontingen Merah Putih di ajang Olimpiade Rio de Janeiro, Brasil, 2016.

Anak bangsa asal Lampung itu berhasil menyumbangkan medali perak saat berlaga di kelas 62 kg putra, Selasa (9/8) lalu.

Medali itu menjadi pencapaian prestasi yang gemilang bagi Eko.

Dua periode Olimpiade sebelumnya, atlet berusia 27 tahun itu hanya membawa oleh-oleh medali perunggu, yakni saat bertarung di Olimpiade Beijing 2008 dan Olimpiade London 2012.

"Harapan ke depan yang pasti bisa lebih baik lagi daripada Olimpiade 2016 ini. Yang pasti cita-cita saya ialah emas Olimpiade dan itulah motivasi saya pada Olimpiade 2020 nanti. Mudah-mudahan kami bisa dipersiapkan dalam pembinaan jangka panjang," kata Eko Yuli dalam pesan singkat kepada Media Indonesia.

Dengan ini, cabang olahraga (cabor) angkat besi berhasil mengawinkan medali perak karena satu medali telah terlebih dahulu dibawa pulang oleh lifter putri, Sri Wahyuni, dari kelas 48 kg yang tampil perdana, Minggu (7/8).

Menjadi pencetak prestasi di ajang Olimpiade tentu bukanlah hal mudah.

Diperlukan kerja keras selama bertahun-tahun untuk mencapai performa yang maksimal.

Pencapaian prestasi mereka di Olimpiade pun menjadi hal yang patut dihargai bangsa Indonesia karena atlet merupakan pejuang bangsa yang membawa nama baik Indonesia di hadapan publik dunia.

Lima kali lipat

Pemerintah Indonesia pun sadar akan hal itu dan telah menyiapkan bonus besar bagi para peraih medali di Olimpiade Rio.

Sebagai peraih perak, Yuni dan Eko akan diganjar dengan bonus masing-masing Rp2 miliar.

Tak tanggung-tanggung, jumlah itu bahkan lebih besar daripada nominal yang diterima peraih medali emas Olimpiade 2008 Beijing, yakni ganda putra bulu tangkis Markis Kido/Hendra Setiawan senilai Rp1,5 miliar (naik dari Rp1 miliar karena mereka berpasangan).

Di multiajang dunia empat tahunan itu kali ini, pemerintah memang menerapkan kenaikan bonus signifikan bagi para peraih medali.

Hal tersebut dinilai wajar karena skuat Tanah Air pulang tanpa medali emas pada Olimpiade London 2012.

Tak tanggung-tanggung, kenaikannya mencapai lima kali lipat.

Jika di London 2012 para peraih medali emas dijanjikan ganjaran Rp1 miliar, kini atlet Indonesia yang meraih podium utama akan mendapatkan bonus hingga Rp5 miliar.

Peraih medali perak yang sebelumnya 'hanya' diganjar dengan bonus Rp400 juta pun kini akan mengantongi uang tunai hingga Rp2 miliar.

Sementara itu, peraih medali perunggu yang sebelumnya hanya mendapatkan Rp200 juta kini akan mendapatkan bonus yang mencapai Rp1 miliar.

"Pemerintah ingin sungguh-sungguh menghormati dan memberikan penghargaan kepada para atlet. Kami berharap kepada seluruh masyarakat Indonesia untuk mendoakan dan memberikan semangat agar Sang Saka Merah Putih berkibar di Brasil," kata Menteri Pemuda dan Olahraga Imam Nahrawi.

Bentuk apresiasi itu disambut baik oleh Yuni dan Eko. Yuni menolak berkomentar mau diapakan uang sebanyak itu.

Namun, Eko Yuli rupanya sudah punya rencana meski kini masih berada di Brasil.

"Saya merasa sangat senang dengan bentuk apresiasi dari Kemenpora itu. Saya akan menggunakannya untuk tabungan dan membantu orangtua dan mertua saya untuk pergi haji," sambung Eko Yuli dalam pesan singkat.

Deputi IV Bidang Peningkatan Prestasi Olahraga Kemenpora, Gatot S Dewa Broto, mengatakan bonus yang akan diterima Eko dan Yuni akan diserahkan setelah Olimpiade dan Paralimpiade Rio 2016 berakhir.

Bonus akan langsung diberikan melalui rekening bank tiap-tiap atlet setelah verifikasi berkas selesai dilakukan.

"Setelah mereka pulang, kami lakukan pendataan, kemudian dipastikan datanya, baru kemudian dikucurkan ke rekening tiap-tiap atlet. Kami menunggu Paralimpiade selesai agar bisa cair bersama-sama karena saat ini kan jumlah bonus yang diterima sama antara olympian dan paralympian," kata Gatot.

Jaminan hari tua

Tak seperti Olimpiade sebelumnya, tahun ini pemerintah melakukan terobosan dalam hal pemberian apresiasi bagi atlet berprestasi.

Jika biasanya atlet berprestasi hanya diberi bonus, kini para peraih medali di ajang Olimpiade dan Paralimpiade juga bisa menjalani hidup berkecukupan karena pemerintah menyediakan jaminan hari tua berupa dana kesejahteraan hari tua (DKHT) yang mulai diberikan tahun ini.

Jaminan hari tua itu diberikan kepada peraih medali Olimpiade dan Paralimpiade dengan besaran Rp20 juta/bulan bagi peraih medali emas, Rp15 juta/bulan bagi peraih medali perak, dan Rp10 juta/bulan bagi peraih medali perunggu.

Jaminan hari tua itu baru diberikan kepada atlet setelah ia pensiun.

Menpora Imam menegaskan dana itu akan diakumulasikan setiap tahun sehingga atlet bukan menerimanya dalam hitungan bulan.

"Jadi, (DKHT) akan diberikan per tahun. Peraih medali emas akan mendapat Rp240 juta per tahun, perak mendapat Rp180 juta per tahun, sedangkan perunggu Rp120 juta per tahun," katanya.

Gatot menjelaskan semua atlet peraih medali pada ajang Olimpiade dan Paraimpiade berhak atas tunjangan hari tua itu sampai akhir hayatnya selama masih memegang kewarganegaraan Indonesia.

Untuk tahun ini, pemerintah menganggarkan Rp60 miliar untuk DKHT.

Hingga Olimpiade London 2012, tercatat sudah 27 medali yang dikumpulkan atlet Indonesia di ajang Olimpiade.

Medali itu terdiri atas 6 emas, 10 perak, dan 11 perunggu.

Namun, ada satu peraih medali perak Indonesia yang tidak akan mendapatkan jaminan hari tua.

Dia Mia Audina yang meraih medali di Olimpiade Atlanta 1996 karena telah berpindah kewarganegaraan menjadi warga negara Belanda.

Langkah pemerintah menganggarkan jaminan hari tua untuk para atlet diapresiasi Susi Susanti.

Peraih medali emas Olimpiade 1992 di Barcelona dari cabang olahraga bulu tangkis nomor tunggal putri itu berharap hal tersebut bisa menjadi motivasi untuk generasi muda mendatang agar mau jadi atlet.

"Kalau nasib atlet menyedihkan, nanti siapa yang mau jadi atlet? Kalau ada jaminan dan reward kan orang akan termotivasi untuk menjadi atlet dan membela negaranya," kata Susi.

"Sekarang pemerintah sudah mengeluarkan jaminan hari tua untuk atlet ya, semoga itu kelak bisa dijalankan dengan baik. Prestasi harus mendapatkan reward sebagaimana di pekerjaan lainnya, apalagi kalau berprestasi di olahraga, itu sangat sulit karena harus mengalahkan ribuan bahkan jutaan orang untuk jadi juara," tandasnya.
(Gnr/Mag/R-4)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Msyaifullah
Berita Lainnya