Ketua Satlak Prima Suwarno(ANTARA/ROSA PANGGABEAN)
SATUAN Pelaksana Program Indonesia Emas (Satlak Prima) membidik 17 emas di multiajang Asian Games 2018. Tiga cabang olahraga andalan, yaitu bulu tangkis, silat, dan bridge, diharapkan masing-masing menyumbang dua medali emas.
Selain ketiga cabang tersebut, beberapa cabang lain juga diproyeksikan menyabet emas, yakni wushu, karate, gulat, judo, taekwondo, panahan, equestrian, sepeda, rowing, voli pantai, dan panjat tebing.
Demikian disampaikan Ketua Satlak Prima Suwarno, kemarin. Ia memberi catatan, target tersebut realistis jika pemerintah memberi dukungan dana yang berkesinambungan, terutama terhadap para atlet elite.
Suwarno menuturkan, meski anggaran untuk Prima naik dari tahun lalu, pihaknya tetap mengalokasikan untuk kuota 1.000 atlet. Pasalnya, ia khawatir anggaran untuk 2016 nantinya lebih kecil.
Tahun ini, Prima mendapat suntikan dana sebesar Rp645 miliar dari APBN, sedangkan tahun lalu hanya Rp250 miliar.
"Namun, kami sudah mengajukan tambahan kuota atlet kepada Menpora untuk mendapat tambahan dana. Pertimbangannya, saat ini belum tahu berapa anggaran 2016. Kalau misalnya kami masukkan atlet tambahan, khawatir Januari mendatang anggaran kurang dan harus diberhentikan," jelas Suwarno.
Sebagai konsekuensi, Satlak Prima tak menyertakan beberapa cabang tim untuk menjaga kuota tersebut. Cabang tim dianggap memakan banyak kuota, tapi tak menunjukkan prestasi yang mumpuni.
"Mau tak mau kami harus menentukan prioritas dan cabang permainan (terutama yang timnya berisi banyak pemain) merupakan cabang ketiga yang menjadi prioritas kami. Bila di 2016 masih tetap mendapatkan dukungan dana, kami akan memasukan cabang-cabang itu untuk pelatnas," katanya.
Tidak setuju Di lain pihak, pelatih tim basket nasional Firctor Gideon Roring tak setuju dengan keputusan Prima untuk tidak memasukkan cabang basket dan permainan lainnya di pelatnas. Menurutnya, meski memiliki liga nasional sendiri, para atlet tim nasional tetap butuh pelatnas sebagai wadah mengasah kekompakan. Di liga nasional, tentunya para pemain nasional tersebar di klub masing-masing, bukan sebagai tim nasional.
"Sayang sekali, karena SEA Games 2015 lalu merupakan kebangkitan tim basket Indonesia. Kami menyumbang perak dari putra dan putri," ungkapnya. Sementara itu, Deputi IV Bidang Peningkatan Prestasi Olahraga Kementerian Pemuda dan Olahraga Djoko Pekik mengatakan dana pembuminaan tahun ini mencukupi jika menggunakan prioritas. "Kami akan fasilitasi ke mana pun mereka mau. Tentu yang prioritas ialah yang ikut Olimpiade karena ujungnya untuk Asian Games 2018 juga," katanya.
Pihaknya telah menetapkan 12 cabang olahraga yang diproyeksikan untuk Olimpiade 2016 Rio de Janeiro dari sebelumnya yang hanya sembilan cabang. Kedua belas cabang itu ialah bulu tangkis, atletik, rowing, kano, voli pantai, sepeda (disiplin BMX), taekwondo, angkat besi, panahan, berkuda, judo, dan tinju.
Pada bagian lain, Pengurus Pusat Persatuan Tinju Amatir Indonesia (PP Pertina) sedang mempersiapkan para atlet tinju amatir untuk kualifikasi Olimpiade Rio de Janeiro 2016, khususnya untuk kategori putri. Pelatih pelatnas tinju, Adi Suwandana, mengatakan sulit menemukan petinju putri di Indonesia. Berbeda dengan petinju putri Asia lainnya yang semakin berkembang dan selalu mempunyai bibit baru setiap tahunnya.
"Di Asia, tinju putri sudah berkembang, tapi tidak di sini. Mencari petinju putri di Indonesia susah." (*/R-4)