Mengembalikan Tradisi yang Hilang

Ghani Nurcahyadi
30/7/2016 00:30
Mengembalikan Tradisi yang Hilang
()

TUGAS berat sudah menanti 28 atlet Indonesia yang akan berlaga di Olimpiade Rio de Janeiro, Brasil, 5-21 Agustus nanti. Mereka diberi tugas mengembalikan tradisi emas Indonesia yang terputus di Olimpiade London, Inggris, empat tahun silam. Hal itu tentu tidak muda, apalagi kontingen Indonesia hanya akan tampil pada 7 cabang olahraga di pesta olahraga terbesar sejagat itu. Lagu Indonesia Raya yang selalu berkumandang di multiajang olahraga empat tahunan itu memang tak terdengar sekali pun di London. Padahal, sejak Olimpiade Barcelona, Spanyol, 1992, minimal lagu kebangsaan yang diciptakan WR Supratman itu selalu berkumandang di arena Olimpiade. Tak pelak, kegagalan di London menjadi salah satu titik kemunduran prestasi olahraga Indonesia. Kini, dengan diwakili tujuh cabang olahraga, yaitu bulu tangkis, angkat besi, panahan, dayung, renang, atletik, dan balap sepeda, Indonesia diharapkan bisa kembali mengumandangkan Indonesia Raya di arena Olimpiade.

Bulu tangkis dan angkat besi digadang-gadang akan menjadi cabang olahraga (cabor) yang mengembalikan tradisi emas Indonesia. "Saya yakin apa yang kita lakukan dan usahakan tidak akan ada yang sia-sia. Seorang atlet harus percaya kepada dirinya sendiri bahwa Indonesia pasti mampu meraih emas dan menjadi juara. Tentu kita semua saling mendoakan," kata Menteri Pemuda dan Olahraga Imam Nahrawi saat mengukuhkan kontingen Indonesia di kompleks Kemenpora, Jakarta, Rabu (21/6). Imam yang rajin menyambangi pelatnas juga direncanakan akan memberikan dukungan moral secara langsung kepada atlet Indonesia di arena Olimpiade dengan hadir di Rio de Janeiro. Menteri asal Partai Kebangkitan Bangsa itu direncanakan akan menyaksikan secara langsung perjuangan para atlet.

Berbagai upaya
Segala upaya memang telah dilakukan pemerintah agar bisa mengembalikan tradisi yang hilang itu. Melalui Satuan Pelaksana Program Indonesia Emas (Satlak Prima), pemerintah juga mendatangkan sejumlah ahli ilmu pengetahuan dan teknologi olahraga (sport science). Salah satunya praktisi sport science asal Australia, Stephen Bird. Ketua Satlak Prima, Achmad Soetjipto, mengatakan kehadiran Bird dalam kontingen sangat penting karena ilmuwan asal Cairns itu mengerti metode pemulihan atlet yang benar dalam puncak performa mereka. "Kebugaran atlet yang didapat dari pemulihan pascabertanding sangat penting bagi prestasi atlet. Bird dan Prima bertanggung jawab atas performa atlet di Olimpiade." Di samping faktor internal, sejumlah faktor eksternal, seperti kondisi keamanan di Brasil dan merebaknya wabah virus zika, juga menjadi salah satu perhatian utama pemenuhan target tradisi medali emas. Namun, Komandan Kontingen (CdM) Indonesia, Raja Sapta Oktohari, yakin kondisi itu tidak akan mengganggu performa tim Indonesia.

"Kami terus berkoordinasi dengan pihak Kedutaan Besar Republik Indonesia di Brasil dan terus memantau situasi di sana. Kami datang ke Olimpiade untuk menjemput emas dan telah melakukan sejumlah langkah antisipasi untuk mengatasi sejumlah situasi yang akan dihadapi d Brasil nanti," kata Okto saat akan bertolak ke Rio de Janeiro, Brasil, Rabu (27/7). Kontingen Indonesia seluruhnya akan berjumlah 49 orang yang terdiri atas 28 atlet, 19 ofisial teknis, dan 12 ofisial nonteknis. Tidak semua personel kontingen berangkat bersama pada 27 Juli. Sejumlah cabor bertolak ke Rio melalui tempat training camp (latihan terpusat) masing-masing, di antaranya angkat besi dari Cape Town, Afrika Selatan, dan dayung yang bertolak dari Amsterdam, Belanda.

Bonus besar
Keinginan untuk kembali mengumandangkan lagu kebangsaan Indonesia Raya di arena Olimpiade juga didukung dengan penyiapan bonus bagi atlet yang meraih medali. Nominal bonus yang disiapkan itu bahkan naik lima kali lipat daripada bonus ajang serupa, empat tahun silam, di London, Inggris. Untuk peraih medali emas, pemerintah akan mengganjarnya dengan Rp5 miliar, sebelumnya Rp1 Miliar. Peraih perak akan mendapat Rp2 miliar, sebelumnya Rp400 juta. Sementara itu, peraih perunggu akan mendapatkan bonus Rp1 miliar. "Kami sudah siapkan itu semua, tapi kami tidak ingin orientasi atlet untuk meraih juara itu semata-mata karena bonus. Jadi karena satu tekad masing-masing untuk memecahkan rekor dalam sejarah hidupnya. Bahwa bonus itu sesuatu yang sifatnya mendukung saja," kata Menpora Imam Nahrawi. Selain bonus langsung, peraih medali Olimpiade juga akan menerima jaminan hari tua seumur hidup.

Jaminan yang oleh pemerintah disebut dana kesejahteraan hari tua itu diberikan kepada seluruh peraih medali Olimpiade selama seumur hidup setiap bulan. Peraih emas mendapatkan Rp20 juta/bulan, peraih perak Rp15 juta/bulan, dan peraih perunggu Rp10 juta/bulan. Jaminan hari tua juga berlaku bagi peraih medali pada Olimpiade sebelumnya. Bila dijumlahkan, setidaknya sudah 27 medali yang dikumpulkan kontingen Indonesia di ajang Olimpiade sejak pertama kali mendapatkannya melalui cabang olahraga panahan di Olimpiade Seoul, Korea Selatan, 1988. Wakil Ketua Umum Komite Olimpiade Indonesia, Muddai Madang, mengapresiasi langkah yang dilakukan pemerintah Indonesia dalam menyiapkan jaminan hari tua itu. "Ini artinya negara sudah menjamin kehidupan atlet berprestasi sehingga atlet bisa fokus untuk meningkatkan prestasinya saja," tegas Muddai.
(Rul/Mag/R-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Dedy P
Berita Lainnya