Skandal Doping,Rusia hanya Sisakan Celah Sempit

Maggie Nuansa Mahardika
23/7/2016 00:30
Skandal Doping,Rusia hanya Sisakan Celah Sempit
(AFP / THOMAS SAINT-CRICQ)

RUSIA hanya punya kesempatan sebesar lubang jarum untuk bisa membuat 67 atlet di cabang atletik tampil di multiajang olahraga Olimpiade 2016 Rio de Janeiro yang akan dimulai pada 5 Agustus mendatang. Komite Arbitrase Olahraga (CAS) yang berbasis di Swiss, Kamis (21/7), sudah menolak upaya banding pemerintah Rusia agar atlet mereka bisa tampil di Rio sesudah Badan Antidoping Dunia (WADA) mengumumkan hasil penyelidikan independen tentang adanya dugaan pemakaian doping oleh atlet Rusia yang didukung pemerintah.

menolak banding itu dengan merujuk pada peraturan Federasi Atletik Internasional (IAAF). Pemakaian doping diduga meluas, termasuk pada atlet cabang atletik.
IAAF merupakan pihak pertama yang menyatakan larangan resmi bagi para atlet cabang olahraga atletik dari Rusia untuk berpartisipasi di Olimpiade. IAAF menyatakan pelarangan itu sejak laporan WADA dipublikasikan pada November 2015 lalu. Beberapa federasi internasional cabang olahraga lain, seperti Federasi Angkat Besi Internasional (IWF) dan Federasi Sepak Bola Internasional (FIFA), dikabarkan tengah berencana melakukan hal serupa. Apalagi, WADA secara resmi merekomendasikan Komite Olimpiade Internasional (IOC) untuk mencoret semua atlet Rusia dari daftar peserta Olimpiade. IOC pada Juni lalu menyatakan dukungan mereka pada IAAF. Namun, hingga saat ini, IOC masih belum memutuskan sikap secara resmi terhadap rekomendasi WADA.

Presiden IAAF, Sebastian Coe, menuturkan CAS memberikan hak kepada IAAF untuk menegakkan peraturan guna melindungi atlet yang bersih dan mendukung kredibilitas serta integritas kompetisi. "Saya bukan ingin menyetop atlet dari kompetisi. Ini sudah aturan federasi kami, bukan pengecualian," katanya. Meski demikian, pernyataan resmi IAAF menyebutkan atlet Rusia bisa bertanding untuk cabang atletik di Rio jika memenuhi persyaratan tertentu, termasuk menjalani tes doping di luar negara mereka hingga dinyatakan bersih oleh pihak yang netral. Dalam menanggapi keputusan IAAF dan CAS itu, Menteri Olahraga Rusia, Vitaly Mutko, mengatakan keputusan itu tidak memiliki landasan hukum. Dia menyebut IAAF tidak adil. Mutko juga mengecam hukuman kolektif dan menegaskan Rusia tidak akan membiarkan hal itu terjadi. Presiden Rusia Vladimir Putin juga berang atas rekomendasi WADA kepada IOC. Ia menyatakan larangan secara keseluruhan atlet melanggar dasar hukum.

Menurutnya, kasus tersebut merupakan tanggung jawab perseorangan. Kini, upaya hukum lain yang masih bisa dilakukan Rusia ialah mengajukan banding atas keputusan CAS ke Pengadilan Federal Swiss. Pelarangan bertanding yang dijatuhkan IAAF kepada para atlet Rusia juga mengundang keprihatinan para atlet dunia. Pelari papan atas dunia asal Jamaika, Usain Bolt, mengatakan dirinya sedih mendengar pernyataan CAS. "Namun, peraturan tetaplah peraturan. Tentu saja menimbulkan ketakutan, tapi ini merupakan pesan yang sangat kuat bagi para atlet lainnya," ujar peraih tiga medali emas Olimpiade 2008 Beijing sekaligus pemegang rekor dunia saat ini di nomor 100 meter dan 200 meter putra itu.

Berawal dari Sochi
Sebuah laporan independen ialah yang melatarbelakangi semua itu. Laporan independen itu dibuat seorang pakar hukum olahraga asal Kanada, Profesor Richard McLaren. McLaren menyebut pihaknya menemukan bukti yang kuat bahwa pemerintah Rusia mendukung doping untuk semua atlet pada Olimpiade Musim Dingin Sochi 2014. Bukti-bukti menunjukkan adanya upaya untuk menutup-nutupi pemakaian doping yang dikoordinasi Pusat Persiapan Olahraga Rusia. Ada indikasi atlet-atlet juga diinstruksikan bagaimana memanipulasi uji urine. Penyelidikan itu berawal dari pengakuan mantan Ketua Laboratorium Nasional Antidoping Rusia, Grigory Rodchenkov. Rodchenkov mengaku memberikan doping kepada belasan atlet Rusia sebelum Olimpiade Sochi. Presiden WADA, Sir Craig Reedie, menuturkan, dirinya belum pernah mendapatkan laporan seperti itu sebelumnya. "Saya tidak pernah mendapat laporan seperti ini, bahwa ada indikasi pemerintah suatu negara, melakukan kerja sama dengan laboratorium untuk memanipulasi hasil demi mendukung para atlet. Ini akan menjadi tantangan untuk sistem antidoping. Orang-orang bilang sistem antidoping kami tak berjalan untuk hal ini," katanya.

Mendesak IOC
Sejumlah 14 lembaga antidoping nasional, termasuk Amerika Serikat, Kanada, dan Jerman, mengirimkan surat bersama kepada Presiden IOC, Thomas Bach, dan berseru melarang semua atlet Rusia tampil di Rio. "Kami percaya adalah tepat dan diperlukan bagi IOC untuk mengambil tindakan tegas sebagai upaya menegakkan Piagam Olimpiade dan integritas Olimpiade," demikian surat yang di-posting di laman Pusat Antidoping Kanada, Canadian Centre, untuk etika dalam olahraga. Lembaga itu menyerukan pembentukan sebuah task force yang akan menerapkan satu kriteria untuk menentukan apakah atlet Rusia secara individu diizinkan untuk berpartisipasi ke Olimpiade Rio. Salah satu syaratnya, mereka tidak mengusung bendera negara, alias berstatus 'netral'.

Lembaga antidoping lain yang menandatangani surat tersebut ialah Austria, Denmark, Mesir, Finlandia, Jepang, Belanda, Selandia Baru, Norwegia, Spanyol, Swedia, dan Swiss. IOC seperti berpacu dengan waktu karena gelaran akbar dunia empat tahunan itu akan dilakukan dalam hitungan hari. IOC bakal memutuskan peran Rusia pada persaingan di Rio, 5 Agustus hingga 21 Agustus mendatang. Olimpiade tahun ini harus bersiap tanpa ada peran atlet Rusia. (AFP/Fox Sports/R-1)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Dedy P
Berita Lainnya