Headline
Surya Paloh tegaskan Partai NasDem akan lapang dada melakukan transformasi regenerasi.
Surya Paloh tegaskan Partai NasDem akan lapang dada melakukan transformasi regenerasi.
Kumpulan Berita DPR RI
KOMPETISI di negara-negara Eropa belum lagi dimulai. Namun, perburuan pemain dari sejumlah klub untuk menghadapi kompetisi sudah mencuat. Uniknya, perburuan pemain bintang itu tak hanya terjadi di Eropa, tapi juga di Tiongkok. Bahkan, ketimbang di 'Benua Biru', transfer pemain di Liga Super Tiongkok (CSL) jauh lebih jorjoran. Hal itu seperti meneruskan tren yang mereka lakukan musim lalu. Striker tim nasional Italia, Graziano Pelle, misalnya.
Ia dipastikan akan bergabung bersama megabintang Cristiano Ronaldo (Real Madrid) dan Lionel Messi (Barcelona) sebagai salah satu pemain sepak bola dengan bayaran tertinggi di dunia. Hal tersebut menyusul kepindahan striker yang 15 Juli nanti menginjak usia 31 tahun itu dari Southampton ke klub Liga Super Tiongkok, Shandong Luneng. Pelle akan menjadi pesepak bola nomor lima dengan bayaran termahal di dunia menyamai bayaran yang diterima striker baru Manchester United, Zlatan Ibrahimovic, yakni 260 ribu pound sterling (Rp4,51 miliar) per pekan.
Ia berada di bawah Ronaldo, Messi, Hulk, dan Neymar sebagai pesepak bola dengan gaji termahal di dunia. Nilai transfer Pelle yang mencetak 30 gol dari 81 penampilannya bersama Soton dua musim terakhir memang belum diumumkan secara resmi. Namun, seperti diwartakan The Guardian, sejumlah media internasional menyebut Shandong yang kini dilatih mantan pelatih Bayern Muenchen Felix Magath mau menggelontorkan dana hingga 13 juta pound (Rp225 miliar).
Itu artinya Soton meraup untung 5 juta pound karena saat memboyong Pelle dari Feyenord, mereka hanya membayar 8 juta pound. "Semua orang di Southampton berterima kasih kepada Graziano atas kerja keras yang telah ia lakukan di St Mary (stadion Soton) dan berharap dia memiliki masa depan yang baik," demikian pernyataan resmi Southampton yang melepas kepergian pencetak dua gol untuk Gli Azzurri di Piala Eropa 2016 Prancis itu.
Pelle menjadi pemain di luar Asia keenam yang membela Shandong musim ini. Selain Pelle, klub yang bermarkas di Stadion Jinan Olympic Sports Center, Jinan, Tiongkok, itu juga diperkuat Papiss Cisse (Senegal), Diego Tardelli, Jucilei, Gil (Brasil), dan Walter Montillo (Argentina). Kedatangan Pelle ke Shandong diharapkan mampu mengangkat posisi klub yang saat ini sedang berjuang keluar dari zona degradasi Liga Super Tiongkok.
Kedatangan Pelle di Jinan, Selasa (12/7), bersama kekasihnya yang merupakan model asal Hongaria, Viktoria Varga, disambut meriah fan Shandong Luneng. Kepindahan Pelle ke Shandong tergolong mengejutkan mengingat ia sebelumnya diisukan didekati Chelsea dan Everton. Keputusan Pelle pindah ke Liga Super Tiongkok kini membuat 'Negeri Tirai Bambu' sebagai magnet pesepak bola dunia. Sebelum Pelle, sejumlah pemain juga memutuskan pindah ke negeri itu dengan nilai transfer besar. Mereka antara lain Jackson Martinez, Ezequiel Lavezzi, dan Ramires.
Kepentingan politik
Kemajuan ekonomi Tiongkok dalam beberapa tahun terakhir yang membuat negara itu dinobatkan sebagai salah satu raksasa dunia tidak dimungkiri memang membuat mereka bisa melakukan segalanya. Musim lalu, klub-klub Chinese Super League (CSL) bahkan berani mengeluarkan dana lebih dari 259 juta euro atau senilai Rp3,9 triliun untuk merekrut pemain. Jumlah tersebut juga melebihi total belanja pemain klub-klub Liga Primer Inggris pada musim dingin ini yang 'hanya' 247 euro (Rp3,7 triliun). Bukan tanpa sebab tentu klub-klub Tiongkok berani menggelontorkan dana melimpah untuk merekrut pemain bintang.
Selain berambisi menjadi kiblat baru sepak bola dunia, 'Negeri Tirai Bambu' juga ingin meredam dominasi Eropa sekaligus menjuarai Piala Dunia. Namun, di mata sejumlah pihak, langkah para pemilik klub CSL itu bukan semata-mata kecintaan mereka membangun sepak bola. Namun, itu hanya lebih kepada kepentingan kekuasaan politik semata. Terbukti dengan pembelian mereka yang kadang tidak mempertimbangkan kualitas pemain. "Alasan para miliarder Tiongkok berinvestasi di sepak bola karena ingin membangun modal politik di saat yang tidak menentu seperti saat ini," ungkap penulis sekaligus pengamat sepak bola Tiongkok, Rowan Simons.
Belanja berlebihan para pengusaha kaya pemilik klub-klub CSL itu muncul setelah ada pernyataan Partai Komunis yang berkuasa tentang pentingnya sepak bola yang merupakan bagian dari mimpi Tiongkok. Pernyataan itu selaras dengan pernyataan Presiden Xi Jinping yang menyebut impiannya menjadi tuan rumah Piala Dunia dan memenanginya suatu saat nanti.
Guncang Eropa
Terlepas dari motif klub-klub CLS tersebut, faktanya tidak sedikit juga para manajer klub yang terkaget-kaget dengan ambisi Tiongkok tersebut. Salah satunnya pelatih Arsenal, Arsene Wenger. Menurut juru taktik asal Prancis tersebut, dengan kekuatan ekonomi Tiongkok saat ini, mereka bisa saja memindahkan Liga Primer atau La Liga, atau Bundesliga, ke negeri tersebut. Namun, ia ragu kondisi itu akan berjalan dalam jangka panjang. "Tidak dimungkiri bahwa dengan kekuatan finansial yang dimiliki Tiongkok saat ini, mereka bisa memindahkan kompetisi-kompetisi besar di Eropa. Kalau kita ingat Jepang, mereka juga pernah melakukan hal yang sama dengan Tiongkok. Tapi apa yang terjadi kemudian, Jepang lebih memilih mengembangkan pemain lokal ketimbang merekrut pemain bintang," ujar Wenger.
Hal senada disampaikan pengamat olahraga Tiongkok dari Universitas Lausanne Swiss, Gao Zhaoyu. Menurut dia, pembelian pemain asing yang terlalu boros dengan gaji selangit tidak sejalan dengan peningkatan mutu pemain nasional dan itu menyebabkan ketimpangan. "Beberapa klub Eropa mengalami kondisi finansial yang tidak stabil. Tentu mereka harus menjual pemain ke klub besar termasuk klub-klub di Tiongkok," jelas Gao Zhaoyu. (Berbagai sumber/Sat/R-2)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved