PENEGAK hukum Singapura memberikan contoh bagaimana semestinya memerangi mafia sepak bola. Tak perlu menunggu waktu sampai dua bulan, mereka sudah bisa menghukum mantan wasit Indonesia, Nasiruddin, selama 30 bulan dalam kasus pengaturan skor pertandingan SEA Games. Nasiruddin, 52, yang ditangkap pada 29 Mei lalu, dihukum lantaran terbukti berkonspirasi dengan Rajendran R Kurusamy (Singapura) dan pemain Timor Leste Moises Natalino de Jesus untuk menyuap Direktur Teknik Timnas Timor Leste Orlando Marques Henriques Mendes.
Iming-iming suap itu diajukan agar Timor Leste mengalah saat menghadapi Malaysia pada laga pertama Grup B SEA Games di Singapura, 30 Mei 2015. Dari hasil investigasi yang dilakukan Singapore's Corrupt Practices and Investigation Bureau (CPIB) diketahui bahwa Nasiruddin menawarkan S$15 ribu atau sekitar Rp146 juta untuk ofisial tim Timor Leste.
"Itu merupakan bujukan yang sama untuk kalah dari Malaysia," sebut CPIB dalam pernyataannya, kemarin. Dalam laga tersebut Timor Leste kalah dari Malaysia dengan skor tipis 0-1. Padahal, ketika itu Malaysia bermain dengan 10 orang setelah gelandang Nazmi Faiz Mansor diganjar kartu merah.
Bukan kali ini saja Singapura tegas melawan mafia sepak bola. Sebelumnya, pada April 2013, mereka juga berhasil membongkar skandal pengaturan skor pertandingan yang melibatkan Eric Ding Si Yang. Pengusaha lokal itu diketahui mengintervensi wasit pada partai Piala AFC antara klub Singapura, Tampines Rovers, dan East Bengal dari India.
"Di Singapura kami tidak menoleransi apa pun bentuk korupsi. Tidak ada keraguan mengambil tindakan terhadap pihak yang terlibat pengaturan skor," tegas CPIB.
Sentil Polri Langkah 'kilat' penegak hukum Singapura dalam menindak aksi busuk mafia sepak bola tersebut, menurut Deputi V Bidang Harmonisasi dan Kemitraan Kemenpora Gatot S Dewa Broto, semestinya diikuti Polri. Sepak terjang mafia diyakini juga membelit persepakbolaan nasional, tetapi belum ada langkah nyata untuk memberantasnya.
Dugaan pengaturan skor di sepak bola Indonesia bahkan sudah dilaporkan ke Bareskrim Polri 16 Juni lalu oleh BS yang didampingi tim advokasi #Indonesiavsmafiabola. Namun, hingga kini belum jelas penanganannya. Gatot pun menilai Polri lambat menindaklanjuti laporan itu.
"Apalagi yang kurang? Sudah ada justice collaborator yang melapor (BS). Kami dari Kemenpora juga siap kalau dimintai keterangan, berbagai aspek pun sudah terpenuhi. Jadi, jangan salahkan jika ada anggapan masyarakat yang membandingkan proses hukum di Indonesia dan Singapura saat ini," sentilnya saat dihubungi di Jakarta, kemarin.
Gatot mendesak kasus pengaturan skor di Indonesia menjadi prioritas penanganan Polri. "Kami masih berprasangka positif karena yang diurusi kepolisian banyak. Tapi kalau masalah ini tidak juga tuntas, akan ada celah bagi mafia sepak bola untuk mengulang kejahatan yang sama."
Pengamat sepak bola Freddy Muli tidak kaget dengan lambannya proses hukum di Indonesia jika berkaitan dengan kejahatan 'si kulit bundar'. Bahkan, tidak jarang beberapa kasus dibiarkan menguap. Salah satunya ialah percobaan pengaturan skor yang melibatkan mantan pemain nasional, Johan Ibo, April silam.