Akhir Nadal di Wimbledon

MI/Widhoroso
04/7/2015 00:00
Akhir Nadal di Wimbledon
(AFP)
Empat kali secara beruntun tersingkir di babak awal Wimbledon menjadi pertanda buruk karier Nadal. Performa King of Clay makin menurun beberapa tahun terakhir. Hasil buruk kembali didapat Rafael Nadal. Mantan petenis nomor satu dunia asal Spanyol tersebut harus tersingkir lebih awal di ajang grand slam Wimbledon.

Saat menghadapi petenis nonunggulan asal Jerman Dustin Brown di babak kedua kemarin, Nadal menyerah dalam pertarungan empat set dengan skor 5-7, 6-3, 4-6, 4-6. Itu merupakan kali keempat secara beruntun Nadal harus angkat koper lebih awal di Wimbledon. Tahun lalu petenis berjuluk King of Clay itu hanya mampu bertahan hingga babak keempat. Pada 2013, Nadal bahkan sudah harus menjadi penonton di babak pertama setelah ditundukkan petenis Belgia Steve Darcis. Adapun pada 2012, Nadal juga hanya bertahan hingga babak kedua setelah disingkirkan Lukas Rosol.

Kekalahan dari Dustin yang menduduki peringkat 102 dunia dinilai menjadi isyarat masa keemasan Nadal sudah mulai memudar. Apalagi, saat ini Nadal hanya menduduki peringkat 10 dunia, peringkat terendahnya dalam satu dekade terakhir. Bagi Brown, kemenangan atas Nadal merupakan sebuah pencapaian besar. Itu merupakan kali kedua petenis yang datang ke Wimbledon dengan menggunakan mobil untuk menghemat biaya tersebut, setelah menundukkan Nadal di turnamen Halle tahun silam. Di babak ketiga, Brown akan menghadapi petenis Serbia Viktor Troicki.

Namun, Nadal menolak pendapat yang menyebut kegagalan di Wimbledon tahun ini merupakan akhir kariernya di dunia tenis. Petenis ber-usia 29 tahun itu yakin masih bisa bangkit untuk meraih kejayaan. Menurutnya, dua tahun mendatang akan menjadi masa terpenting dalam perjalanan kariernya di dunia tenis profesional. Namun, Nadal yakin masih bisa meraih prestasi bagus seperti yang dilakukan Roger Federer yang mampu memenangi Wimbledon di usia 31 tahun pada 2012 lalu. "Ini bukanlah sebuah akhir. Ini (kekalahan) memang merupakan saat yang menyedihkan bagi saya, tetapi kehidupan harus terus berlanjut. Demikian juga dengan karier saya," tegas Nadal.

Keraguan pelatih
Dengan telah tersingkir di Wimbledon, satu-satunya kesempatan Nadal untuk menambah gelar grand slam tahun ini terdapat di ajang Amerika Serikat Terbuka yang akan berlangsung September mendatang. Kegagalan di Wimbledon memang makin melangkapi hasil buruk Nadal di turnamen grand slam tahun ini. Sebelumnya di Australia Terbuka dan Prancis Terbuka, Nadal juga gagal menjadi kampiun setelah hanya mampu bertahan hingga perempat final.

Pelatih Nadal, Toni Nadal, mengakui ragu anak didiknya tersebut bisa merebut satu gelar grand slam tahun ini dengan menjadi juara di Flu-shing Meadows, arena Amerika Serikat Terbuka. "Saya ingin berpikir bahwa Rafa bisa memenangi AS Terbuka, tetapi kemungkinan kecil. Ini hari yang mengkhawatirkan," kata Toni yang merupakan paman Nadal.

Legenda tenis Amerika Serikat John McEnroe menilai prestasi buruk yang didapat Nadal dalam beberapa tahun belakangan mengharuskannya ada perombakan dalam tim sang petenis. Ia menyebut Nadal sudah harus mencari pelatih baru menggantikan Toni yang telah melatihnya sejak berumur empat tahun.



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Admin
Berita Lainnya