AMBISI Brasil untuk bangkit dan melupakan kegagalan di Piala Dunia 2014 lalu dengan berprestasi di Copa America pupus sudah.
Alih-alih menjadi kampiun, the Selecao bahkan sudah harus angkat koper di perempat final.
Paraguay-lah yang kembali menjadi mimpi buruk bagi Selecao.
Setelah empat tahun lalu di ajang yang sama kalah 0-2 lewat adu penalti, kali ini Brasil takluk 3-4 juga dengan cara yang sama, drama adu penalti.
Dalam duel yang berlangsung di Estadio Municipal Alcaldesa Ester Roa Rebolledo, Concepcion, kemarin, Selecao sebenarnya sempat unggul lebih dulu lewat gol Robinho (15').
Namun, 18 menit menjelang laga berakhir, La Albirroja menyamakan kedudukan lewat tendangan penalti Derlis Gonzalez.
Skor 1-1 itu ternyata bertahan sampai peluit panjang dibunyikan dan perpanjangan waktu 2x15 menit.
Alhasil, laga harus dituntaskan dengan adu tendangan penalti.
Dalam drama adu penalti itu, dua algojo Brasil, Ribeiro dan Douglas Costa, gagal menunaikan tugas mereka. Sebaliknya dari kubu Paraguay, hanya Roque Santa Cruz yang gagal.
"Melihat rekan setim mengeluarkan air mata, tentu itu bukanlah harga yang bisa ditukarkan dengan uang," ungkap Gonzalez.
"Tidak seorang pun memercayai kami sampai berada di sini. Namun, kami merupakan tim yang memiliki kesatuan dan kami harus memperlihatkannya di turnamen ini," lanjutnya.
Di babak semifinal, Paraguay akan kembali bertemu dengan Argentina pada Rabu (1/7).
Dalam pertemuan sebelumnya di babak penyisihan Grup B, Minggu (14/6) lalu, kedua tim berbagi angka 2-2.
Salahkan virus Pelatih Brasil Carlos Dunga berkilah bahwa penyebab kegagalan timnya ialah serangan virus misterius.
Dunga menjelaskan paling tidak terdapat 15 pemainnya yang terserang sakit kepala ataupun pegal-pegal menjelang laga melawan Paraguay.
"Saya tidak ingin mencari alasan, tapi terdapat 12 pemain kami yang terserang virus. Beberapa mengalami sakit kepala, sakit punggung, dan pegal-pegal. Ini membuat kami harus mengurangi porsi latihan. Padahal, pertandingan itu membutuhkan kecepatan dan kami tidak memilikinya," ungkap Dunga.
Namun, penjelasan Dunga tersebut malah menimbulkan kebingungan bagi beberapa punggawa Brasil.
Salah satunya bek Chelsea Filipe Luis yang menyebutkan dirinya dalam keadaan baik.
"Saya tidak tahu mengenai itu. Beberapa dari kami mungkin memiliki masalah, tapi saya tidak," jelas Luis.
Di sisi lain, kekalahan tersebut membuat Brasil kembali memperpanjang catatan buruk setelah gagal berprestasi di Piala Dunia 2014 lalu.
Setelah digunduli oleh Jerman 1-7 di semifinal, mereka kemudian takluk tiga gol tanpa balas dari Belanda pada perebutan tempat ketiga.
Bukan itu saja, kegagalan juga dinodai dengan tindakan kurang terpuji bintang mereka, Neymar.
"Selalu ada tekanan di timnas Brasil ketika anda menang atau kalah. Kami tahu sejak awal akan berjalan sulit. Kami meraih banyak kemenangan, tapi itu belum cukup membuat kami senang. Kami akan mencoba menjadi lebih baik lagi," tukas Dunga. (AP/AFP/R-4)