Titisan Puskas yang Meredup Dini

(Berbagai sumber/sat/R-2)
09/6/2016 01:00
Titisan Puskas yang Meredup Dini
(AFP PHOTO / ATTILA KISBENEDEK)

NAMA Balazs Dzsudzsak mungkin tidak setenar Lionel Messi atau Cristiano Ronaldo. Namun, diakui atau tidak, dialah bakat terbesar yang dimiliki timnas Hongaria saat ini. Saat Dzsudzsak memulai karier di klub tempat kelahirannya, Debrecen, talentanya mampu menarik minat pemandu bakat klub kenamaan asal Belanda, PSV Eindhoven. “Dia memiliki bakat yang luar biasa. Dia punya kecepatan dan kombinasi yang baik. Ia juga mampu melewati lawan dan selalu mampu menjaga bola. Jarang melihat pemain seperti dia. Ia memiliki segalanya untuk menjadi pemain sayap modern di masa depan," ujar sang pemandu bakat, Piet de Visser.

Pada 2008, Dzsudzsak pun resmi berseragam merah putih khas PSV Eindhoven. Tidak butuh waktu lama bagi pemain yang kini berusia 29 tahun itu untuk menunjukkan diri sebagai pemain kelas satu. Koleksi 55 gol dari 156 penampilannya bersama pasukan Rood-Witten--julukan PSV menjadi bukti kehebatan Dzsudzsak. Bakat besarnya itu yang membuat publik tidak ragu menyandingkannya dengan legenda sepak bola Hongaria, Ferenc Puskas, sekaligus harapan membangkitkan kembali magis the Magical Magyars. Setelah meraih segalanya, Dzsudzsak memutuskan untuk mencari pelabuhan baru untuk kariernya di musim panas 2011. Liverpool dan Juventus menjadi raksasa Eropa yang kepincut dengan talenta pemuda Hongaria itu. Namun, ia ingin mencicipi ketatnya sepak bola Spanyol.

"Akan sangat luar biasa bermain di Spanyol karena itu mimpi saya. Namun, saya menuju ke sana bukan untuk menghangatkan kursi pemain pengganti atau tidak menjadi bagian dari skuat. Tentu itu bukan pilihan yang bijak untuk pindah," ujarnya pada 2011 silam. Namun, kekuatan uang seakan membutakan mata Dzsudzsak hingga mengambil pilihan buruk dengan bergabung dengan klub kaya raya asal Rusia, Anzhi Makhachkala. Hasilnya, bakat Dzsudzsak pun meredup dini. Ia hanya bermain delapan kali selama berseragam Anzhi dalam semusim dan lebih banyak menghangatkan kursi pemain pengganti.
Meskipun demikian, Dzsudzsak masih dihargai mahal oleh Dynamo Moskow dengan klausul pelepasan 19 juta euro. Namun, harga itu terkoreksi hampir 90% dalam lima musim kiprahnya di Moskow sebelum akhirnya dibeli klub Turki, Bursaspor, dengan banderol hanya 1,6 juta euro atau senilai Rp24 miliar, pada musim panas tahun lalu.

Akan tetapi, di timnas Hongaria, Dzsudzsak tetaplah pemain penting. Ia pun dipercaya menjadi kapten tim yang diharapkan mampu mengangkat moral rekan-rekannya. “Kita mungkin tidak akan pernah mendapat kesempatan ini lagi. Tidak ada seorang pun dapat menghentikan kita! Tidak Norwegia, bahkan tim terbaik di dunia sekali pun!” teriak Dzsudzsak kepada rekan-rekannya saat berada di ruang ganti sesaat laga kedua babak play-off digelar di Budapest, November 2015 silam. Hasilnya, Hongaria berhasil menaklukkan Norwegia 2-1 dan meraih tiket ke Prancis dengan agregat 3-1. (Berbagai sumber/sat/R-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Dedy P
Berita Lainnya