Headline
Surya Paloh tegaskan Partai NasDem akan lapang dada melakukan transformasi regenerasi.
Surya Paloh tegaskan Partai NasDem akan lapang dada melakukan transformasi regenerasi.
Kumpulan Berita DPR RI
“KAMI melihat sebuah gaya bermain yang tidak pernah kami lihat sebelumnya. Tidak ada seorang pun pemain mereka yang berarti bagi kami. Kami tidak tahu tentang Puskas, tapi semua dari mereka bermain fantastis. Mereka manusia dari Mars yang jauh dari apa yang kami bayangkan,” ujar legenda sepak bola Inggris, Sir Bobby Robson, saat mendeskripsikan kekuatan sepak bola Hongaria pascalaga kedua tim pada 25 November 1953 silam. Robson dibuat ternganga dengan kedigdayaan Hongaria pascakekalahan mencolok 3-6 di Wembley Stadium yang sejatinya angker bagi lawan-lawan yang berkunjung. Laga yang diklaim sebagai match of the century itu memang menjadi salah satu dongeng kehebatan the Mighty Magyars julukan Hongaria yang dipimpin legenda sepak bola, Ferenc Puskas.
Sepak bola Hongaria berada di titik puncak keemasan pada era 30-an hingga akhir 50-an. Namun, terdapat satu dosa yang mereka buat, yakni tidak pernah mencicipi gelar Piala Dunia. Itu terdengar klise karena Hongaria kala itu memiliki modal melimpah untuk meraih status juara dunia. Hongaria melepas kesempatan meraih gelar Piala Dunia 1938 karena alasan kemanusiaan. Mereka memilih mengalah dari skuat Italia lantaran ultimatum pemimpin diktator Benito Mussolini yang akan melakukan eksekusi mati skuat Gli Azzurri jika gagal mempertahankan gelar Piala Dunia. Kesempatan kedua hadir di Piala Dunia 1954. Nama besar dan prediksi meraih gelar mudah membuat Hongaria kala itu terlena. Timnas Jerman Barat yang sempat dicukur 3-8 di babak penyisihan akhirnya keluar sebagai juara dunia setelah mengalahkan Hongaria 3-2 di partai final.
Setelah itu, kilau kebintangan Hongaria seperti tenggelam ditelan bumi. Tidak ada sisa-sisa kejayaan masa lalu yang kini diingat banyak orang di era modern. Namun, keberhasilan skuat Bernd Storck lolos ke putaran Piala Eropa 2016 setelah 44 tahun absen sedikit banyak mengubah stigma yang mengatakan Hongaria telah habis. Publik Hongaria kini pun berharap kejayaan yang telah lama hilang dapat bereinkarnasi.
Bantuan surga
Sebelumnya, mungkin hanya sedikit saja orang yang berani memprediksi Hongaria akan mampu lolos ke putaran final Piala Eropa 2016, terlebih lawan yang mereka hadapi di babak play-off ialah Norwegia. Banyak pihak yang lebih menjagokan tim Skandinavia itu untuk meraih tiket ke Prancis ketimbang Balazs Dzsudzsak dan kolega. Akan tetapi, prediksi itu berbalik 180 derajat setelah Hongaria secara mengejutkan sukses menekuk Norwegia dengan agregat skor 3-1. Menariknya, komentator televisi Istvan Hajdu yang memandu laga leg pertama babak play-off di Oslo menyebut Hongaria mendapatkan bantuan dari surga. Komentar spontan Hajdu diucapkan pascapenyerang Norwegia, Paal Andre Helland, membuang peluang setelah kesempatan emasnya terbuang sia-sia meski gawang dalam keadaan kosong di menit akhir laga.
"Baiklah, itu mungkin berkat tepisan oleh Marton Fulop karena itu adalah bantuan dari surga," tuturnya. Marton Fulop merupakan mantan kiper timnas Hongaria yang meninggal beberapa hari jelang laga itu berlangsung. Eks kiper Tottenham Hotspur itu meninggal di usia 32 tahun karena mengidap kanker. Bagi Storck, apa pun atau bagaimana orang lain menggambarkan keberhasilan timnya bukanlah perkara penting. Yang pasti ia menilai tim asuhannya pantas menjadi bagian di Piala Eropa kali ini. “Level dan intensitas bermain para pemain sungguh luar biasa hari ini. Kami 100% pantas melaju ke Prancis," ujarnya. (Berbagai sumber/R-2)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved