Arena Dua Kuda Hitam

Satria Sakti Utama
25/6/2015 00:00
Arena Dua Kuda Hitam
(AP/NATACHA PISARENKO)
STATUS kuda hitam pantas disematkan, baik kepada Peru maupun Bolivia di ajang Copa Amerika 2015.

Meski berstatus tim-tim kasta kedua di Benua Amerika Latin, keduanya mampu bersaing dengan mengunci posisi kedua di setiap grup.

Mereka pun mampu menggusur tim-tim yang lebih mapan seperti Meksiko atau Kolombia untuk memastikan satu tiket langsung ke delapan besar.

Satu tiket semifinal coba diperebutkan kedua tim di Stadion Municipal Bicentenario German Becker, besok (26/6) pagi.

Akan tetapi, Peru yang dilatih Ricardo Gareca disebut memiliki peluang lebih baik untuk melaju ke empat besar.

Permainan kolektif Claudio Pizzaro dkk terbukti mampu menyulitkan Brasil dan Kolombia di babak penyisihan Grup C.

Gareca juga yakin skuat asuhannya mampu mengulang prestasi pergelaran Copa Amerika 2011 dengan mengamankan posisi ketiga.

"Saya tenang meskipun kami harus terus membuat banyak kemajuan, terutama karena kami yakin akan potensi yang kita miliki. Pasti saya merasakan kita dapat memberikan lebih banyak lagi," jelas Gareca.

Peru akan tetap memberikan kepercayaan lini depan kepada penyerang Carinthians Paolo Guerrero yang akan berduet dengan Pizzaro, sedangkan Jefferson Farfan masih tetap diistirahatkan.

Sulit dikalahkan
Bolivia bukanlah klub yang mudah dikalahkan bagi Peru. Dalam empat pertemuan terakhir kedua tim, hasil imbang selalu menjadi raihan kedua tim pada akhir laga.

Terakhir Peru ditahan 1-1 oleh Bolivia dalam kualifikasi Piala Dunia 2014 zona Amerika Latih pada 2013.

Dikalahkan lima gol di pertandingan terakhir Grup A oleh Cile, La

Verde--julukan Bolivia-- tidak membuat mereka patah arang.

Pelatih Bolivia Mauricio Soria masih percaya akan kemampuan skuat asuhannya.

"Kami memiliki pemain yang lebih tepat, dalam arti bisa bermain seperti yang kami inginkan dan menginspirasi rasa hormat dari lawan," ungkap Soria.

Bagi Peru, kemenangan atas Bolivia akan mengantarkan mereka melaju ke babak semifinal untuk yang kedua kalinya.

Sayangnya, ketika mereka menuju momentum penting seperti ini, Peru tak diuntungkan dengan absennya pemain sentral.

Pelatih Ricardo Garcea tak bisa menurunkan sang kapten, Carlos Labaton. Gelandang tangguh Josepmir Ballon juga dipastikan tak bisa tampil karena sanksi kartu merah.

Kehilangan dua pemain penting bukan alasan bagi Peru menyerah. Kesempatan seperti ini tak boleh disia-siakan.

Ini merupakan kesempatan Peru untuk membayar kegagalan semifinal 1997 ketika mereka gugur melawan Uruguay.

Selain itu, masalah dalam seleksi pemain yang dialami Peru bisa dimanfaatkan Bolivia.

Namun, mereka harus melihat kelemahan sendiri sebelum melihat kelemahan lawan.

Barisan belakang Bolivia masih harus diperbaiki.

Bolivia yang sudah kebobolan tujuh gol dalam kompetisi ini merupakan tim paling banyak daripada seluruh kontestan.

Namun, untungnya, juru taktik Vladimir Soria tak kehilangan satu pemain pun.

"Peru tetap menjadi unggulan dalam duel kali ini. Namun, kami juga tidak bisa dipandang remeh. Kami bisa saja 'meledak' dan lolos hingga ke final jika pemain lebih sigap dan kompak," kata Soria. (AFP/AP/R-1)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Admin
Berita Lainnya