Pelti Minta Lapangan Tenis Senayan Dipertahankan

Ghani Nurcahyadi
03/6/2016 21:36
Pelti Minta Lapangan Tenis Senayan Dipertahankan
(MI/Rommy Pujianto)

RENCANA Satuan Tugas (Satgas) Infrastruktur Asian Games (AG) 2018 Jakarta-Palembang dan Pusat Pengelolaan Kawasan (PPK) Gelora Bung Karno melakukan alih fungsi terhadap sejumlah lapangan tenis di kawasan GBK menjadi lapangan bisbol disayangkan oleh Pengurus Pusat Persatuan Lawn Tenis Indonesia (PP Pelti).

Ketua Umum PP Pelti Wiboso Suseno Wirjawan mengatakan, lapangan tenis GBK yang dibangun untuk penyelenggaraan AG 1962 Jakarta itu, mempunyai nilai sejarah yang tinggi dan mesti dijaga serta menjadi salah satu pencetak petenis nasional.

"Kita sudah melayangkan surat kepada Menteri Pemuda dan Olahraga juga kepada pemangku kepentingan olahraga lainnya seperti KONI dan KOI. Kami mendukung upaya pemerintah mempersiapkan AG 2018 dan membangun venue baru, tapi tolong jangan dihilangkan," kata pria yang akrab disapa Maman itu di Jakarta, Jumat (3/6).

Komplek Stadion Tenis GBK memiliki 21 lapangan yang terdiri atas 1 lapangan dalam ruang (indoor), 2 lapangan utama, dan 18 lapangan luar ruang (outdoor) yang terdiri atas lapangan tanah liat dan lapangan keras. Dalam rencana renovasi GBK, seluruh lapangan outdoor akan dialihfungsikan menjadi lapangan bisbol.

Maman berharap, rencana alih fungsi yang sudah dipresentasikan oleh Satgas maupun PPK GBK dalam pertemuan Komite Koordinasi (Corcom) AG 2018 di Bali, 10-11 Mei lalu tersebut, belum merupakan putusan final, sehingga pihaknya masih bisa mempertahankan lapangan tenis Senayan.

"Dalam rapat bersama dengan Satgas maupun GBK, kami sudah menyatakan keberatan terhadap rencana tersebut. Namun kemudian, dalam maket yang kami terima, justru lapangan tenis dilenyapkan. Ini yang membuat kami kaget dan juga jadi perhatian utama komunitas tenis Indonesia," ujar Maman.

Wakil Ketua Umum PP Pelti yang juga anggota Komisi X DPR RI, Yayuk Basuki, mengatakan, dengan dihilangkannya sejumlah lapangan di Stadion Tenis GBK, maka akan berpengaruh terhadap penyelenggaraan turnamen tenis internasional di Indonesia. Hal itu karena Federasi Tenis Internasional (ITF) mensyaratkan keberadaan sejumlah lapangan untuk bisa menggelar turnamen.

"Kami belum menerima kepastian apakah keputusan ini sudah final atau belum, tapi nanti ketika ada rapat dengar pendapat di DPR, kami juga akan mencoba menanyakannya supaya duduk persoalannya lebih jelas. Kami ingin lapangan tenis ini dipertahankan karena ini merupakan arena bersejarah," tandas mantan petenis nasional itu. (Gnr/OL-5)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya