Sanksi FIFA hingga Tahun Depan

Satria Sakti Utama
24/6/2015 00:00
Sanksi FIFA hingga Tahun Depan
Imam Nahrawi Menteri Pemuda dan Olah Raga(ANTARA/Widodo S. Jusuf)

MENPORA Imam Nahrawi menunggu tuntasnya Kongres Luar Biasa (KLB) FIFA sebelum mengambil langkah terhadap PSSI. MASA hukuman Federasi Sepak Bola Internasional (FIFA) terhadap Indonesia dipastikan akan lama. Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora) Imam Nahrawi memilih menanti tuntasnya persoalan di tubuh FIFA lebih dahulu sebelum mengambil langkah lebih lanjut terhadap PSSI.

"Komunikasi terus-menerus dengan pihak terkait, dan sanksi (pembekuan PSSI) ini bisa dipertimbangkan. Tapi untuk penyelesaiannya, kita menunggu sampai FIFA selesai kongres luar biasa (KLB)," kata Imam dalam jumpa pers di Kantor Kemenpora, Jakarta, kemarin.

"Kita tunggu dulu mereka mereformasi diri sendiri sebagai kiblat sepak bola di dunia," tambahnya. Sebelumnya, Presiden FIFA yang mengundurkan diri, Sepp Blatter, menyatakan bahwa KLB FIFA direncanakan berlangsung pada Januari atau paling lambat Mei tahun depan di Mexico City, Meksiko.

Dalam suratnya (30/5), FIFA akan mencabut sanksi dan memulihkan keanggotaan Indonesia apabila memenuhi empat syarat, di antaranya PSSI harus kembali diberi wewenang mengelola urusannya secara independen.

Mengenai pertemuannya dengan PSSI, seperti yang diharapkan Komisi X DPR, Imam mengatakan pihaknya konsisten dengan surat keputusan Menpora soal pembekuan PSSI pada 17 Juli lalu. Karena itu, yang dipanggil kemarin ialah pengurus PSSI periode 2011-2015 yang diketuai Djohar Arifin Husin, bukan Ketua Umum PSSI 2015-2020 La Nyala Mattalitti.

"Legal standing kan sudah jelas. Di Indonesia ini berdasarkan legal formal bukan hanya pengakuan FIFA," kilas Imam. "Tapi saya terbuka untuk bertemu siapa saja," tegasnya.

Di tempat yang sama, Djohar mengatakan kedatangannya ke Kemenpora karena diundang untuk membahas keberlangsungan sepak bola nasional. "Kegiatan sepak bola tidak boleh berhenti sama sekali," ujarnya.

Djohar menegaskan ia siap membantu Kemenpora untuk mengulirkan kembali kompetisi dan kegiatan-kegiatan sepak bola lainnya seperti pembinaan usia muda dan kursus kepelatihan.

Salah satu jalan yang ditempuh untuk membantu bergulirnya kembali kompetisi di Indonesia, Djohar mengaku akan berkomunikasi dengan PT Liga Indonesia. "PT Liga Indonesia harus menjadi operator kompetisi. Kalau turnamen-turnamen, tidak apa-apalah kalau ada operator lainnya," kilahnya.

Tidak mudah

Anggota Tim Transisi Cheppy T Wartono menyatakan pihaknya akan menggelar turnamen Piala Kemerdekaan dan Piala Panglima. Menurut rencana, turnamen itu akan dimulai pada 24 Juli dan akan diikuti tim-tim dari Divisi Utama.

"Kalau animo tinggi, turnamen diikuti 30 tim yang akan dibagi dalam lima wilayah. Namun, kalau rendah, mungkin 24 tim saja," ujar Cheppy.

Sementara itu, untuk turnamen Panglima TNI masih belum dapat menentukan tanggal pastinya. Namun, tim transisi mengaku telah mendapatkan tanggapan positif dari Panglima TNI Jenderal Moeldoko pada 19 Juni lalu.

Pelatih Persib Bandung Djajang Nurjaman menyatakan kekecewaannya kepada tim transisi yang kenyataannya tidak mampu menggelar turnamen dan kompetisi secepatnya sesuai dengan janji mereka. "Ternyata tidak mudah juga kan menggelar turnamen?

"Karena tiadanya kompetisi, sejumlah pemain profesional terpaksa memilih mengikuti turnamen antarkampung. Selain itu, menurut Djajang, pelatih yang sukses membawa Persib juara kompetisi Indonesia Super League (ISL) musim lalu itu, ia gagal mengikuti kursus lisensi kepelatihan A AFC pada Agustus mendatang. (X-5)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Admin
Berita Lainnya