3 Cabang belum Tentukan Arena

Ghani Nurcahyadi
23/4/2016 04:51
3 Cabang belum Tentukan Arena
(ANTARA/Yossy WIdya)

TIGA cabang olahraga yang akan dipertandingkan di Asian Games Jakarta-Palembang 2018 masih belum juga menentukan arena pertandingan sampai kini.

Ketiga cabang tersebut ialah atletik, kriket, dan rugbi.

Untuk cabang atletik, pilihan utamanya kini ialah Stadion Utama Gelora Bung Karno setelah perwakilan Komite Olimpiade Asia (OCA) tidak merekomendasikan Stadion Madya lantaran kapasitasnya dinilai terlalu kecil.

Untuk kriket dan rugbi, menurut Wakil Ketua Umum Komite Olimpiade Indonesia (KOI) Muddai Madang, masih ada perdebatan apakah memakai kawasan Senayan atau Cibubur, Jakarta Timur.

Salah satu pertimbangannya ialah animo penonton yang akan memenuhi tempat pertandingan tersebut.

"Kecenderungannya di Senayan karena di Cibubur, kami khawatir animo penontonnya sedikit. Tapi kami masih membicarakannya dengan sejumlah pihak terkait. Persoalan venue itu terus kita monitor, juga oleh perwakilan dari OCA (Komite Olimpiade Asia). Makanya beberapa waktu lalu, Wei Jizhong (Wakil Presiden Kehormatan OCA) melakukan inspeksi mendadak," kata Muddai di Jakarta, kemarin.

Persoalan arena, kata dia, akan diputuskan secara definitif saat rapat Komite Koordinasi (Corcom) Asian Games 2018, 10-11 Mei mendatang.

Selain ketiga cabang itu, Muddai mengungkapkan juga masih ada cabang lain yang memiliki permasalahan venue, yakni berkuda.

Renovasi venue ketangkasan berkuda (equestrian) di la-pangan Pulo Mas, Jakarta Timur, yang menjadi tanggung jawab Pemerintah Provinsi DKI Jakarta masih dipertentangkan Pengurus Besar Persatuan Olahraga Berkuda Seluruh Indonesia (PB Pordasi) terkait desain lapangannya, yang menurut PB Pordasi tidak perlu menghilangkan lapangan pacu.

"Kalau itu, kami monitor, tapi tanggung jawab untuk venue-nya ada di Pemprov DKI. Kami meminta provinsi penyelenggara Asian Games 2018 agar seluruh proses administrasi renovasi venue setidaknya bisa selesai pada Juni tahun ini sehingga tidak terlambat dalam proses pekerjaan fisiknya," ujar Muddai.

Ketua Umum PB Pordasi Muhammad Chaidir Saddak mengatakan, selain persoalan venue, persoalan lain yang melingkupi arena equestrian ialah zona bebas penyakit (free disease zone).

"Pada radius 50 meter dari kandang kuda harus steril dari berbagai bakteri dan virus karena penyakit kuda bukan hanya berasal dari kuda, melainkan juga dari lingkung-an sekitar," katanya.

Kerja sama

Koni Pusat menjalin kerja sama dengan Universitas Yong In di Korea Selatan dan lima perusahaan 'Negeri Ginseng' untuk menunjang program pelatnas.

Kerja sama itu ditujukan bagi sejumlah cabang olahraga bela diri, yaitu taekwondo, judo, gulat, dan tinju.

"Kerja sama ini demi menyiapkan atlet lebih baik sebelum Asian Games 2018, yang nantinya akan kami serahkan kepada Satlak Prima (Satuan Pelaksana Program Indonesia Emas) untuk menjadi atllet nasional. Setelah itu, kami siapkan kembali atlet-atlet pelapisnya agar skuat Indonesia makin siap," kata Ketua Umum KONI Tono Suratman.

(R-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya