Headline
Surya Paloh tegaskan Partai NasDem akan lapang dada melakukan transformasi regenerasi.
Surya Paloh tegaskan Partai NasDem akan lapang dada melakukan transformasi regenerasi.
Kumpulan Berita DPR RI
PADA 2005, Kobe Bryant tiba di kamp latihan Los Angeles Lakers dan mengumumkan kalau dirinya telah mempelajari ilmu tentang ular. Kepada rekan-rekannya, Kobe bercerita banyak tentang ular. Mulai dari bagaimana cara ular berganti kulit, hingga ular jenis black mamba yang bisa menyerang dengan akurasi yang sangat tinggi.
"Mamba dapat menyerang dengan akurasi 99% pada kecepatan maksimum," cerita Kobe kepada rekan-rekannya seperti dikutip ESPN.
Kecintaan Kobe kepada black mamba bermula ketika dia menonton film Kill Bill: Volume 2. Dalam film tersebut memang dijelaskan deskripi mengenai ular jenis tersebut.
Selain itu, sejumlah buku mengenai black mamba pun dibacanya, dan dia merasa kagum dengan kehebatan ular tersebut. "Saya membaca beberapa buku tentang hewan ini dan berkata, 'Wow, ini cukup mengagumkan," kata Kobe.
Dan karena kecintaannya kepada ular tersebutlah, Kobe akhirnya memilih black mamba sebagai julukannya.

Foto: AFP/M Haffey
Berposisi sebagai shooting guard, Kobe memang seorang pemain dengan kemampuan tembakan yang luar biasa. Aksi-aksi fadeaway jumper (menembak sambil memutar badan) menjadi senjata andalannya di setiap laga yang dia mainkan. Dan seperti black mamba, tembakan tersebut sangatlah akurat.
Sebagai salah satu pemain yang tampil di era setelah Michael Jordan, Kobe memang diakui sebagai yang tersukses. Lima gelar juara NBA berhasil dipersembahkannya untuk Lakers, di samping gelar-gelar individu lainnya. Dan sama seperti Jordan, gelar-gelar tersebut dipersembahkannnya hanya untuk satu klub saja, yakni Lakers.
Bergabung ke NBA pada 1996, Kobe memang telah digadang-gadang akan menjadi calon bintang. Tidak seperti pemain-pemain yang direkrut dari universitas, Kobe direkrut Lakers saat baru lulus dari SMA.
Namun meski hanya dari SMA, Kobe berhasil membuktikan kualitas permainannya, dibanding pemain-pemain seangkatannya yang direkrut dari universitas. Lihat saja aksinya di NBA All Star 1998. Meski tampil bersama-sama bintang NBA kala itu seperti Karl Malone, Michael Jordan, Shawn Kemp, Shaquille O'Neal, David Robinson, Grant Hill, dll, Kobe berhasil tampil luar biasa.
Dia berhasil menjadi pencetak angka terbanyak bagi tim Barat dengan 18 poin pada laga tersebut. Belum lagi aksi slam dunk fenomenalnya yang luar biasa. Meski akhirnya tim Barat kalah dari Timur, Kobe sudah mencuri perhatian penggemar basket di seluruh dunia.
Saat yang Tepat
Mungkin, salah satu keberuntungan Kobe Bryant dibanding bintang-bintang NBA lainnya adalah, dia muncul di saat yang tepat, yaitu di saat sang mega bintang Michael Jordan telah paripurna. Munculnya Kobe di pentas NBA ibarat hanya meneruskan tongkat estafet kejayaan yang telah dipegang oleh Jordan.
Banyak nama di era 90-an yang digadang-gadang akan menjadi the next Jordan. Mulai dari Harold Miner (Miami Heat), Anfernee Hardaway (Orlando Magoic), Grant Hill (Detroit Piston), hingga point guard lincah Allen Iverson (Philadelphia Sixers).
Namun dari sekian nama, tidak ada satupun yang berhasil mengemban tugas berat dan harapan dari para penggemar. Tak satupun dari nama-nama tersebut yang bisa merai kejayaan, bahkan untuk sebuah cincin juara.
Mereka tenggelam dengan keglamouran dan kemegahan hiruk pikuk NBA. Mereka hanya seperti mengikuti tren pemain-pemain terdahulu, macam Patrick Ewing, Charles Barkley, Karl Malone, Shawn Kemp, dan John Stockton. Pemain bintang, tapi tanpa kebanggaan dan kehormatan.
Salah satu contohnya adalah Allen Iverson. Pada 12 Maret 1997, penggemar NBA dikejutkan dengan aksi Iverson kala Sixers menjamu Chicago Bulls, di Wells Fargo Center. Iverson yang kala itu berstatus rookie, berhasil melakukan crossover terhadap Jordan dan kemudian melesakkan jump shoot.
Aksi itupun langsung menuai pujian. Sebutan the next Jordan pun langsung melekat di pundak Iverson. Dibandingkan nama-nama yang digadang-gadang sebagai penerus Jordan di masa tersebut, Iverson merupakan pemain yang terlalu sombong. Pujian penggemar mengenai aksi crossover-nya terhadap Jordan, membuatnya merasa telah merebut kejayaan dari sang bintang.
Padahal, 'sebuah' crossover-nya tersebut langsung dibayar tunai oleh Jordan pada laga tersebut. Bukan hanya sekali, bahkan berkali-kali Jordan sukses melewati Iverson di laga tersebut.
Dan rasa tinggi hati itulah yang kemudian membuat Iverson gagal membuat kejayaannya di NBA. Jika kegagalan pemain-pemain lain untuk menjadi the next Jordan, disebabkan karena rasa takjub mereka kepada Jordan, maka kegagalan Iverson adalah rasa tinggi hatinya.
Sehingga, di akhir masanya, Iverson pun hanya berpredikat sebagai pemain bintang, namun tanpa kejayaan. Satu-satunya keberhasilan (jika boleh disebut keberhasilan) Iverson adalah membawa Sixers ke final tahun 2001, sebelum dibantai 1-4 oleh Los Angeles Lakers dengan Shaquille O'Neal dan Kobe.

Foto: ESPN
Hal berbeda dengan yang diperlihatkan Kobe. Di saat tampil pertama kali di pentas NBA, pemain yang bersama Iverson merupakan angkatan 1996 ini sudah memperlihatkan dirinya sebagai calon bintang. Bukan hanya aksi di lapangan, di luar lapangan, Kobe pun memperlihatkan sikap sebagai syarat untuk menjadi seorang bintang. Dan yang paling utama adalah, rasa hormatnya kepada Jordan.
Tidak seperti Iverson, Kobe menunjukkan rasa hormatnya kepada Jordan baik di luar maupun di dalam lapangan. Kobe tidak selalu menerima saran atraupun kritik yang disampaikan Jordan. Namun, meski menunjukkan rasa hormat, Kobe tidak pernah merasa rendah diri dari Jordan, setiap keduanya bertemu. Ibaratnya, Kobe memberikan perlawanan yang sepadan kepada Jordan, baik dalam permainan maupun bersikap.
Dan hal tersebut terbukti benar. Lima gelar NBA pun berhasil dipersembahkan Kobe untuk Lakers dalam perjalanan kariernya. Semua sudah dilakukan Kobe. Gelar MVP final, MVP All Star, hingga medali emas olimpiade telah berhasil diraihnya.
Jika di tahun 1991, Jordan merebut kejayaan dari tangan legenda Lakers Magic Johnson, maka di akhir 90-an, Kobe merebut kejayaan dari tangan Jordan. Sejarah pun berulang.

Foto: NBA.com
Pernah suatu ketika Kobe dikritik karena gelar juara NBA 2000, 2001, dan 2002 yang diraihnya adalah karena masih adanya O'Neal. Namun Kobe menjawab semua kritikan tersebut. Setelah O'Neal pergi dari Lakers, Kobe berhasil mempersembahkan dua gelar NBA lagi untuk Lakers pada 2009 dan 2010. Dan itu dilakukannya tanpa ada O'Neal.
Kini setelah 20 tahun berkarier di NBA, Kobe pun pensiun dari dunia basket. Laga melawan Utah Jazz, di Staples Center, Kamis (14/4) pagi WIB, menjadi laga terakhir sang bintang.
Dalam laga perpisahan yang penuh emosi tersebut, Kobe mencetak 60 poin untuk membawa Lakers menang 101-96. Sejumlah bintang Hollywood dan mantan rekan setim Kobe seperti O'Neal, Rick Fox, Derek Fisher, dan Horace Grant, hadir menyaksikan laga tersebut.
"Kalian akan selalu berada di hati saya, dan saya sungguh-sungguh, tulus menghargai itu. Terima kasih dari lubuk hati saya. Saya mencintai kalian," ujar Kobe dalam pidato perpisahannya usai pertandingan.

Foto: AP/Jae C. Hong

Foto: AP/Jae C. Hong

Foto: AP/Jae C. Hong
Meski Kobe berhasil meraih kesuksesan dalam karier NBA-nya, banyak pihak yang menilai prestasi tersebut masih kalah cemerlang dibanding karier dari center San Antonio Spurs Tim Duncan. Memang, di era setelah Jordan, hanya Duncan lah pemain yang mampu menyaingi Kobe dalam jumlah gelar juara, yaitu lima titel.
Namun hal tersebut masih menjadi perdebatan. Jika jumlah kemenangan yang menjadi perhitungan, Duncan dan Spurs telah memenangkan pertandingan lebih dari siapa pun selama 20 tahun terakhir. Tetapi jika karakter, perjalanan karier, atau persaingan yang menjadi perhitungan, maka Kobe lah yang menjadi juaranya.
Momen bagaimana dirinya berselisih dengan O'Neal, atau dengan sejumlah rival akan menjadi warna lain dalam perjalanan karier Kobe. Kepemimpinannya saat berhadapan dengan Boston Celtic di final 2010 akan selalu menjadi kenangan manis bagi pendukung Lakers. Atau bagaimana dengan kepemimpinannya yang tegas dia berhasil 'mendepak' Dwight Howard dari Lakers karena permintaannya untuk diperlakukan istimewa lebih dari rekan yang lain.
Kini setelah 20 tahun berlalu, Kobe telah mencatatkan sejarahnya di NBA. Memang tidak semulus dengan karier Jordan yang pensiun di saat masa keemasannya. Namun Kobe tetaplah Kobe.
Seperti yang selalu dia bilang. "Saya tidak ingin menjadi penerus Michael Jordan, Saya hanya ingin menjadi Kobe Bryant."(OL-06)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved