Menanti Jembatan Apung Dibangun Lagi

(Liliek Dharmawan/N-3)
25/3/2017 01:20
Menanti Jembatan Apung Dibangun Lagi
(Liliek Dharmawan)

VIRA, 12, setengah berlari sambil berteriak kepada tukang sampan yang hampir berangkat dari pinggiran Segara Anakan, Dusun Lempongpucung, Desa Ujungalang, Kecamatan Laut, Cilacap, Jawa Tengah. Teman-teman Vira meminta tukang sampan untuk berhenti sejenak agar Vira bisa ikut terangkut dan berangkat bersama. Setiap pagi Vira dan teman-temannya berangkat ke sekolah di SDN 3 Ujungalang, Dusun Paniten, dengan menumpang sampan.

Setelah Vira tiba, sampan yang ditopang dengan dua perahu kecil di bawahnya bergerak dari Dusun Lempongpucung ke Paniten. Perjalanan menyusuri sungai itu memakan waktu 5 menit. Perairan yang memisahkan kedua dusun itu hanya berjarak 40 meter. "Setiap hari saya harus menyeberangi perairan dengan menggunakan sampan. Sudah bertahun-tahun, saya menggunakan sampan untuk menyeberang. Tarif sekali menyeberang Rp1.000," kata Vira saat ditemui Media Indonesia, pekan lalu. Di Dermaga Dusun Paniten, sejumlah siswa SMP Negeri 2 Kampung Laut juga telah menunggu.

Begitu anak-anak SD turun dari sampan itu, bergantian siswa-siswa SMP naik ke sampan menuju Dusun Lempongpucung. Dari dermaga tersebut, anak-anak SMP Negeri 2 Kampung Laut harus berjalan kaki melewati jalan setapak untuk sampai ke sekolah mereka. "Sebetulnya akhir tahun lalu, jembatan apung sudah berdiri di sini. Akan tetapi, saat dilintasi anak-anak, tiba-tiba jembatan roboh. Sampai sekarang jembatan belum kembali dioperasikan meski perbaikannya sudah selesai. Mudah-mudahan bisa segera dirampungkan," ungkap Tria, 15, salah seorang siswi SMP setempat.

Demikian juga dengan pelajar SMA Negeri Kampung Laut. Selama ini, mereka juga harus menumpang perahu untuk ke sekolah mereka yang jaraknya sekitar 5 kilometer dari Dermaga Paniten. Kepala Dusun Lempongpucung, Wahyono, membenarkan saat ini anak-anak di wilayah itu sangat mengandalkan sampan untuk berangkat dan pulang sekolah dengan rata-rata ongkos yang dikeluarkan Rp5.000 per hari.

"Kalau jembatan penyeberangan sudah dibangun, mereka bisa menghemat waktu sekaligus biaya," ujar Wahyono. Menurutnya, keberadaan jembatan apung sangat penting bagi masyarakat Kampung Laut. Itu disebabkan warga dari Lempongpucu ketika bertandang ke Dusun Paniten tidak bisa malam hari. "Sampan hanya beroperasi sampai sore hari," jelasnya. Ia menyarankan pembangunan jembatan apung harus dites kelayakan dan keamanan sehingga aman saat digunakan.



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Dedy P
Berita Lainnya