Sumur Wai Au Saksi Adaptasi Iklim Warga Ile Ape

(Alex P Taum/N-3)
15/3/2017 23:15
Sumur Wai Au Saksi Adaptasi Iklim Warga Ile Ape
(ALEXANDER TAUM)

RATUSAN ember dan bak penampung air tergeletak di sekitar sumur Itu, menanti saatnya untuk diisi. Gemericik air yang tumpah, ditingkahi gelak tawa perempuan, menjadi suasana yang dominan setiap hari. Sumur di pinggir gereja Desa Tagawiti, Kecamatan Ile Ape, Kabupaten Lembata, menjadi sumber kehidupan warga setempat. Di antara perempuan-perempuan yang antre mengambil air, ada Peni, siswi Kelas II SMAN II Ile Ape.

Setiap pukul 04.00 Wita, ia sudah mengantre di bibir sumur Desa Tagawiti. Sumur yang dibangun Pater Lorensius Gepa Mawar Pr itu menjadi satu-satunya pilihan. Jauh sebelum dibangun sumur gereja, warga lima desa di Semenanjung Ile Ape sangat bergantung pada sumur Wai Au yang jaraknya 5 kilometer arah pantai Desa Tagawiti. Sumur Wai Au telah berusia ratusan tahun. Sumur yang dibangun almarhum Pater Geurs ini sudah beberapa kali direhabilitasi.

Meski air terasa asin seperti kebanyakan air sumur di wilayah Ile Ape, sumur di pinggir gereja Tagawiti itu tak berhenti menyuplai kebutuhan air untuk warga setempat, termasuk Peni yang ikut menikmati berkah mendapatkan air untuk kebutuhan sehari-hari. Air dari dasar sumur sedalam 32 meter itu pun baru dapat diangkat ke permukaan dalam 23 kali tarikan. Peni pun bergegas pulang saat ember-ember yang dibawanya sudah terisi penuh.

Sumur di dekat gereja ini menjadi saksi bagi ibu-ibu di tiga desa, yakni Desa Beutaran, Desa Tagawiti, dan Kolipadan di Semenanjung Ile Ape. Generasi demi generasi mendapatkan air dari sumur tersebut. Bahkan, saat musim kemarau yang kering melanda wilayah itu, sumur itu tidak mengering. "Debit air sumur tidak berubah sejak dahulu. Sejak desa itu berdiri, dari keterangan kakek nenek saya, ratusan tahun lalu sumur ini sudah ada dan airnya tidak pernah susut atau mengering," ujar Peni.

Sementara pasokan air di sumur tetangga desa sudah mulai berkurang. Tidak sedikit warga desa lain bertandang ke Tagawiti untuk mencari air. Peni dan sembilan rekannya tertarik mengupas kehidupan warga di desa-desa dekat dengan sumur Wai Au. "Saya ingin memotret perkembangan suasana sumur Wai Au," kata Peni, peserta pelatihan community digital storytelling yang digagas Plan International Lembata.

Keberadaan sumur tersebut juga bermanfaat untuk menyuburkan tanah. Desa-desa tersebut sering mengalami kekeringan. Namun, dengan adanya pasokan air, di sekitar sumur mulai ditumbuhi tanaman kacang, jagung, dan ubi. Advocacy Officer Plan International, Benn Assan, menambahkan sumur tersebut menjadi saksi adaptasi warga menghadapi perubahan iklim.



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Dedy P
Berita Lainnya