Merasakan Hidup sebagai Wong Ndeso

. (Depi Gunawan/N-3)
15/3/2017 05:00
Merasakan Hidup sebagai Wong Ndeso
(MI/DEPI GUNAWAN)

DAVID Kuerstgens, 19, dan Daiki Okamoto, 21, sibuk memerah susu di kandang sapi milik warga di Kampung Batulonceng, Desa Suntenjaya, Kecamatan Lembang, Kabupaten Bandung Barat. Saat ditemui Media Indonesia pada Senin (13/3), kedua mahasiswa dari Jerman dan Jepang itu terlihat santai meskipun bau kotoran sapi di sekitar kandang cukup menyengat. Keduanya, selain memerah susu sapi, juga memandikan dan membersihkan kandang. Mereka menikmati kehidupan sebagai warga desa di Batulonceng sejak tiga minggu lalu. Meskipun tinggal di desa yang jauh dari keramaian, Kuerstgens dan Okamoto sangat menikmati kehidupan sebagai wong ndeso (orang desa).

Kedua mahasiswa itu memang bertekad mengabdikan diri membantu warga desa selama liburan di kampus negara asal. Mereka menjadi relawan dan membantu kegiatan masyarakat di desa tersebut, Kuerstgens mengaku baru pertama kali ke Indonesia. Ia sudah berada di Kampung Batulonceng sejak pertengahan Februari. Ia pun langsung cocok dengan kehidupan masyarakat desa tersebut. “Saya sudah hampir sebulan di sini. Sedikit hafal bahasa Sunda karena diajari sama bapak dan anak-anak di sini,” kata David.

Ia bersama Okamoto selama di Batulonceng melakukan berbagai aktivitas bersama warga sekitar. Di antaranya berkebun, mengajar bahasa Inggris di sekolah, membersihkan sungai, membantu menanam pohon, hingga bermain sepak bola dengan warga. Kuerstgens yang berasal dari Kota Aachen di Negara Bagian Nordrhein-Westfalen, Jerman, cukup fasih berbahasa Indonesia. Ia terkesan dengan kampung yang penduduknya cukup ramah dan memiliki ikatan kekeluargaan cukup erat.
“Saat pertama kali datang, warga sekitar mengajari saya cara melakukan berbagai pekerjaan, dari berkebun, menanam pohon, sampai memerah susu sapi,” terang Kuerstgens.

Ia pun tak segan ikut membantu petani memanen padi. Rencananya, ia akan tinggal selama tiga bulan di Batulonceng. Adapun Daiki Okamoto, pemuda asal Kota Saitama, Jepang, kurang fasih berbahasa Indonesia. Namun, ia aktif dalam kegiatan di kampung bersama warga setempat. “Ini pengalaman unik yang patut diceritakan saat pulang ke Jepang,” ujar Okamoto.

Kedua pemuda itu kini tinggal sementara di rumah warga, tepatnya di RW 09 Kampung Batulonceng. Ketua RW 09 Batulonceng, Ayat Sulaeman, menjelaskan kedua mahasiswa tersebut merupakan relawan yang ikut dalam Gerakan Kerelawanan Internasional (Great). Setiap tahun organisasi nonpemerintah ini mengirim warga negara asing yang ingin belajar tentang kehidupan warga desa. (Depi Gunawan/N-3)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Dedy P
Berita Lainnya