Pelayaran Ditutup, ASDP Rugi Rp1,6 Miliar

Palce Amalo palce@mediaindonesia.com
08/2/2017 00:44
Pelayaran Ditutup, ASDP Rugi Rp1,6 Miliar
(thinkstock)

GELOMBANG laut yang masih tinggi menyebabkan jalur penyeberangan dihentikan untuk sementara. Bahkan, pelayaran ditutup sehingga menimbulkan kerugian. Di Nusa Tenggara Timur, PT Angkutan Sungai Danau dan Penyeberang­an (ASDP) Indonesia Fery Cabang Kupang memperpanjang penutupan pelayaran sampai 10 Februari mendatang. Perpanjangan penutupan pelayaran disebabkan tinggi gelombang di perairan masih 5 meter dan kecepatan angin mencapai 70 kilometer per jam.

Sebelumnya pada 3-6 Februari, operasional feri lumpuh akibat cuaca buruk. Akibatnya, PT ASDP Indonesia Fery Cabang Kupang merugi sekitar Rp1,6 miliar. “Berhubung cuaca buruk, penutupan pelayaran diperpanjang,” kata General Manager PT ASDP Cabang Kupang, Arnoldus Yansen, Selasa (7/2). Akibat tingginya gelombang, tiga dermaga di NTT rusak. Dua dermaga di antaranya berada di Kabupaten Sumba Timur, yakni dermaga feri di Kecamatan Kanatang dan dermaga peti kemas di Waingapu. Satu dermaga feri di Kecamatan Kewapante, Kabupaten Sikka juga rusak berat. Para nelayan menganggur.
Gelombang laut setinggi 5 meter juga terjadi di Samudra Hindia, sebelah selatan Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta. Sebagian besar nelayan tidak melaut.

Pengamat cuaca Stasiun Meteorologi BMKG Cilacap, Adnan Dendy Mardika, mengungkapkan, pihaknya telah mengirimkan peringatan gelombang tinggi kepada seluruh pengguna jasa kelautan di Cilacap, seperti nelayan dan instansi terkait lainnya. “Tinggi gelombang laut mencapai 5 meter dengan kecepatan angin hingga 35 knots,” jelas Adnan.

Setok ikan terbatas
Selain gelombang laut, angin kencang mengancam kapal-kapal nelayan yang sudah terlanjur melaut. Pencarian ikan pun tidak maksimal. “Bahkan, kapal harus diikat di beberapa muara agar tidak terempas angin kencang,” kata ketua Serikat Nelayan Tradisional Kabupaten Indramayu, Kajidin,Selasa (7/2) . Dari Jawa Timur, sejumlah pelayaran antarpulau dihentikan untuk sementara karena tinggi gelombang laut di Laut Jawa diperkirakan di atas 6 meter.

Berdasarkan pantauan Media Indonesia di Pelabuhan Rakyat Kali Mas Tanjung Perak Surabaya, banyak kapal dengan tujuan Kalimantan, Sulawesi, dan Nusa Tenggara Timur untuk sementara tidak berlayar. Selain gelombang laut tinggi, cuaca buruk menyebabkan dua warga Bojonegoro tewas ter­timpa longsoran dan tenggelam di Bengawan Solo. Cuaca buruk berdampak pada tingginya harga ikan laut. Di Pasar Ikan Desa Gisik Cemandi, Kecamatan Sedati, Kabupaten Sidoarjo, harga ikan laut naik dari 30% hingga 45%. “Selain harga ikan naik, jenis ikan yang dijual berkurang karena nelayan sulit mencari ikan di saat cuaca buruk,” kata Satriyo, pedagang ikan di Desa Gisik Cemandi.

Rata-rata harga ikan naik dengan kisaran Rp10 ribu hingga Rp30 ribu per kg. Daerah pun mulai siaga pasokan pangan pada musim bencana ini. Bulog Divre Kalimantan Selatan menambah stok pangan kabupaten/kota untuk mengantisipasi ancaman bencana. Stok pangan Kalsel saat ini mencapai 16 ribu ton, cukup untuk memenuhi kebutuhan masyarakat hingga enam bulan ke depan. Di Jawa Tengah Polres Banyumas menggelar apel siaga bencana dengan melibatkan sejumlah elemen terkait lainnya. Secara khusus Polres Banyumas menyiagakan 351 personel yang siap diterjunkan ke lokasi bencana. “Kami menginisiasi apel kesiapsiagaan bencana karena dalam beberapa hari terakhir kerap terjadi bencana di Banyumas,” kata Kapolres Banyumas, AKB Aziz Andriansyah seusai apel kebencanaan. (LD/HS/YK/DY/FL/BB/CS/PT/MG/N-3)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Dedy P
Berita Lainnya