Jokowi: Kalau Disuntik Bisa Meloncat

Ferdinand
30/1/2017 17:30
Jokowi: Kalau Disuntik Bisa Meloncat
(MI/Widjajadi)

KUNJUNGAN kerja ke Desa Tumang, Kecamatan Cepogo, Kabupaten Boyolali, Jawa Tengah, Senin (30/1), merupakan perjalan nostalgia bagi Presiden Joko Widodo. Saat masih menjalankan sendiri bisnis mebelnya, Jokowi kerap mendatangi sentra kerajinan tembaga itu.

Jokowi bahkan masih ingat teman-teman lamanya yang menggeluti usaha tersebut. Salah satunya adalah Muhroji, yang pada saat peluncuran fasilitas Kemudahan Impor Tujuan Ekspor untuk Industri Kecil Menengah (KITE IKM) didaulatnya naik ke panggung.

"Ini Pak Muhroji, dulu saya sering ke tempat beliau ini," kata Jokowi memperkenalkan teman lamanya itu kepada hadirin. Jokowi pun kemudian menanyakan kepada Muhroji mengenai perkembangan usaha kerajinan tembaga yang digelutinya. Termasuk pula kendala yang dihadapi Muhroji dan perajin lain di sana. "Gimana ekspor masih jalan kan Pak ?," tanya Jokowi.

"Masih, kemarin baru ekspor ke Amerika dan mengirim mustoko mesjid ke Sulawesi Utara," katanya.

Jokowi memuji Muhroji. Itu lantaran dia tidak hanya membidik pasar ekspor, tetapi juga tetap mengisi pasar lokal. Menurut Jokowi, itu penting agar pasar lokal tidak diisi produk asing. "Yang bagus gitu, ekspor tetap tapi lokal jangan ditinggal. Nanti dimasuki negara lain," selorohnya.

Namun, Jokowi sedikit terhenyak ketika Muhroji mengatakan bahwa usaha kerajinan tembaganya kini sedikit mengalami kemunduran. Dahulu ekspor produknya bisa mencapai satu kontainer, tetapi sekarang satu kontainer harus diisi bersama-sama dengan perajin lain.

Muhroji menuturkan, kendala terbesar yang dihadapinya bersama perajin lain di Desa Tumang adalah bahan baku. Mereka masih sangat tergantung pada impor, sehingga produk yang dihasilkan kurang memiliki daya saing. Itu lantaran harganya lebih mahal bila dibandingkan dengan negara lain.

Kehadiran fasilitas KITE IKM yang diluncurkan Kementerian Keuangan melalui Dirjen Bea dan Cukai diakui Muhroji sangat membantu. Namun, dia masih berharap agar diberikan bantuan peralatan untuk meningkatkan produktivitas.

"Sekarang yang dibutuhkan mesin apa ?," tanya Jokowi.

"Mesin press tembaga Pak".

"Itu harganya berapa ?," tanya Jokowi lagi.

"Satu miliar Pak," jawab Muhroji penuh harap.

"Ya sudah, tolong dicatat dan dibantu Pak Menteri," kata Jokowi yang
disambut senyum lega Muhroji.

Selain Muhroji, pelaku IKM tembaga lain yang diajak berdialog adalah Sriyanto. Dia mengungkapkan keprihatinannya akan krisis regenerasi yang terjadi di sentra kerajinan tembaga Tumang.

Sriyanto mengusulkan agar Pemerintah membantu memproteksi sumber daya manusia di bidang tersebut. Dengan mendirikan sekolah menengah kejuruan dengan jurusan kriya logam. Jokowi menyambut senang usulan tersebut.

"Kebutuhan pengusaha itu jelas, tinggal diajak dialog terungkap semua. Tinggal, mau diselesaikan atau tidak," kata Jokowi.

Jokowi mengaku sudah sering berkunjung ke Tumang sejak sekitar 1988. Kalau dibandingkan saat itu, keadaan perajin di Tumang kini sudah lebih baik. Akan tetapi, dia yakin kalau lebih diperhatikan keadaan akan jauh lebih baik lagi. "Kalau diberi suntikan, bisa meloncat," kata Jokowi.(OL-4)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Soelistijono
Berita Lainnya