Kementan Akui Kecolongan Kasus Antraks di DIY

Andhika Prasetyo
22/1/2017 16:30
Kementan Akui Kecolongan Kasus Antraks di DIY
(ANTARA/Prasetia Fauzani)

SEBAGAI upaya pencegahan dan pengendalian kasus Anthrax di DI Yogyakarta, Kementerian Pertanian (Kementan) melalui Ditjen Peternakan dan Kesehatan Hewan (Ditjen PKH) telah mengirimkan tim ke wilayah tersebut guna melakukan investigasi dan pengambilan sampel untuk uji laboratorium.

Ditjen PKH berdalih kasus antraks di Kulon Progo, Yogyakarta, yang telah membunuh satu ekor sapi dan 17 ekor kambing tidak pernah dilaporkan baik oleh peternak maupun masyarakat ke dinas yang menangani fungsi peternakan dan kesehatan hewan.

"Kematian ternak terjadi sejak bulan November dan tidak pernah dilaporkan. Kabar baru merebak setelah ada kasus pada manusia. Dinas kesehatan langsung melaporkan kepada Pemda Kulon Progo dan Dinas Peternakan, yang selanjutnya diinfokan ke Balai Besar Veteriner (BBVet) Wates," ujar Dirjen Peternakan dan Kesehatan Hewan I Ketut Diarmita, Minggu (22/1).

Berdasarkan hasil pengujian laboratorium di BBVet Wates disimpulkan bahwa penyebab kematian ternak adalah akibat terinfeksi kuman Antraks, yaitu Bacillus anthracis yang merupakan penyebab penyakit antraks.

"Sampai saat ini jumlah kambing yang mati atau dipotong paksa oleh masyarakat berjumlah 17 ekor dan sapi 1 ekor. Adapun, berdasarkan laporan dari Dinas Kesehatan Kabupaten Kulon Progo, dari 16 orang yang menderita antraks tipe kulit, 15 di antaranya telah dinyatakan sembuh dan satu lainnya meninggal dunia," tutur I Ketut.

Kendati demikian, lanjutnya, penyebab kematian masih terus diselidiki mengingat korban meninggal juga menderita komplikasi diabetes dan penyakit jantung dan telah berusia lanjut yakni 78 tahun.

"Pada intinya, kami telah membentuk Tim Penanggulangan Wabah Anthrax di Kulon Progo dan Posko Pengendalian Penyakit Antraks di Pusat Kesehatan Hewan Girimulyo dengan melibatkan seluruh tenaga Medik Veteriner dan Paramedik Veteriner Dinas Peternakan Kabupaten Kulon Progo dan BBVet Wates yang terus mengawasi setiap perkembangan kasus," paparnya.

Pemerintah juga telah memberikan bantuan vaksin dan obat-obatan berupa vaksin antraks sebanyak 17.500 dosis, antibiotika dan vitamin masing-masing sebanyak 4.800 ml, serta 10 liter disinfektan untuk menghentikan penyebaran virus di wilayah sekitar.

"Kami memberikan antibiotika dan penyemprotan disinfektan kepada ternak-ternak di lokasi penderita antraks kulit dan juga terhadap ternak yang sekandang dengan hewan yang mati," paparnya.

I Ketut mengatakan pencegahan juga dilakukan dengan upaya pengetatan dan pembatasan lalu lintas ternak dari dan menuju Yogyakarta.

"BBVet Wates bersama Dinas Peternaka Kulon Progo akan terus menerus melakukan pengawasan lalu lintas di daerah sekitarnya. Penutupan lalu lintas sampai pembatasan dan pemeriksaan ternak yang akan keluar dan masuk wilayah akan dilakukan," terangnya.(OL-4)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Soelistijono
Berita Lainnya