Akta Kelahiran Pertama Berhuruf Braille di Indonesia

(Bayu Anggoro/N-3)
02/1/2017 03:20
Akta Kelahiran Pertama Berhuruf Braille di Indonesia
(MI/BAYU ANGGORO)

SEJUMLAH warga Kota Bandung, Jawa Barat, senang saat mengetahui Pemerintah Kota Bandung akan menerbitkan akta kelahiran berhuruf braille. "Alhamdulillah ada akta kelahiran berhuruf braille. Jadi, kami pun bisa membacanya," kata Susanti, penyandang tunanetra, saat ditemui Media Indonesia di Kecamatan Cidadap, akhir pekan lalu.

Ia pun mengapresiasi rencana Pemkot Bandung untuk membuat akta kelahiran berhuruf braille ini. "Ya itu sangat membantu," tambahnya. Inovasi yang dilakukan Pemkot Bandung berupa akta kelahiran berhuruf braille diluncurkan pada Rabu (28/12). Wali Kota Bandung Ridwan Kamil ialah yang meluncurkan inovasi akta kelahiran untuk penyandang tunanetra.

Ridwan berharap, dengan adanya akta kelahiran itu, warga berkebutuhan khusus bisa mendapatkan pelayanan yang lebih baik. "Pembuatan akta kelahiran braille ini merupakan yang pertama di Indonesia," ujar Emil, sapaan akrab Ridwan. Pada kesempatan sama, Sekretaris Direktorat Jenderal Kependudukan dan Pencatatan Sipil Kementerian Dalam Negeri, I Gede Suratha, menuturkan akta kelahiran braille ini wujud nyata kehadiran negara untuk warga berkebutuhan khusus.

Dengan begitu, hal ini membuktikan negara siap melayani semua lapisan masyarakat. "Jadi, warga yang kurang beruntung juga mendapat perlindungan negara. Ini langkah awal inovasi baru," kata Suratha. Jika tak ada kendala, pihaknya akan segera menyusun regulasi agar hal ini bisa dikembangkan di daerah lainnya. Menurutnya, saat ini jumlah warga yang membutuhkan akta braille mencapai 3,2 juta jiwa.

Suratha menambahkan, pihaknya terus mendata agar tidak ada satu pun yang terlewatkan. Tak hanya penyandang tunanetra, Kemendagri akan terus mengupayakan hal yang sama bagi warga disabilitas lainnya. Kepala Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil Kota Bandung, Popong Wuraeni, menambahkan dalam mewujudkan mengatakan, pihaknya menggandeng dinas sosial sebelum merealisasikan akta braille ini.

"Saat berkoordinasi dengan dinas sosial, ternyata jumlahnya (penyandang tunanetra) kurang lebih ada 400-an," ujar Popong. Standar kelahiran nasional anak tunanetra akan didampingi dengan akta braille. Pemkot Bandung pun sudah menyiapkan fasilitas mesin dan kertas braille.

Dalam menyusun penulisan, Pemkot Bandung bekerja sama dengan Wyata Guna. Selain meluncurkan akta braille, Pemkot Bandung meluncurkan kartu identitas anak untuk memberikan legalitas kepada anak usia 0-18 tahun.



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Dedy P
Berita Lainnya