Cipularang tidak Bisa Jadi Andalan

(N-4)
28/12/2016 01:15
Cipularang tidak Bisa Jadi Andalan
(ANTARA)

BADAN Usaha Jalan Tol PT Jasa Marga melaporkan telah terjadi pergeseran (deformasi) pilar kedua (P2) Jembatan Cisomang pada KM 100+700 Jalan Tol Purwakarta-Ban­dung-Cileunyi yang sudah melebihi batas izin yang disyaratkan, Kamis (22/12) .
Bagaimana pandangan Badan Geologi Kementerian ­Energi dan Sumber Daya Mi­neral terkait dengan peristiwa bergesernya pilar kedua Jembatan Cisomang itu? Adakah potensi kerawanan lain di jalur Tol Cipularang?
Berikut ini wawancara wartawan Media Indonesia Reza Sunarya dengan Kepala Badan Geologi Kementerian ESDM Ego Syahrial saat meninjau lokasi pergeseran jembatan, di Purwakarta, Jawa Barat, kemarin.

Berdasarkan pengamatan fisik, apa yang menjadi penyebab bergesernya pilar P1 dan P2 Jembatan Cisomang?
Disebabkan adanya per­gerakan tanah yang tidak bisa dilihat secara kasatmata dan daerah ini memang sangat rawan gerakan tanah.

Berapa besar pergeserannya?
Itu tidak dapat dilihat dengan kasatmata dan perge­rakannya memang sangat lambat.

Bagaimana langkah selanjutnya agar pergeseran tanah itu bisa terdeteksi?
Kita akan segera mengirimkan alat untuk memantau pergerakan tanah yang terjadi sehingga kita dapat melakukan penelitian lebih saksama.

Dari sisi konstruksi, apa yang salah dari jembatan ini?
Kami tidak bisa menyatakan (ada) kesalahan pembangunan. Namun, kami pernah merekomendasikan kalau jalur ini rawan pergerakan tanah dan lokasi ini mengandung batuan vulkanologi dan tanah lempung. Curah hujan dan perubahan tata kelola lingkungan juga memiliki andil terjadinya gerakan tanah.

Selain Cisomang, wilayah mana lagi di jalur Tol Cipularang yang dianggap rawan?
Sebagian besar jalur Purwakarta-Bandung termasuk rawan dalam kategori zona merah. Hasil penelitian di 2016 ini mencatat, dari 200 lokasi pemicu gerakan tanah, sebanyak 50% berada di Jawa Barat. Kisaran kemiringan lereng di zona merah ini mulai terjal dari 15% hingga 30% sampai curam lebih besar dari 70%, tergantung pada sifat fisik dan keteknikan batuan dan tanah.

Dengan kondisi demikian, apakah Tol Cipularang masih bisa digunakan dalam waktu lama?
Yang jelas Tol Cipularang jangan dijadikan satu satunya jalur andalan untuk infrastuktur. Diperlukan jalur lain dengan atau meng­aktifkan jalur lama, tetapi dengan pembatasan penumpukan kendaraan. (N-4)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Dedy P
Berita Lainnya