Koleksinya Keren,Pengunjungnya Sepi

(Budi Ernanto/J-3)
26/12/2016 02:50
Koleksinya Keren,Pengunjungnya Sepi
(MI/RAMDANI)

HAFINA, 21, merupakan satu-satunya pengunjung yang terlihat di ruang koleksi dan peristiwa Museum Polri, Jakarta, akhir pekan lalu. Sekitar satu jam lebih, baru terlihat Yanto, 25. Mimik keduanya terpana melihat berbagai peralatan lawas milik Polri. Mereka menduga koleksi tersebut hanya ada di film-film. Hafina mengaku baru tahu ada sepeda motor yang memiliki kompartemen di samping ketika melihat WLA C Class buatan Harley Davidson.

Motor tersebut biasa dipakai untuk patroli di beberapa kota di Tanah Air pada 1943. Sementara Yanto, berdecak kagum melihat berbagai barang yang hanya dipakai agen rahasia, seperti penyadap yang disembunyikan di dalam koper, alat pemancar berbentuk kalkulator, dan korek api yang sesungguhnya adalah kamera. "Koleksinya keren. Saya juga baru tahu ada penjahat bernama Djoni Indo dan Kusni Kasdut yang lama jadi buron," kata Yanto.

Barang yang dipamerkan di Museum Polri tidak hanya ada di ruang koleksi dan peristiwa. Pengunjung bisa melanjutkan langkahnya ke ruang sejarah. Di sini, pengunjung akan mengetahui sejarah terbentuknya Polri. Dalam ruangan itu, dipamerkan berbagai senapan tempur yang digunakan para pejuang dari Polri saat peristiwa perobekan bendera Belanda di Hotel Yamato, Surabaya pada 10 November 1945. Senjata-senjata itu ada yang merupakan barang sitaan dari pasukan Belanda.

Beranjak dari ruang sejarah, pengunjung bisa bergeser masuk ke ruang hall of fame yang didedikasikan untuk para pemimpin Korps Bhayangkara tersebut. Khususnya, sejak Komisaris Jenderal RS Soekanto Tjokrodiatmodjo yang merupakan Kepala Polri pada 1945-1959 hingga Jenderal Sutarman yang selesai menjabat pada awal 2015. Dalam ruangan itu dipamerkan berbagai barang milik jenderal-jenderal berbintang itu, seperti tongkat komando, seragam, dan tanda kepangkatan.

Setelah ruang hall of fame, terdapat ruang kepahlawanan, simbol, dan kesatuan, dan penegakan hukum. Dalam ruangan penegakan hukum, terdapat sejumlah catatan kepolisian saat menangani berbagai aksi terorisme yang pernah mengguncang Jakarta dan Bali pada 2001-2009. Ada diorama tempat kejadian perkara dan serpihan bom yang diledakkan hingga menewaskan puluhan hingga ratusan orang saat itu. Baik Hafina dan Yanto menyayangkan sepinya Museum Polri yang dibuka sejak 2009 itu.

Padahal, pengunjung tidak dipungut bayaran untuk melihat apa yang dipamerkan di lantai satu hingga lantai tiga itu. Menurut mereka, walau segala informasi bisa didapat di dunia maya, tapi yang dipamerkan di Museum Polri lebih detail dan akurat. Kepala Biro Penerangan Masyarakat Divisi Humas Polri Kombes Rikwanto mengakui belum ada program khusus untuk menyosialisasikan Museum Polri.



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Dedy P
Berita Lainnya