Sejajar dengan Kota-Kota Dunia

(BN/N-3)
21/12/2016 01:00
Sejajar dengan Kota-Kota Dunia
(DOK PEMKAB TANAH DATAR)

HARI masih pagi tapi Nuriyanto, warga Kampung 3G istilah untuk menyebut Kampung Tridi, sedang mengecat dinding rumahnya. Seniman ini sesekali berhenti mengecat untuk menyapa para pengunjung yang ingin berfoto di depan hasil karyanya. "Silakan bila ingin berfoto," kata Nuriyanto ramah. Saat ditemui Media Indonesia di rumahnya, Senin (12/12), Nuriyanto terus berkreasi membuat lukisan untuk mempercantik kampungnya.

Warna-warni cat mewarnai rumah-rumah di Kampung Tridi dan Kampung Warna-warni, Kota Malang, Jawa Timur. Dalam empat bulan ini, saban hari kedua, kampung di Kelurahan Kesatrian dan Jodipan, Kecamatan Blimbing, Kota Malang ini mendadak populer sebagai destinasi baru pariwisata kota setempat. Reputasi kampung itu cukup populer. Kampung di tepi Sungai Brantas yang sebelumnya kumuh, kini menjadi destinasi baru pariwisata. Sedikitnya dua ribu wisatawan per hari mengunjungi kampung di kompleks situs sejarah Kerajaan Singhasari masa Raja Ken Arok.

Ribuan wisatawan antusias blusukan menyusuri gang-gang sempit di kawasan itu. Rumah-rumah yang ada didesain menarik dengan warna-warni cerah. Tamannya cukup asri, tertata rapi, dan bersih. Warga pun menyapa ramah para pendatang. Mereka pun rela menjadi pemandu wisata tanpa dibayar. Objek wisata jalan-jalan menyisiri perkampungan sambil melihat tata kota yang ramah lingkungan merupakan tren baru saat ini di Kota Malang. Pemandangan Kampung Tridi dan Kampung Warna-warni juga bisa dinikmati dari Jembatan Embong Brantas atau Jembatan Pahlawan Jalan Gatot Subroto.

Ketua RT 2/RW 12, Kelurahan Kesatrian, Kota Malang, Ngateman menjelaskan 22 Desember ini genap empat bulan Kampung Tridi menjadi kampung wisata. Kampung yang direhabilitasi bermodalkan 5 ton cat untuk empat rukun tetangga itu akan diresmikan akhir tahun ini. "Persoalan persampahan di Kampung Tridi terus dibenahi. Sekarang, kesadaran warga sudah terbangun dengan baik melalui bank sampah," tegasnya.

Nantinya akan dibangun jembatan yang menghubungkan Kampung Tridi dengan Kampung Warna-warni. Saat ini Kampung Tridi memiliki 116 corak karya lukisan berbagai tema merata di gang, taman, trotoar, jalan, dinding, dan atap rumah-rumah warga. Pewarnaan dan lukisan akan ditambah untuk melengkapi kreativitas dan inovasi. "Penataan kampung bersama warga dan pemerintah. Untuk menarik minat kunjungan wisata, warga diminta mengembangkan sikap ramah dan bersahabat. Pemuda yang mabuk dilarang memasuki areal kampung," ujarnya.

Kampung Tridi dan Kampung Warna-warni merupakan contoh keberhasilan Pemerintah Kota Malang dalam menata kota. Di kota itu setidaknya ada sekitar 38 kampung tematik tersebar di 57 kelurahan, yang layak dikunjungi sebagai kampung berbasis pariwisata. Keberhasilan lainnya dalam menata ruang dan wilayah semula kumuh menjadi ramah lingkungan ialah Kampung Glintung 3G. Kampung di Kelurahan Purwantoro Malang itu gaungnya sampai internasional setelah menerapkan konsep menabung air.

Konsep itu menerapkan lubang biopori dengan kedalaman 1 meter. Medianya memanfaatkan kaleng bekas 5 kg hingga 25 kg. Juga ada biopori trans-infiltrasi lubang memiliki kapasitas bisa menampung 49 ribu liter air. Dampaknya meningkatkan resapan air ke tanah sekaligus membuat suhu udara turun dan mengurangi pemanasan global. Di ajang Guangzhou International Award for Urban Innovation 2016 di Tiongkok, 5-8 Desember lalu, Glintung Go Green mendapatkan penghargaan kampung yang mampu menginspirasi dunia. Kemenangan itu sekaligus menyandingkan Kota Malang sejajar dengan kota-kota maju seperti Brussel (Belgia), kopenhagen (Denmark), dan Boston (Amerika Serikat). (BN/N-3)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Dedy P
Berita Lainnya