JUMLAH penderita infeksi saluran pernapasan atas (ISPA) akibat serangan kabut asap yang melanda sejumlah wilayah di Kalimantan Selatan terus meningkat. Di Banjarmasin, ibu kota Kalsel, penderita ISPA meningkat dua kali lipat ketimbang sebulan terakhir. Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Kalsel, Sukamto, kemarin, mengungkapkan sepanjang September 2015 terjadi lonjakan penderita ISPA di tiga daerah. Di Kota Banjarmasin dari 8.736 orang menjadi 12.544 orang.
Kemudian di Kabupaten Barito Kuala (Batola), dari Agustus 2015 tercatat sebanyak 4.247 orang menjadi 4.842 orang, serta Kabupaten Hulu Sungai Tengah (HST) dari 1.728 orang menjadi 4.071 orang. "Dari penderita ISPA di Kalsel yang diperparah kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan tersebut, satu orang dilaporkan meninggal dunia dari Kabupaten HSS, tetapi anak tersebut menderita komplikasi dengan penyakit lain," kata Sukamto. Secara kumulatif, dalam tiga bulan terakhir, kasus penderita ISPA di Kalsel mencapai 88.579 orang.
"Penderita terbanyak berasal di Kota Banjarmasin mencapai 27.164 orang," jelas Sukamto. Selain di Kalimantan, kebakaran hutan dan lahan masih terus mengusik warga yang berada di Pulau Sumatra. Warga Jambi dan Palembang didera udara yang membahayakan kesehatan. Bahkan, kabut asap juga menyerbu hingga wilayah Sumatra Utara. Kondisi kebakaran hutan dan lahan terjadi pula di Papua dan Sulawesi. Terpantau tren peningkatan jumlah titik api.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Bandar Udara (Bandara) Mutiara Sis Aljufri Palu, Sulawesi Tengah, menyebutkan masih terdapat 69 titik api akibat kebakaran hutan dan lahan di sejumlah daerah provinsi itu. "69 titik api tersebar di beberapa kabupaten, di antaranya Poso, Banggai, Tojo Unauna, Morowali Utara, Morowali Tengah, Tolitoli, dan Buol," aku Prakirawan BMKG Bandara Mutiara Sis Aljufri Palu, Affan ND, di Palu, kemarin.
Wilayah Poso menjadi daerah yang hutan dan lahannya paling banyak terbakar. Kepala BMKG Wilayah V Jayapura, Zem Irianto Padama, kemarin, menjelaskan ditemukan total 78 titik api di wilayah Papua. Jumlah itu kebanyakan ada di wilayah selatan, yakni Kabupaten Merauke dan Mappi. Delapan titik api terpantau di Papua Barat. Pekatnya kabut asap membuat penerbangan di Bandara Mozes Kilangin Mimika, Papua, tutup enam hari terakhir. Kepala Dinas Perhubungan Mimika, John Rettob, menyebutkan penerbangan baru saja bisa masuk pada sekitar pukul 16.00 WIT, kemarin.
Masif dan sistematis Di sisi lain, kebakaran hutan dan lahan yang terjadi di beberapa wilayah Indonesia bersifat masif dan sistematis. Karena itu, negara harus sadar bahwa kebakaran hutan kali ini bukan hal yang biasa. Anggota Komisi IV DPR RI, Firman Soebagyo kepada wartawan di Jakarta, kemarin, mengatakan negara harus melihat bahwa kebakaran hutan dan lahan yang terjadi saat ini bukan peristiwa biasa lagi. "Kebakaran bersifat masif dan sistematis. Masif karena ini terjadi di mana-mana. Sistematis karena kasus kebakaran beruntun dari Sumatra hingga Papua," kata Firman.
Karena itu, politikus senior Partai Golkar itu menduga ada yang mendesain kasus kebakaran hutan di Indonesia. Menurut Wakil Ketua Badan Legislasi (Baleg) DPR RI itu, motivasinya ialah masalah politik ekonomi. Lahan yang terbakar sebagian besar ialah perkebunan kepala sawit dan hutan produksi untuk pembuatan kertas. "Karena itu, asing melalui berbagai perjanjian internasional, termasuk Perjanjian Norwegia, berusaha mematikan potensi nasional," katanya.