KEPIAWAIAN Anye Apui mengelola Tana' Ulen, baik itu menjaga kelestarian flora maupun fauna termasuk memiliki pengelolaan ekowisata, membuatnya diganjar penghargaan Kalpataru. Penghargaan itu diserahkan langsung oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pada 2009 di Istana Negara. Penghargaan itu diraih Anye setelah namanya diusulkan World Wide Fund (WWF) dan pemerintah lokal serta Bappeda lingkungan hidup. Usulan mereka berdasarkan upaya Anye yang memelihara 1.500 hektare (ha) Tana' Ulen.
"Kita seperti diberi semangat baru (dengan penghargaan Kalpataru) supaya kita lebih keras lagi mempertahankan itu (Tana' Ulen)," ujar Anye. Anye dinilai memberikan pengharapan bagi daerah lain guna merawat Tana' Ulen mereka. Pasalnya, banyak Tana' Ulen di kawasan lain sudah rusak atau hilang. Dalam pengelolaan Tana' Ulen, Anye membentuk Badan Pengurusan Tana' Ulen. Badan itu memiliki 10 seksi, dengan setiap seksi terdiri atas 10 orang. Ada bagian yang mengurus ekowisata, pemanfaatan hutan, dan lainnya. Dengan cara itu, masyarakat bisa saling menjaga dan merasa memiliki Tana' Ulen.
Perang Satu hal yang paling Anye ingat saat ia muda ialah ikut berperang bersama TNI di perbatasan saat konfrontasi dengan Malaysia. Anye kala itu membawa 100 orang Dayak mendampingi TNI. "Saya bawa 100 orang, tapi yang kembali 98 orang saja," ujar Anye. Mereka sengaja dipilih mendampingi TNI karena mereka lebih paham dengan kondisi alam. Hal itu memberikan keunggulan bagi TNI menghadapi Malaysia yang menurut penuturan Anye dibantu tentara Gurkha.
Saat bertempur, Anye juga menggunakan senjata api. Saat baku tembak, pinggir mata kirinya sempat terkena serpihan kayu akibat tembakan lawan. Namun, darah yang mengalir tidak dirasakannya dan ia terus bertempur. Ternyata Anye merupakan sosok yang ditakuti lawan. Bagaimana tidak, jasad lawannya ia penggal dan ia sempat memakan otak lawan. "Hal itu buat lawan takut dan memberikan semangat untuk TNI," ujar Anye sambil tersenyum mengenang masa lalunya.
Keberhasilan mereka memukul mundur Malaysia mendapatkan penghargaan dari Presiden Soekarno. Anye dan sang ayah didatangkan ke Jakarta untuk bertemu orang nomor satu Indonesia itu di Istana. Anye memang tidak lama berada di Jakarta. Hanya satu minggu dan ia memutuskan kembali ke Long Alango. Baru tiba tiga hari di desanya, Anye dikejutkan dengan penangkapan sejumlah jenderal TNI dalam peristiwa Gerakan 30 September.