Patok Negara pun Ikut Merana

(Victor Ratu/Ant/N-2)
14/12/2016 00:45
Patok Negara pun Ikut Merana
(ANTARA FOTO/Ismar Patrizki)

BERBEDA dengan warga yang merana karena kondisi jalan perbatasan yang amburadul, Agus Salim memprihatinkan porak-porandanya ratusan patok penanda batas negara. Anggota TNI Angkatan Darat berpangkat sersan kepala itu sudah menginventarisasi puluhan patok batas negara yang rusak di Kecamatan Kayan Ulu, Kabupaten Malinau, Kalimantan Utara. "Dari total 432 patok di kecamatan ini, 30 patok rusak sedang dan 20 patok rusak parah dan tidak layak. Kerusakan terjadi karena sejumlah alat berat perusahaan dari Malaysia yang merobohkan pohon secara ilegal di wilayah Tapak Mega, Serawak," papar komandan Pos Pengamanan Perbatasan Desa Betaoh, Kecamatan Kayan Hilir ini.

Agus mengungkapkan dia dan kesatuannya sudah melaksanakan tugas utama patroli pengamanan patok batas. Pihaknya sudah memeriksa 432 patok batas di wilayah kerjanya. Kerusakan banyak ditemukan di jalur masuk Indonesia-Malaysia, atau yang dikenal dengan sebutan kamp Tapak Mega. "Jalur ini sering digunakan masyarakat dari kedua negara untuk saling menyeberang," tutur tentara dari Kesatuan Yonif 713/Satya Tama, Kodam VII/Wirabuana, itu.

Kodim 0910/Malinau mencatat sepanjang jalur garis batas di wilayahnya yang mencapai 408 kilometer terdapat 5.121 patok batas. Mereka tersebar di 5 kecamatan, yakni Kecamatan Bahau Ulu terdapat 1.021 patok, Kecamatan Pujungan 1.904 patok, Kayan Hilir 1.118 patok, Kayan Hulu 435 patok, dan Kayan Selatan 643 patok. Untuk menjaga garis perbatasan, pemerintah mendirikan enam pos pengamanan perbatasan, yang berada di Nawang, Kecamatan Kayan Ulu, Long Ampung di Kayan Selatan, Metun dan Betaoh di Kayan Hilir, Apo Ping di Bahau Ulu serta Pos Pamtas Pujungan.

Kendala lain yang dihadapi para penjaga perbatasan ini ialah masalah mobilitas. Agus dan pasukannya tidak memiliki kendaraan untuk berbagai kegiatan. Di antaranya distribusi bahan makan dari Long Nawang ke pos pengamanan perbatasan di Desa Betaoh yang berjarak 40 kilometer. Dengan berjalan kaki, jarak itu ditempuh selama 8 jam. "Sebagai prajurit TNI, kami tetap berkomitmen menjaga NKRI dari gangguan luar. Apa pun kondisinya kami selalu siap menjaga negara," tegas Agus.

Serbaterbatas
Sekretaris Badan Pengelola Perbatasan Kalimantan Utara Burhanudin mengaku sudah memperoleh laporan soal banyaknya patok batas antara Indonesia dan Malaysia yang rusak, di antaranya di Long Nawang, Malinau. "Kerusakan diduga terjadi karena alat berat negara tetangga yang beroperasi di kawasan perbatasan. Kami berharap tidak ada unsur kesengajaan." Pemeliharaan patok perbatasan, lanjut dia, merupakan kewenangan negara masing-masing. Perbaikan disepakati tidak pindah dari posisi semula.

Di perbatasan, para prajurit TNI melakukan patroli perbatasan untuk menjaga patok setiap tiga bulan sekali. Setelah itu, mereka kembali ke pos pengamanan perbatasan. Di Long Nawang, pos yang ditempati berupa rumah panggung yang terbuat dari kayu. Ukurannya 20 x 10 meter yang terbagi menjadi lima ruangan. Di teras rumah panggung, ada pos yang digunakan untuk berjaga siang dan malam.

Di belakangnya ada ruang tamu dan satu ruang kesehatan. Di dalamnya terdapat satu lemari kayu kecil untuk menyimpan cairan infus dan peralatan P3K. Meskipun dinamakan ruang kesehatan, di dalamnya tidak ada ranjang untuk berbaring bagi pasien. Setiap regu penjaga biasanya bertugas selama sembilan bulan. Setelah itu, mereka digantikan prajurit dari komando daerah militer (kodam) lain. Menggunakan telepon seluler bukan perkara mudah. Para tentara itu harus berjalan menanjak hingga 20 meter untuk mendapatkan sinyal telepon. (Victor Ratu/Ant/N-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Dedy P
Berita Lainnya