Dilarang Berkeliling Pendapatan Kering

(Yanurisa Ananta/J-3)
13/12/2016 03:30
Dilarang Berkeliling Pendapatan Kering
(ANTARA/RENO ESNIR)

KRING...Kring...kring, bunyi bel sepeda para pedagang bersahutan saat berkeliling di Taman Surapati, Menteng, Jakarta Pusat. Belasan pedagang yang bersepeda sejak pukul 16.00 WIB berlalu lalang menjajakan dagangan. Ada yang menjajakan minuman panas (kopi, cokelat, dan teh), rokok, dan tahu gejrot. Suasana itu mulai hilang sejak dua bulan terakhir. Pengunjung Taman Surapati saat ini tidak bisa lagi menikmati keriuhan mereka. Sejak Juli tidak ada lagi pedagang bersepeda yang berkeliling di area taman. Mereka baru diizinkan memasuki area taman pada pukul 22.00 hingga subuh.

Padahal, sebelumnya mereka sudah mulai 'mangkal' sejak pukul 16.00 WIB hingga subuh. Kini mereka harus menguras tenaga karena harus berjalan kaki, tidak boleh lagi bersepeda di taman. Sembari membawa nampan dan termos, pengunjung taman menandai pedagang minuman. Pedagang tahu gejrot sudah kentara dengan pikulan kayu. "Sekarang pendapatan saya hanya Rp100 ribu karena harus berkeliling jalan kaki. Dulu biasanya semalam bisa dapat Rp300 ribu," lirih Yadi, 38, pedagang minuman bersepeda asal Tasik, yang ditemui, pekan lalu.

Ia menjelaskan saat ini ia hanya mampu menjual dua termos air dalam sehari dengan kapasitas satu termos 3,5 liter. Padahal, sebelumnya ia bisa menjual bergelas-gelas minuman dari 4-6 termos. Berdasarkan pantauan Media Indonesia, akhir pekan lalu, pedagang di Taman Surapati terbilang tertib. Pedagang hanya sesekali berani berkeliling di area taman. Pasalnya, gerak-gerik mereka diawasi petugas keamanan taman, Satpol PP, dan petugas Dinas Perhubungan dan Transportasi. "Kami enggak berani berkeliling meskipun kami kenal dengan petugas keamanan dan Satpol PP di sini. Namun, kan enggak enak itu juga tugas mereka. Makanya kami turuti saja," imbuh Yadi.

Sanadi, 58, pedagang tahu gejrot asal Cirebon, pun tak berkutik. Selain karena sudah berumur, ia lebih senang berjualan dengan mangkal ketimbang berkeliling seperti dulu. "Kalau dulu ruwet. Sepeda ada yang ke sana, ada yang ke mari. Semrawut. Sekarang lebih enak, tertib," tandas Sanadi sambil menggerus bawang merah dan cabai hijau malam itu. Sanadi bercerita pelarangan berjualan di Taman Surapati dimulai setelah terjadi keributan pada bulan puasa lalu. Saat itu ada sekelompok orang melakukan sahur on the road di sana.

Mereka dinilai mengganggu ketertiban karena lokasi taman tak jauh dari rumah pejabat. Akibatnya, pedagang di sana mendapat larangan dagang berkeliling. Dampak lanjutannya, pendapatan mereka turun drastis. Sanadi yang biasanya bisa membawa Rp400 ribu untuk keluarganya kini paling hanya mendapat Rp200 ribu. Jumlah pengunjung Taman Surapati pun kini tidak sebanyak dulu. Berkurangnya jumlah pedagang menurunkan daya tarik Taman Surapati. Aal, 26, kini mengaku sebal karena kebiasaannya menunggu macet terurai sepulang kerja tidak seasyik dulu. "Sekarang kalau nongkrong sore di sini bingung enggak bisa sambil ngopi. Padahal, dulu saya sering sengaja pulang kerja duduk-duduk di sini sambil tunggu macet," kata Aal.



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Dedy P
Berita Lainnya