"ASSALAMMUALAIKUM...." terdengar suara dari luar rumah.
Di balik pintu seorang anak laki berseragam sekolah melepas sepatunya.
Namanya Rahmat Sipa, 12. Setiap pulang sekolah, bocah kurus berkulit gelap itu terbiasa memberi salam jika mau masuk rumah.
Ayahnya, Horsea Bancin, salah seorang anggota Jemaat Gereja HKI di Desa Suka Makmur, Kecamatan Gunung Meriah, Aceh Singkil, pun menjawab salam dari anaknya tersebut, "Wa alaikum salam...."
"Dua anak saya sudah terbiasa memberi salam dengan cara umat Islam. Mereka terbiasa dari sekolah dan saya tidak pernah melarang, sementara ajaran agama kami mengajarkan jika memasuki rumah atau berjumpa orang, cukup mengucapkan salom. Itu tidak masalah, kami menjalaninya di lingkungan kami," tutur Horsea.
Ia pun kemudian menyuruh Rahmat untuk ganti baju dan segera makan siang.
Horsea menuturkan anak-anaknya sempat takut berangkat ke sekolah pascapembakaran rumah ibadah beberapa waktu lalu.
Namun, setelah ratusan anggota TNI-Polri disiagakan menjaga wilayah itu, proses belajar-mengajar di sekolah akhirnya normal kembali.
"Selama ini, perbedaan agama tidak menjadi masalah di sekolah-sekolah. Anak-anak umat Kristen dan Islam belajar di satu kelas dan berbaur saat bermain. Bahkan anak-anak kami ikut belajar agama dari guru Islam," ujarnya.
Saat ini, pria berusia 42 tahun yang merantau ke Aceh Singkil itu telah memiliki empat anak dari pernikahanya dengan perempuan setempat.
Horsea yang beragama Kristen mengaku hidup rukun berdampingan dengan warga muslim lainnya di Desa Suka Makmur sejak 1994.
"Sejak saya menetap di sini tidak pernah terjadi cekcok. Umat Kristen dan Islam hidup berdampingan dan saling menghargai satu sama lainnya. Peristiwa pembakaran rumah ibadah di desa kami telah merusak keharmonisan umat beragama yang selama ini terjalin," terangnya.
Saat ini, ada 2.523 jiwa peduduk Desa Suka Makmur.
Sekretaris desa setempat, Riato Marbun, menjelaskan sedikitnya 60% warga menganut agama Kristen, selebihnya beragama Islam dan lainnya.
"Meski Kristen mayoritas di desa ini, kehidupan sosial warga setempat sangat menghargai toleransi beragama," ujarnya.