30% Bangunan Sekolah Rusak

Ferdian Ananda Majni
08/12/2016 04:11
30% Bangunan Sekolah Rusak
(MI/Ferdian Ananda)

GEMPA tektonik berkekuatan 6,5 pada skala Richter yang berpusat di Kabupaten Pidie Jaya, Aceh, Rabu (7/12) lalu, telah meluluhlantakkan 30% bangunan sekolah.

Kerusakan terbanyak terjadi pada bangunan sekolah dasar (SD).

"Sebanyak 30% lebih bangunan sekolah rusak akibat gempa dan sekolah juga telah diliburkan," kata Kepala Dinas Perhubungan Kebudayaan Pariwisata, Komunikasi dan Informatika, Kabupaten Pidie Jaya, Nasir, kemarin.

Gempa yang terjadi jelang azan subuh itu merusakkan 19 bangunan SD, 11 bangunan sekolah menengah pertama (SMP), dan 1 bangunan sekolah menengah atas (SMA).

"Kami sedang fokus pada evakuasi korban gempa. Kami upayakan aktivitas pendidikan kembali normal Senin (12/12) mendatang," terang Nasir.

Meski telah diliburkan, masih ada beberapa siswa yang mendatanginya sekolah mereka.

Di SMP Negeri 1 Meureudu dan SMA Negeri 1 Meureudu, siswa yang sudah datang terpaksa kembali ke rumah masing-masing karena sebagian bangunan sekolah rusak.

Kadis Pendidikan Pidie Jaya Saiful menegaskan seluruh sekolah diliburkan karena kondisi yang tidak memungkinkan.

Hingga tadi malam, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat jumlah korban gempa di Pidie Jaya, Aceh, mencapai 646 jiwa, di antaranya 99 meninggal, 127 luka berat, dan 462 luka ringan.

Wilayah terparah terdampak gempa ialah Meureudu, Trienggadeng, Ulee Glee, dan Meurah Dua.

Di Kecamatan Meurah Dua, lokasi pengungsian berada di Masjid Al Munawarah Desa Meunasah Bie dengan jumlah 3.000 orang, Desa Meunasah Mancang 500 orang, dan Meunasah Jurong 100 orang.

Di Kecamatan Trienggadeng, pengungsi berdiam antara lain di Masjid Attaqarub Keude Trienggadeng sebanyak 800 orang, Desa Sagoe 300 orang, dan Desa Kuta Pangwa 500 orang.

Sementara di Kecamantan Meureudu, pengungsi mendiami Kantor PLN 120 orang, Masjid Tuha 200 orang, Meunasah Lhok 200 orang, Meuraksa Barat 800 orang, dan Meuraksa Timur 400 orang.

Pilih mengungsi

Siti Hawa, 36, warga Desa Meue, Kecamatan Trienggadeng, memilih mengungsi karena takut tidur di rumah.

"Gempa masih terjadi lagi. Jadi, kami sepakat mengungsi di pondok dekat jalan besar. Apalagi rumah tidak jauh dari laut," katanya.

Meskipun tidak bisa tidur nyenyak di pengungsian, yang penting lebih aman karena bersama dengan warga lain.

Kemarin, Polda Sumut mengirim 221 personelnya untuk membantu pelaksanaan operasi kemanusian korban gempa Aceh.

Sejumlah posko bantuan didirikan di antaranya oleh Polres Bangkalan, Jatim, dan Ikatan Mahasiswa Aceh Makassar (IMAM) di Sulsel.

PT Pertamina EP Rantau Field yang berlokasi di Aceh Tamiang, juga langsung bergerak mengumpulkan bantuan seperti selimut, handuk, perlengkapan bayi, pembalut wanita, air mineral, dan obat.

"Kami berharap warga Pidie Jaya dapat bersabar atas bencana ini, kami terus berdoa," pungkas Richard Muthalib, Rantau Field Manager PT Pertamina EP.

Doa juga dihaturkan kader Partai NasDem Bali di Pura Jaganatha Denpasar, Kamis (8/12) sore.

(PS/LN/MG/OL/N-4)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya