Menyelamatkan Permainan Punah lewat Lomba Kaulinan
Benny Bastiandy/N-4
13/10/2015 00:00
(MI/BENNY BASTIANDY)
ASEP, 9, siswa sekolah dasar di Kota Sukabumi, Jawa Barat, menenteng daun singkong yang masih ada batangnya.
Ia kemudian mengikatnya menjadi sepasang tokoh wayang. Batang daun singkong dijadikan kepala, tubuh, dan tangan, sedangkan daunnya dijadikan pakaian.
Dengan memakai baju khas Sunda sekaligus ikat kepala, Asep tampak berkonsentrasi menghafalkan dialog yang akan dibawakan dalam unjuk kabisa lomba Kaulinan Urang Lembur yang diselenggarakan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Sukabumi, kemarin.
Sementara beberapa temannya belajar main gasing dan egrang.
Acara itu mendapat respons positif dari anak-anak sekolah.
Bahkan, anak-anak pun baru tahu ada banyak permainan tradisional yang ada di Sukabumi, tapi sudah dilupakan.
Beberapa anak mengaku tidak tahu apa itu permainan tradisional gatrik, galah asin, egrang, atau lainnya.
Sejumlah anak pun baru tahu adanya permainan tersebut setelah ikut lomba Kaulinan Urang Lembur tersebut.
"Saya sukanya main game. Belum pernah main egrang atau lainnya," aku salah seorang anak yang ikut lomba.
Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Sukabumi mulai menggencarkan permainan tradisional di tiap sekolah.
Bahkan, anak-anak dilatih untuk memasang ikat kepala karena setiap Rabu diadakan Rabu Nyunda, yakni setiap Rabu berpakaian adat Sunda.
"Permainan tradisional anak-anak sangat terancam, bahkan ada yang punah karena adanya perkembangan teknologi. Di Sukabumi, setidaknya ada lima jenis permainan tradisional anak-anak yang mungkin sudah dilupakan," kata Kabid Kebudayaan dan PAUD Nonformal dan Formal, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Sukabumi, Yemmi Yohanni, kemarin.
Ada beberapa jenis permainan tradisional anak-anak yang sudah dilupakan anak, di antaranya gatrik, egrang, galah asing, dan lainnya.
Saat ini, anak-anak lebih menyukai permainan game online yang bisa diunduh lewat ponsel pintar.
"Dengan lomba ini, kami terus memperkenalkan permainan tradisional kepada anak-anak agar tidak terlupakan," ujar Yemmi, kemarin.
Lomba permainan tradisional ini bukan yang pertama kalinya.
Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Sukabumi sudah beberapa kali melakukannya.
Dengan biaya lebih murah dan ramah lingkungan, anak-anak tetap bisa main permainan tradisional serta lebih mengenal permainan lokal.