MESKI gencar dilakukan dan telah mendapat bantuan negara asing, upaya pemadaman kebakaran lahan di Sumatra dan Kalimantan belum akan membuahkan hasil optimal dalam waktu dekat.
Kabut asap pun belum segera berlalu.
Dalam jumpa pers terkait dengan penanganan kabut asap di Kantor Kementerian Koordinator Politik, Hukum, dan Keamanan, Jakarta, kemarin, Menko Polhukam Luhut Pandjaitan mengatakan ada kesulitan tersendiri dalam menangani kebakaran lahan dan hutan tahun ini.
Penyebabnya antara lain indeks El Nino kali ini lebih parah ketimbang pada periode sama 1997.
"Sumber kebakaran di lahan gambut juga sulit dipadamkan. Untuk hujan buatan tak optimal karena potensi awan masih sedikit," tutur Luhut.
Meski begitu, pemerintah tak menyerah.
Fokus operasi pemadaman pun tetap lewat pengeboman air dari udara ke pusat-pusat titik api.
Luhut menambahkan, bantuan asing juga akan terus berdatangan, salah satunya dari Rusia.
Hanya saja, bantuan berupa dua pesawat amfibi BE-200 yang dapat membawa 12 ribu liter air itu bersifat komersial.
"Nanti swasta yang kami minta menanggung biayanya."
Luhut yakin tenggat dua pekan yang diberikan Presiden Joko Widodo, Jumat (9/10), untuk memadamkan kebakaran bisa terpenuhi dengan catatan didukung faktor alam.
"Kalau untuk mengatakan secara total ini bisa selesai, saya masih berharap ada hujan deras selama 3-4 hari dalam dua minggu mendatang. Kalau itu belum ada, kita masih harus hati-hati akan timbulnya api dari bawah karena lahan gambut tadi."
Untuk mengoptimalkan pemadaman api di lahan gambut, timpal Menlu Retno Marsudi, water bombing akan dikombinasikan dengan penggunaan bahan kimia bantuan Jepang.
Bantuan datang pula dari Australia berupa pesawat Hercules L-100 berkapasitas 15 ribu liter air yang akan tiba hari ini.
Thailand dan Tiongkok pun siap membantu.
Menurun Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Siti Nurbaya Bakar menambahkan, ekshalasi panas di pusat titik api sebenarnya sudah menurun.
Namun, lantaran masih cukup tinggi, semua pihak masih harus hati-hati.
Area kebakaran tahun ini sangat luas.
Di Sumatra Selatan, misalnya, mencapai 221 ribu ha, Riau 175.695 ha, dan di Kalteng 441 ribu ha.
Pada kesempatan itu, Kapolri Jenderal Badrodin Haiti menjelaskan upaya penegak-an hukum terhadap pelaku pembakaran lahan dan hutan.
Hingga 12 Oktober, Polri sudah menetapkan 12 perusahaan sebagai tersangka.
Secara terpisah, Kepala Pusat Data, Informasi, dan Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Sutopo Purwo Nugroho mengatakan bencana asap belum akan berakhir dalam waktu dekat meski hotspot sudah berkurang dan jarak pandang membaik.
"Kita belum bisa prediksi kapan selesai. Yang jelas kita terus berusaha memadamkan api, tapi kita juga perlu bantuan alam. Perlu hujan deras tiga hari berturut-turut untuk memadamkan wilayah yang terbakar," tukasnya.
Pada hari kedua operasi internasional penanggulangan kebakaran lahan dan hutan, kemarin, tim memusatkan pemadaman di Ogan Komering Ilir (OKI), Sumsel.
Kepala BNPB Willem Rampangilei mengutarakan pihaknya menerjunkan lima helikopter dan satu pesawat, pesawat bantuan Malaysia, dan helikopter Chinook dari Singapura.
"Masih ada asap di lahan yang sebelumnya sudah dipadamkan." (Fox/Bhm/Tlc/Ric/X-9)