Derita Korban Asap Bertambah Lengkap

Baharman/X-5
10/10/2015 00:00
Derita Korban Asap Bertambah Lengkap
Suasana malam kian gelap akibat listrik padam dan kabut asap yang semakin pekat di Palembang, Sumatra Selatan, kemarin.(MI/BAHARMAN)

'POK ame-ame belalang kupu-kupu, siang mati lampu, malamnyo mati banyu. Pok ame-ame belalang kupu-kupu, rakyat bokek, pimpinannyo tambah cuek. Pok ame-ame belalang kupu-kupu, pagi, siang, malam hisap asap samo debu...'

Lagu anak-anak Pok Ame-Ame yang dipelesetkan pengamen di Palembang itu tampaknya cukup mewakili kondisi kehidupan sebagian masyarakat Bumi Sriwijaya, khususnya Kota Pempek.

Sudah hampir empat bulan terakhir sekitar 3 juta jiwa warga Palembang harus hidup prihatin. Mereka tidak lagi bisa merasakan udara segar dan kicauan burung serta kehangatan sinar matahari karena pekatnya asap.

Kabut asap kebakaran hutan dan lahan itu menambah derita pasangan suami istri Hendra Saputra, 33, dan Mursida, 34.

Warga Kelurahan 16 Ulu, Kecamatan Seberang Ulu I, itu kehilangan buah hatinya, Muhammad Husin Syahputra, yang meninggal pada Selasa (6/10) malam akibat menderita infeksi saluran pernapasan atas (ISPA).

Bayi berusia 28 hari tersebut meninggal di Rumah Sakit Muhammadiyah Palembang, setelah demam panas pada Senin (5/10) malam.

Keluarga itu berencana membawa sang bayi ke rumah sakit, tetapi urung karena udara Senin petang itu diselimuti asap pekat. Kemudian, Selasa (6/10) pagi Hendra dan Mursida membawa anak bungsu mereka itu ke klinik bidan terdekat. Baru beberapa langkah dari rumah, sang bayi susah bernapas.

Pada hari itu sepanjang hari Kota Palembang diselimuti asap dengan indeks standar pencemar udara (ISPU) mencapai 400 mikrogram/m3 yang berarti berbahaya.

"Bidan tidak sanggup dan menyarankan kami ke rumah sakit," tambah Hendra.

Sesampainya di RS Muhammadiyah, bayi tersebut langsung dibantu alat pernapasan oksigen.

"Selasa malam sekitar pukul 19.30 Wib, anak saya tidak tertolong," papar Hendra yang bekerja sebagai buruh bangunan itu.

Penderitaan warga lain pun kini semakin lengkap. Sudah tiga pekan terakhir listrik di Palembang kerap padam.

"Di dalam rumah panas karena listrik padam jadi tidak bisa menyalakan kipas angin, sedangkan di luar rumah asap menyengat," ujar Cakuk, 52, warga Lorong Sulaksana, Kelurahan 4 Ulu, Kecamatan Seberang Ulu I, Palembang.

Yang menyedihkan lagi jadwal sekolah anak-anak tidak menentu.

"Tiba-tiba sekolah diliburkan. Anak-anak harus belajar di rumah. Malam hari mereka tak dapat belajar karena listrik padam."

Tidak hanya sampai di situ derita warga.

Pasokan air bersih dari perusahaan daerah air minum (PDAM) Tirta Musi pun kini mulai tersendat.



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Admin
Berita Lainnya