HIMPUNAN Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) Jawa Tengah mengajak ribuan petani di empat kabupaten wilayah Solo Raya, yakni Klaten, Sukoharjo, Karanganyar, dan Sragen untuk bekerja keras mengupayakan air melalui sumur pantek. Itu dilakukan agar tanaman padi mereka selamat dari ancaman kekeringan yang mengarah puso atau gagal panen. Penegasan itu dinyatakan seiring dengan dimulainya penutupan pintu Dam Colo selama sebulan sejak 5 Oktober lalu.
Dam Colo merupakan saluran irigasi dari Waduk Gajah Mungkur ditutup untuk pemeliharaan dari sedimentasi. Penutupan itu dipastikan akan mengganggu ketersediaan air irigasi bagi sedikitnya 23 ribu hektare tanaman padi. Sebelum penutupan pintu dam, ketersediaan air irigasi sawah yang ada di lebih dari 100 desa di empat kabupaten tersebut tidak memunculkan masalah bagi pengelolaan tanaman pangan, khususnya padi di empat wilayah kabupaten itu. "Jalan satu-satunya untuk menyelamatkan tanaman padi dari ancaman kekeringan setelah penutupan pintu Dam Colo, ya memang harus mengupayakan air secara mandiri. Bantuan pompa air dari pemerintah dan pompa air yang sudah dimilik kelompok tani harus dimaksimalkan penggunaannya, agar tanaman padi tetap tercukupi kebutuhannya," tukas Ketua HKTI Gunadi Wiryo Sukarjo kepada Media Indonesia, kemarin.
Ajakan senada juga dilontarkan oleh Ketua Kontak Tani Nelayan Andalan (KTNA) Kabupaten Sragen, Suratno. Para pahlawan pangan di 40 desa yang ada di delapan kecamatan wilayah Sragen bekerja lebih keras lagi untuk mendapatkan air irigasi melalui sumur pantek, setelah penutupan pintu Dam Colo dan juga keringnya tujuh waduk kecil di wilayah Bumi Sukowati tersebut. "Ada sedikitnya 9.000 hektare tanaman padi yang tersebar di 40 desa di 8 kecamatan perlu diselamatkan, agar tidak sampai puso. Tetapi ini peristiwa rutin sepanjang tahun. Karena itu, saya yakin teman-teman bisa mengatasi walau harus bekerja lebih keras lagi," tandas Suratno. Hal yang sama juga diungkapkan sejumlah petani di wilayah Kebak Kramat, Kabupaten Karanganyar.
Mereka harus membuat sumur pantek lebih banyak lagi untuk mengganti air irigasi Dam Colo Timur yang tidak mungkin didapat. Produksi padi turun Di bagian lain, kemarau panjang akibat fenomena El Nino membuat produksi padi di Kabupaten Indramayu tidak capai target. Pemerintah pusat pun diminta turun tangan, terutama untuk mengatasi permasalahan ketersediaan air. Hal tersebut diungkapkan Kepala Dinas Pertanian dan Peternakan Kabupaten Indramayu, Firman Muntako, kemarin.
"Pencapaian produksi padi pada tahun ini diprediksi minimal hanya 1,3 juta ton," kata Firman. Padahal sebelumnya capaian produksi padi di Kabupaten Indramayu bisa mencapai 1,7 juta ton. Kemarau pun telah membuat areal tanaman padi gagal panen di Kabupaten Indramayu seluas 21.050 hektare. Adapun yang terancam puso sekitar 10 ribu hektare. Tanaman padi yang puso tersebut tersebar di 24 kecamatan di Kabupaten Indramayu.
Dengan jumlah kecamatan di Kabupaten Indramayu yang berjumlah 31 kecamatan, berarti hanya ada tujuh kecamatan yang lahan pertaniannya bebas puso, yaitu Kecamatan Bangodua, Widasari, Sukra, Bongas, Anjatan, Tukdana, dan Patrol. Namun, lanjut Firman, sekalipun produksi padi tahun ini menurun, Kabupaten Indramayu tetap mengalami surplus beras. Ini dikarenakan kebutuhan konsumsinya hanya 250 ribu ton dan diserap Bulog sebanyak 150 ribu ton.