Mengakali Cabai

Indriastuti
25/11/2016 17:59
Mengakali Cabai
(MI/Bagus Suryo)

SEORANG penjaja ketoprak di dekat Pasar Citayam, Depok mengeluh. "Harga cabai sekarang Rp60 ribu per kilogram. Sudah hampir sebulan harganya enggak turun. Pusing saya," akunya.

Sebagai penjual, ia menghadapi dilema. Jika tidak menaikkan harga ketoprak, ia terancam rugi karena harga cabai sebagai salah satu bahan utama ketoprak tergolong mahal. Bahkan dengan harga cabai sekarang, pembeli masih meminta ketoprak dengan rasa yang lebih pedas. Namun, kalau ia menaikkan harga, para pelanggan protes, bahkan berkurang.

Siapa tak suka sambal? Sebagian masyarakat Indonesia bisa dibilang ialah penggemar sambal. Hampir setiap masakan tradisional memiliki menu pedas. Bahkan, hampir setiap daerah punya sambal khas.

Namun, kegemaran akan sambal ini turut menjadi salah satu masalah dalam perekonomian. Cabai, sebagai bahan pokok utama sambal, ialah penyumbang inflasi yang cukup signifikan. Menurut data BPS, pada Oktober 2016, kelangkaan pasokan cabai merah menyebabkan harga naik.

Kenaikan harga cabai terjadi hampir di seluruh daerah. Penyebabnya sama, berkurangnya pasokan akibat musim pancaroba. Memasuki musim hujan, pasokan cabai diperkirakan akan terganggu karena cabai sangat rentan terhadap perubahan cuaca, termasuk curah hujan yang tinggi.

Pola ini terjadi hampir setiap tahun di Indonesia. Menjelang hari raya Lebaran, musim pernikahan, harga cabai seringkali naik tajam. Berdasarkan data BPS, Oktober 2016 harga cabai merah naik hingga 18,80%, dengan bobot terhadap inflasi mencapai 0,7%.

Selain itu, menurut survei Poldis 2015, distribusi perdagangan cabai merah dari produsen hingga ke konsumen akhir melibatkan dua hingga sembilan fungsi kelembagaan usaha perdagangan. Pasokan yang berkurang, jalur distribusi panjang, mengakibatkan lonjakan harga signifikan. Maka, tidak mengherankan jika kemudian inflasi bergerak naik.

Mengendalikan inflasi menjadi tantangan bagi pemerintah untuk menjaga daya saing Indonesia di pasar dunia.

Lalu, bagaimana dengan cabai?

Salah satu solusi yang diupayakan pemerintah ialah mencanangkan Gerakan Tanam Cabai Musim kemarau (GTCK) pada 2015. Gerakan itu telah dilaksanakan di beberapa kota di Indonesia, antara lain Ciamis, Ternate, dan Pacitan.

Biasanya, petani cabai menanam pada musim hujan, dan panen pada musim kemarau. Alasannya, jika menanam pada musim kemarau, petani membutuhkan biaya yang lebih banyak untuk mengairi lahan.

Kini melalui GTCK petani didorong untuk menanam cabai pada musim kemarau agar bisa panen pada musim hujan untuk menjaga ketersediaan pasokan cabai di pasar. Pemerintah memberikan insentif berupa rain shelter, pompa air dan tandon air, serta menara air.

Tak berhenti di situ, pemerintah membawa solusi lain yang menyasar rumah tangga, yaitu program Pencanangan Gerakan Nasional Penanaman 50 juta Pohon Cabai (Gertamcabe) di pekarangan. Program itu diluncurkan secara simbolis oleh Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman di Lapangan Tembak 600 Kostrad di Cilodong, Depok, pada Selasa (22/11).

Pemerintah mencanangkan penanaman hingga 50 juta pohon hingga 2017. Kementerian Pertanian akan memberikan bantuan 10 juta pohon yang akan disalurkan ke daerah-daerah.

Diharapkan, tiap ibu rumah tangga bisa menanam 20 pohon cabai di pekarangan. Bibit dan polybag akan disediakan secara gratis. Karena pohon cabai tidak terlalu besar, bisa ditanam dengan sistem bertingkat jika lahan pekarangan terbatas.

Jika rumah tangga bisa memenuhi kebutuhan cabainya secara mandiri, untuk jangka panjang diharapkan akan mampu mengurangi permintaan cabai di pasar sehingga harga cabai relatif stabil dan tidak bergejolak. Apakah program ini mampu menjadi solusi? Kita lihat saja nanti. (X-12)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Ahmad Punto
Berita Lainnya