RIBUAN balita di Sumatra dan Kalimantan terserang infeksi saluran pernapasan atas (ISPA) akibat kabut asap yang belum juga hilang. Sudah tiga bulan kabut asap menyelimuti Sumatra dan hingga kini kondisinya masih pekat. Warga pun cuma bisa pasrah menghadapi bencana asap. Di Bengkulu, sedikitnya 1500 balita dari total 2100 orang yang menderita ISPA di Kabupaten Bengkulu Utara, Kaur, akibat kabut asap sejak Juli lalu.
Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Bengkulu Utara M Ikhsan mengatakan jumlah pasien ISPA didominasi anak-anak, balita, dan lanjut usia. "Jumlah pasien akan terus meningkat pada September ini," ujar Ikhsan, kemarin. Di Batam, Kepri, sebanyak 6000 warga menderita infeksi saluran pernapasan atas (ISPA) akibat kabut asap. Mayoritas penderita ISPA ialah anak-anak. Di Jambi, justru banyak anak yang pergi ke sekolah tidak menggunakan masker karena sudah bosan harus menutup hidung dan mulut.
Apalagi, sudah tiga bulan kabut asap belum juga pergi dari Kota Jambi. "Sudah bosan, kepanasan, dan tidak nyaman," keluh Ardi, siswa kelas lima SD di Jambi. Namun, sebagian masyarakat khawatir dengan sikap nekat anak-anak yang tidak mau menggunakan masker karena sudah bosan. "Mestinya pemerintah dan pejabat teknis turun ke masyarakat dan menyikapi bahaya kabut asap. Setahu saya, pejabat baru turun ke masyarakat membagikan masker murah saat diliput media massa," keluh Taufik, warga Jambi.
Apatis Sikap apatis dan pasrah mulai terlihat dari sikap warga yang menjadi korban kabut asap. Seperti di Kota Pekanbaru, Riau, warga hanya bisa pasrah menghirup asap beracun selama tiga bulan ini. "Kami sudah pasrah. Sudah tiga bulan kami menghirup asap dengan status berbahaya," kata Budi Otman, warga Jalan Tanjung Pekanbaru. Menurutnya, selama ini pelaku pembakaran hutan belum mendapat hukuman setimpal.
Sementara warga yang menjadi korban kabut asap terus bertambah. "Kami cuma bisa berharap pelaku kejahatan bisa dihukum setimpal," harapnya. Sikap pasrah juga melanda pejabat Gubernur Kalimantan Tengah, Hadi Prabowo. Dia tidak bisa menargetkan kapan kabut asap bisa hilang di wilayahnya. Selain tanpa target, dana tanggap darurat yang dijanjikan pemerintah pusat untuk Kalteng belum juga cair. Dana tanggap darurat yang diminta Pemprov Kalteng sebesar Rp23 miliar, tapi baru dicairkan Rp3,1 miliar.
Hingga saat ini, sudah satu bulan kabut asap menyelimuti Palangkaraya, Ibu Kota Kalimantan Tengah. Masalah lain yang menghadang, yakni luasnya lahan gambut yang terbakar di Kalteng cukup sulit dipadamkan. "Kita berdoa saja supaya hujan cepat turun dan api segera padam di Palangkaraya," ujar Hadi Prabowo pasrah. Pada bagian lain, tiga warga Desa Berkun, Kecamatan Limun, Kabupaten Sarolangun, Jambi, tewas terkepung api saat membakar kawasan hutan untuk membuka area perladangan di sekitar hutan lindung Bukit Bulan. Ketiga orang tersebut bernama Hasan, 55, Yahya, 45, dan Tarmizi, 46, ditemukan warga pada sore hari di sebuah cekungan di pinggir ladang yang terbakar. Camat Limun, Dahlan, membenarkan ketiga warganya tewas cukup tragis dan kasusnya sudah ditangani polisi.