Damaikan Dunia dengan Angklung

Budi Mulia Setiawan/N-4
21/11/2016 04:05
Damaikan Dunia dengan Angklung
(ANTARA/Agus Bebeng)

TERIK matahari yang membakar kulit tak menyurutkan niat 6.000 pelajar dan mahasiswa se-Jawa Barat untuk memainkan angklung bersama-sama di halaman Gedung Sate, Kota Bandung, Jawa Barat, kemarin.

Tak hanya lagu-lagu khas Bumi Parahiyangan seperti Manuk Dadali dan Peuyeum Bandung, ribuan pelajar juga memainkan lagu daerah lain seperti Rambe Yangko dari Papua hingga ost film Frozen, Let it go.

Ini merupakan tahun ke-6 diperingatinya Hari Angklung, sejak Organisasi Pendidikan, Ilmu Pengetahuan, dan Kebudayaan (UNESCO) milik PBB menjadikan angklung sebagai Karya Agung Warisan Budaya Lisan dan Nonbendawi Manusia.

"Setelah ditetapkan oleh UNESCO sebagai warisan dunia tak benda asli Indonesia pada November 2010 silam di Nairobi, Kenya, angklung ini sudah menjadi budaya dan milik dunia," kata Gubernur Jawa Barat, Ahmad Heryawan.

Aher menegaskan, angklung kini bukan hanya sekadar alat musik tradisional urang Sunda, melainkan juga menjadi simbol perdamaian bangsa-bangsa dunia.

"Karena itu, sebarkan perdamaian ke dunia dengan angklung," ucap Aher.

Selanjutnya, ia meminta seluruh pemain angklung yang hadir di lokasi acara untuk mengangkat angklung di tangan masing-masing.

"Saya komandoi ya. Getarkan dunia dengan angklung," kata Aher berteriak dan kemudian disusul suara gemuruh dari semua pemain angklung yang hadir.

Terbuat dari bambu, angklung yang berkembang di kalangan masyarakat Sunda ini mengeluarkan bunyi jika digoyangkan.

Satu kelompok, satu nada.

Cukup ikuti arahan sang dirigen langsung bisa main.

Inilah pedoman dasar yang harus diikuti saat bermain angklung.

Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Jabar Ida Hernida menambahkan, sebagai acara tahunan, Hari Angklung menjadi wadah untuk meningkatkan kecintaan dan kepedulian terhadap alat musik tradisional angklung.

"Kegiatan ini adalah wujud nyata upaya masyarakat Jabar dalam memelihara dan mengembangkan seni angklung. Pemprov Jabar akan terus berupaya meningkatkan dukungan terhadap kegiatan berkesenian, termasuk seni angklung." jelasnya

Di Jawa Barat, angklung sudah dipopulerkan sejak usia taman kanak-kanak (TK) hingga perguruan tinggi.

Alat musik bambu ini juga menjadi mata pelajaran ekstrakurikuler di beberapa sekolah.

"Ini menjadi motivasi bagi pelatih/pengajar, pelajar, mahasiswa untuk terus mencintai seni khususnya seni angklung," ujarnya.

Selain melestarikan budaya Nusantara, pergelaran angklung ini bertujuan mempererat semangat Bhinneka Tunggal Ika yang tengah diguncang prahara.



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya