Tiga Penambang Tewas

Ferdian Ananda Majni
18/11/2016 02:25
Tiga Penambang Tewas
(Sumber: BMKG/Foto: Antara/Grafis: Ebet)

BENCANA alam mulai memakan korban.

Kemarin, tiga penambang emas di Aceh tewas karena tanah longsor dan dua anak tewas di Sumatra Barat setelah terseret gelombang tinggi.

Peristiwa nahas di kawasan hutan Pegunungan Lamjeue, Desa Pulo Loih, Kecamatan Geumpang, Pidie, Aceh, itu menimpa enam penambang emas liar.

Karena hujan deras, bukit di lokasi longsor dan menimpa mereka. Tiga penambang tewas di lokasi kejadian.

"Para penambang tengah beristirahat di kamp saat bukit di Pegunungan Pulo Loih longsor dan menimpa mereka. Tiga tewas dan tiga lainnya mengalami patah tulang dan kondisi mereka kritis," kata Kapolres Pidie AKB Muhammad Ali Kadhafi.

Bencana lain berupa ombak tinggi mendatangi tiga bocah yang tengah bermain air di Pantai Patenggangan, Kelurahan Parupuk Tabing, Kototangah, Kota Padang, Sumatra Barat. Dua anak ditemukan sudah tidak bernyawa dan satu lagi masih dicari.

"Ada enam anak yang bermain di pantai. Tiga selamat dan tiga dibawa ombak," kata Kapolsek Kototangah Komisaris Jon Hendri.

Kemarin, banjir dan longsor juga menyebabkan sejumlah jalan terputus.

Di Kabupaten Muaraenim, Sumatra Selatan, longsoran di Desa Karya Nyata, Kecamatan Semendo Darat Laut, membuat arus lalu lintas Sumatra Selatan-Bengkulu, terputus.

"Longsoran mengenai badan jalan. Akibatnya badan jalan ikut turun hingga kedalaman 50 meter sehingga jalan benar-benar tidak bisa dilalui," kata Kepala Dinas PU Bina Marga Kabupaten Muara Enim Ahmad Yani.

Luapan Sungai Pangabuan di Kabupaten Tanjungjabung Barat membuat lalu lintas Jambi-Riau dan sebaliknya terkendala.

Banjir terparah merendam 300 meter badan jalan di Km 91, di depan Kantor Polsek Merelung.

Banjir dilaporkan masih terjadi di Garut, Karawang, dan Bandung, Jawa Barat; Hulu Sungai Tengah dan Banjar, Kalimantan Selatan; Bojonegoro, Jawa Timur; Rembang, Blora, dan Demak, Jawa Tengah.

Gempa Malang

Terkait dengan gempa bumi berkekuatan 6,2 SR yang berpusat di tenggara Kabupaten Malang, Jawa Timur, Rabu (16/11) malam, Kepala Stasiun Geofisika Yogyakarta, BMKG, Tony Agus Wijaya meminta masyarakat tidak perlu cemas. "

Meski kekuatannya cukup besar, karena pusat gempanya jauh dari daratan, getaran gempa bisa tidak dirasakan masyarakat."

Ia mengakui dalam beberapa bulan terakhir, warga Yogyakarta sering merasakan gempa.

Gempa yang bisa dirasakan rata-rata tiga sampai empat kali dalam sebulan.

"Warga harus tetap waspada," tandasnya.

Gempa di Malang, menurut Kepala BPBD Jawa Timur Sudarmawan, menyebabkan 31 rumah rusak, terdiri atas 3 rumah rusak berat, 9 rusak sedang, dan 19 rusak ringan.

Tak ada korban jiwa atau luka.

Kabid Kedaruratan dan Logistik BPBD Kabupaten Malang Bagyo Setiono mengaku masih terus mendata kerusakan.

(MR/SL/DW/FL/BN/AB/HS/BB/WJ/RF/LD/YK/AS/N-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya