Becak BSA Pematangsiantar Riwayatmu Kini

Januari Hutabarat/N-1
15/11/2016 04:21
Becak BSA Pematangsiantar Riwayatmu Kini
(ANTARA/Irsan Mulyadi)

BECAK di Kota Pematangsiantar, Sumatra Utara, kian terancam kehilangan kekhasan.

Pasalnya, tidak sedikit pemilik becak bermotor yang mulai mengganti sepeda motor Birmingham Smail Arm (BSA) klasik penarik becak dengan sepeda motor yang lebih muda, murah, dan irit bahan bakar minyak (BBM).

Padahal, kendaraan yang dibuat sebagai transportasi perang produksi pabrikan asal Inggris di era 1941 hingga 1956 dan bertransformasi menjadi penarik becak itu dipandang sebagai salah satu ikon di kota tersebut.

Seperti diungkapkan pemilik becak siantar, Ridwan Saragi, 42, yang menggantikan mesin berkapasitas 500 cc penarik becaknya dengan sepeda motor bebek.

Padahal, dia mengakui, BSA yang dulu digunakan ialah warisan dari orangtuanya.

"Saya jual seharga Rp60 juta tanpa surat kepemilikan. Saya cuma pakai kuitansi bermeterai Rp6.000," paparnya.

Dia mengakui, dalam enam tahun terakhir harga jual BSA di Pematangsiantar melonjak tinggi, bergantung pada kondisi dan kapasitas mesin.

Dia menggambarkan, pada sekitar 1980 dia membeli BSA seharga Rp3 juta.

Pada 2000 harga jual BSA berkisar Rp10 juta, dan 10 tahun kemudian menjadi Rp60 juta.

Ridwan pun mengaku melepas BSA warisan tersebut karena pertimbangan kepraktisan, boros BBM, serta ketidaktersediaan suku cadang.

"Jika BSA rusak, pemilik harus meluangkan waktu hingga dua hari untuk membentuk suku cadang yang akan diganti dengan cara dibubut," kata Ridwan.

Beragam kendala itu tidak mampu tertutupi dengan tarif di masyarakat.

Apalagi, tarif becak masih berdasarkan tawar-menawar.

Ujung-ujungnya, pendapatan penarik becak BSA pun minim.

Memang, sejumlah warga memilih tetap menggunakan BSA.

Tentu saja, tarif menggunakan becak BSA akan berbeda dengan becak bermotor yang lebih baru.

Namun, sang pemilik harus menyediakan waktu ekstra dalam merawat BSA.

Salah satunya Yogi Sirait, 33, warga Pematangsiantar.Ia mengaku masih tetap merawat BSA miliknya karena alasan romantisme.

Yogi mempertahankan sepeda motor BSA karena pertimbangan sejarah sepeda motor klasik itu yang merupakan warisan dari kakeknya saat berjuang merebut kemerdekaan Indonesia.

"Sejarah dan warisan menjadi bagian yang tidak terpisahkan dalam kehidupan," tukasnya.



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya