30 Tahun Menjadi Tukang Mpu

Supardji Rasban/N-4
04/11/2016 03:31
30 Tahun Menjadi Tukang Mpu
(MI/SUPARDJI RASBAN)

SOLICHIN, 65, warga Desa Sipelem, Kecamatan Bulakamba, Kabupaten Brebes, Jawa Tengah, dikenal sebagai seorang pembuat cangkul atau tukang mpu.

Empu merupakan gelar bagi para pembuat keris zaman kerajaan kuno.

Meski di Brebes terdapat banyak tukang pembuat cangkul, nama Solichin termasuk salah satu yang terkenal.

Itu terbukti dari banyaknya orang yang datang ke tempat pembuatan cangkul miliknya.

Sekurangnya setiap hari, 40-50 orang yang datang, baik membuat cangkul maupun membetulkan cangkul.

Solichin mengaku bukan waktu sebentar untuk bisa menguasai ilmu membuat cangkul.

"Saya sudah lama menjadi tukang mpu kalau dihitung sudah 30 tahun," tutur Solichin, Rabu (2/11).

Keahlian membuat cangkul diperoleh dari ayahnya yang juga pembuat cangkul cukup terkenal pada masanya, yang ditularkan kepada anak-anaknya juga.

"Yang paling banyak ke sini, yang membetulkan cangkul," ucap ayah dari empat anak itu.

Tak hanya dari Brebes, pelanggannya datang juga dari Demak, Pemalang, Tegal, dan Pemalang.

"Yang datang memesan cangkul ke sini juga ada yang dari Jawa Barat, Sumedang, dan Cirebon," terangnya.

Untuk membuat sebuah cangkul, Solichin memasang bandrol antara Rp250 hingga Rp300 ribu.

Tergantung bahan dasar yang akan dibuat cangkul. Semakin bahannya berkualitas bagus, semakin mahal.

"Namun, kalau hanya sekadar membetulkan, ongkosnya cuma Rp40 sampai Rp50 ribu untuk setiap satu cangkul. Ya, tergantung kerusakannya," papar Solichin.

Seperti Solichin, Sugri, 50, mengaku datang untuk membetulkan cangkulnya yang rusak.

"Sudah kurang tajam jadi kurang enak," ujar Sugri, yang datang dari Desa Dukuhlo, Kecamatan Bulakamba, Brebes

Ia pun mengaku miris saat mengetahui Indonesia mengimpor cangkul dari Tiongkok.

Kemendag memberikan izin impor kepala cangkul pada Juni 2016 sebanyak 1,5 juta unit dan yang terealisasi 5,7% atau 86.190 unit.

Dari para langganannya, Solichin mengetahui kalau cangkul impor buatan Tiongkok itu bobotnya lebih ringan.

"Jadi, kurang cocok untuk petani yang biasa untuk mencangkul mengolah tanah baik untuk tanaman padi atau bawang merah," jelas Solichin.



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya