Anggota Komplotan Taat Pribadi Menyerah

Abdus Syukur
08/10/2016 01:00
Anggota Komplotan Taat Pribadi Menyerah
(ANTARA)

MURIYAT Subiyanto, tersangka kasus pembunuhan Abdul Gani dan Ismail Hidayat, menyerahkan diri ke Polda Jatim, Jumat (7/10). Korban merupakan santri Padepokan Dimas Kanjeng Taat Pribadi.

"Tersangka menyerahkan diri dengan diantar anaknya," kata Kabid Humas Polda Jatim, Kombespol Argo Yuwono, Jumat (7/10).

Dalam penuturannya kepada polisi, tersangka merasa hidupnya tidak tenang dan selalu berpindah-pindah.

Dalam kasus itu, Muriyat berperan penting sejak awal, termasuk mengajak pelaku lainnya dan sopir saat membuang mayat korban.

"Karena hidupnya tidak tenang, makan tidak enak dan tidur juga tidak bisa, akhirnya dia memutuskan untuk menyerahkan diri. Makanya lebih baik DPO yang lain segera menyerahkan diri seperti M ini," ucap Argo.

Dengan demikian, sudah enam tersangka yang ditahan, yakni Taat Pribadi, Wahyudi, Wahyu Wijaya, A Suryono, Kurniadi, dan Muriyat. Sementara itu, empat tersangka lainnya masih diburu.

"Tim sudah mengetahui posisi mereka dan kami tinggal menunggu waktu yang tepat untuk menangkap mereka," sebut Argo.

Pembunuhan Abdul Gani dilakukan di Probolinggo pada 13 April 2016, dan Ismail Hidayat dibunuh pada 2 Februari 2015.

Kedua santri padepokan berencana membongkar penipuan bermodus penggandaan uang yang dilakukan Taat.

Polisi menyatakan Taat sebagai otak kasus pembunuhan itu.

Di mata pengikutnya yang berjumlah puluhan ribu dan tersebar di berbagai daerah di Indonesia, Taat Pribadi dianggap sebagai sosok yang mulia dan memiliki kesaktian karena mampu memunculkan uang, logam mulia, perhiasan, uang, makanan, hingga mengirim pulsa.

Sebanyak 260 emas batangan, berbagai mata uang asing dari Vietnam, Tiongkok, dan Korea Selatan yang jumlahnya sekitar Rp200 miliar, keris, patung, dan sejumlah barang lainnya yang diduga palsu hasil sitaan polisi diekspos ke publik, Jumat (7/10).

Sebagian barang bukti diperoleh dari Najmiah, warga Makassar, Sulsel, yang menjadi korban penipuan Taat.

"Kami akan koordinasi dengan Bank Indonesia untuk mengecek uang kertas ini apakah palsu atau asli," ujarnya.

BI telah menurunkan 200 personel dari BI Pusat dan kantor wilayah III Jawa Timur untuk mengecek keaslian uang milik Taat maupun pengikutnya.

Namun, hingga Kamis (6/10) lalu, Kepala BI Kantor Wilayah III Benny Siswanto mengaku belum mendapatkan temuan signifikan.

Berdasar hasil penelitian sementara, uang yang disita Polda Jatim yang terdeteksi asli baru Rp4 juta.


Benda pusaka

Tak hanya uang dan emas, polisi juga menyita beberapa benda pusaka seperti keris Empu Gandring, Keris Sunan, Keris Wali, Keris Raja Brunei, uang pusaka Majapahit, tali cambuk raja, pisau melati, keris mini berukir huruf Arab, dan kitab kecil.

Jubah hitam besar berkantung di sisi kiri dan kanan, yang dipakai Taat saat melakukan aksi penggadaan uang seperti di Youtube, juga dijadikan barang bukti.

Kemarin, Polres Pamekasan, Jatim, membuka posko pengaduan untuk warga korban dugaan penipuan Taat.

Sementara itu, Gubernur Bali Made Mangku Pastika mengimbau warganya yang masih bertahan di padepokan segera kembali. (FL/MG/OL/N-4)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Msyaifullah
Berita Lainnya