Banten Terus Membangun

Wibowo Sangkala
04/10/2016 07:02
Banten Terus Membangun
(ANTARA)

PEMERINTAH PROVINSI (Pemprov) Banten yang hari ini genap berusia 16 tahun tumbuh sebagai provinsi yang terus berkembang dan terus menggenjot pembangunan infrastruktur.

Ini dilakukan mengingat Banten merupakan pintu gerbang Pulau Jawa dan Sumatra. Banten juga berbatasan langsung dengan wilayah DKI Jakarta yang merupakan ibu kota negara.

Posisi geostrategis itu tentunya menyebabkan Banten sebagai penghubung utama jalur perdagangan dalam dan luar negeri.

Tidak mengherankan bila Banten memiliki infrastruktur dan berbagai moda transportasi yang tersedia lengkap, mulai bandara, pelabuhan, hingga jalur kereta api.

Namun, langkah Banten tak berhenti di sini.

Di usianya yang ke-16 tahun ini Banten akan terus membangun.

Setidaknya ada 12 proyek nasional yang kini tengah masuk ke Banten.

Bahkan, Presiden Joko Widodo pun sudah menandatangani Peraturan Presiden Nomor 3 Tahun 2016 tentang Percepatan Pelaksanaan Pembangunan Strategis Nasional.

Berdasarkan rencana kerja pemerintah daerah (RKPD) Banten disebutkan bahwa prioritas pembangunan di daerah ini ialah pembangunan infrastruktur berbasis pengembangan wilayah Pemprov Banten pada 2017.

Pembangunan infrastruktur tersebut untuk menjaga momentum pertumbuhan ekonomi.

Menurut Gubernur Banten Rano Karno, salah satu prioritas pembangunan di Banten adalah peningkatan konektivitas dan dukungan pembangunan infrastruktur untuk meningkatkan perekonomian yang merata di setiap wilayah.

"Oleh karena itu, pembangunan infrastruktur adalah yang utama dilakukan di Banten," ujar Rano pada acara Musyawarah Perencanaan Pembangunan (Musrenbang) Provinsi Banten, beberapa waktu lalu.

Pembangunan jalan tol akan menjadi tulang punggung pembangunan infrastruktur di daerah tersebut.

Saat ini sedang dibangun proyek pembangunan jalan Tol Serang-Panimbang sepanjang 83,6 km, Kunciran-Serpong sepanjang 11,19 km, Serpong-Cinere sepanjang 10,14 km, dan Serpong-Balaraja sepanjang 30 km.

Selain jalan tol, salah satu prioritas infrastruktur yang dibangun di Provinsi Banten ialah bendungan, yaitu Bendungan Karian dan Bendungan Sindang Heula.

Dengan dibangunnya kedua bendungan itu diharapkan akan dapat mengatasi masalah banjir.

Selain itu, ada proyek kereta api ekspres Soekarno Hatta-Sudirman, Bandara Banten Selatan Panimbang, dan pengembangan Bandara Soetta. Kemudian, proyek pembangunan terminal elpiji Banten kapasitas 1 juta ton per tahun, energi asal sampah di Tangerang, Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Tanjung Lesung, serta percepatan infrastruktur transportasi, listrik, dan air bersih untuk kawasan strategis pariwisata nasional (KSPN) Tanjung Lesung.

Menurut Gubernur Banten Rano Karno, semua proyek nasional itu akan dikerjakan secara bertahap.

"Tidak mungkin akan selesai dalam satu atau dua tahun ini, semua akan dikerjakan secara bertahap," tutur Rano.


Perusahaan besar

Posisi yang strategis itu membuat sejumlah perusahaan besar bahkan multinasional menetap di Banten dalam waktu lama.

Seperti semut yang mendatangi gula, kini industrialisasi bahkan telah menjadi tulang punggung perekonomian di Banten.

Tumbuhnya banyak perusahaan besar berskala internasional menjadi bukti betapa menariknya Banten di mata investor.

Keberhasilan itu tentu tidak bisa dicapai dalam waktu semalam.

Provinsi Banten saat ini menduduki peringkat keempat untuk penanaman modal asing (PMA) dan peringkat enam penanaman modal dalam negeri (PMDN) secara nasional, dan yang lebih menggembirakan, pada triwulan I 2016, meningkat menjadi ketiga untuk PMA dan keempat PMDN.

Penyelenggaraan penanaman investasi di Banten telah dilakukan terpadu satu pintu sehingga memudahkan para investor mendapatkan perizinan.

Bahkan, di awal 2016, Presiden Joko Widodo sudah mencanangkan Program Kemudahan Layanan Investasi Langsung Konstruksi (KLIK).

Ada tiga kawasan industri di Provinsi Banten yang menyelenggarakan Program KLIK, yaitu Kawasan Industri Modern Cikande, Kawasan Krakatau Industrial Estate Cilegon (KIEC), dan Kawasan Industr Terpadu Wilmar.

Menurut Gubernur Rano, ada dua substansi sektor industri yang menjadi unggulan di Banten, yaitu industri kimia dan industri logam.

Dua sektor lain yang juga mulai tumbuh ialah pariwisata dan properti.

"Secara umum, infrastruktur dasar sudah memadai. Hanya akses ke kawasan industri dan bandara di wilayah Banten bagian selatan yang belum tersedia," ungkap Rano.

Untuk memacu pertumbuhan nilai investasi masuk ke Banten yang ditargetkan mencapai Rp50 triliun pada 2016, Pemprov Banten menjalin kerja sama investasi dengan Australia untuk membangun Pelabuhan Agro Terpadu di Bojonegara, Serang.

"Dibangunnya Pelabuhan Bojonegara diharapkan memacu pertumbuhan ekonomi, khususnya sektor agrobisnis dan kelautan di Banten bagian selatan," tutur Rano.

Pemprov Banten mulai mengarahkan investasi baru, baik asing maupun dalam negeri ke tiga kabupaten, antara lain Serang, Pandeglang, dan Lebak.

Strategi tersebut merupakan salah satu upaya Pemprov Banten untuk mengurangi kesenjangan ekonomi antara Banten Utara dan Selatan.

Selama ini investasi di kawasan ini tercatat lebih banyak bertumpu di industri pengolahan dan properti yang tersebar di Tangerang Raya, dan Cilegon.

"Investasi menumpuk di Tangerang Raya dan Cilegon sehingga kami memprioritaskan investasi di kawasan Banten selatan. Keberadaan kawasan ekonomi khusus Tanjung Lesung juga menjadi salah satu alasan kami di balik strategi ini," pungkas Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal Terpadu (BKPMT) Banten Babar Suharso.

Berdasarkan data BKPMT Banten, Kota Cilegon menerima aliran investasi asing terbesar senilai US$768 juta, sedangkan Kabupaten Lebak ialah kawasan penerima investasi dalam negeri tertinggi sebesar Rp1,9 triliun. (*/S-1)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Msyaifullah
Berita Lainnya