Tanggap Darurat Garut Diperpanjang

AD/AT/RZ/X-5
27/9/2016 07:20
Tanggap Darurat Garut Diperpanjang
(MI/ADI KRISTIADI)

TANGGAP darurat bencana banjir bandang di Kabupaten Garut, Jawa Barat, akan diperpanjang menjadi dua minggu atau menjadi 14 hari.

Hingga kemarin, sudah ditemukan 34 korban tewas dan 19 korban lainnya yang hilang masih dalam pencarian yang dilakukan di sepanjang sekitar aliran Sungai Cimanuk sampai Waduk Jatigede Sumedang.

"Tanggap darurat akan diperpanjang selama 14 hari dan akan diputuskan besok (hari ini) oleh Bupati Garut," ujar Wakil Bupati Garut Helmi Budiman, kemarin.

"Jika dihentikan, nasib para korban akan seperti apa, karena ini semua demi kemanusian yang harus tetap dijalankan dengan penuh semangat," tambahnya.

Badan Nasional Penanggulangan Bencana, (BNPB) Willem Rampangilei mengaku pihaknya juga mengusulkan agar tanggap darurat dilanjutkan.

"Masih banyak yang belum optimal, termasuk pencarian korban," katanya di Makodim 0611 Garut.

Menurut Willem, semua dana tanggap darurat dari pemerintah pusat, terutama untuk menormalkan kembali pelayanan di RSUD, sekolah, dan relokasi korban.

Hingga kemarin, tanggap darurat telah menghabiskan dana operasional Rp400 juta.

Dana itu di antaranya untuk sewa kendaraan, dan membeli peralatan.

Terkait dengan relokasi korban, Pemkab Garut merencanakan relokasi di lahan milik pemerintah yang berada di Kampung Pamoyanan, Kecamatan Tarogong Kidul, Margawati, Kecamatan Garut Kota, dan Kecamatan Karangpawitan.

"Mudah-mudahan tidak sulit," kata Sekretaris Daerah Iman Ali Rahman, di tempat yang sama.

Selain rencana relokasi, pemkab sedang memikirkan tempat tinggal bagi para korban karena proses pembangunan rumah susun akan memakan waktu lama.

Sebelum rumah susun rampung, para korban harus ditempatkan di lokasi yang layak sebagai tempat tinggal sementara.

Pada bagian lain, pakar kebencanaan Universitas Gadjah Mada, Dwikorita Karnawati, mengingatkan, banjir bandang di Garut bukanlah yang terakhir.

"Kejadian ini masih akan terjadi selama musim hujan," katanya di Kampus UGM, Yogyakarta, kemarin.

Menurut Dwikora, ada beberapa faktor yang mengakibatkan Garut sangat rawan.

Hal itu terutama karakteristik Garut yang seperti mangkuk yang dikelilingi tujuh gunung dan lokasi pertemuan dua daerah aliran sungai.

Artinya, air dari tujuh gunung mengalir ke Garut.



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya