Teror di Puncak Jaya 2 Terluka

Marcel Kellen
26/9/2016 05:40
Teror di Puncak Jaya 2 Terluka
(ANTARA/Yudhi Mahatma)

SERSAN Dua Suparman tengah berada di bak truk, saat rentetan tembakan mengarah kepadanya.

Tubuhnya ambruk ke landasan bak setelah salah satu betisnya dihujam timah panas.

Sabtu (24/9) pagi itu, Suparman dan empat anggota TNI dari Kodim Puncak Jaya, Papua, tengah mengangkut kayu yang akan digunakan membangun Honai warga di Distrik Yambi.

Mereka merupakan prajurit yang terlibat dalam TNI Manunggal Membangun Desa.

Suparman tidak sendiri. Wininga Tabuni, 25, warga sipil yang membantu para TNI itu juga terkena peluru di bagian perut kanannya.

"Kondisi korban warga sipil cukup parah," ungkap Panglima Kodam XVII Cenderawasih Mayor Jenderal TNI Hinsa Siburian, di Jayapura, kemarin.

Penembakan terjadi di Kali Semen, Distrik Irimulia, sekitar 10 menit perjalanan dari Mulia, Ibu Kota Kabupaten Puncak Jaya.

Truk militer itu diberondong peluru dari atas perbukitan.

Pelaku penembakan, lanjut Pangdam, diduga berjumlah tiga sampai lima orang.

"Saya belum bisa memperkirakan kelompok bersenjata yang melakukan penyerangan. Mereka langsung melarikan diri setelah menembak."

Tim gabungan TNI dan Polri langsung bergerak melakukan pengejaran.

Namun, sampai tadi malam, kerja tim belum membuahkan hasil.

Kepala Penerangan Kodam Cenderawasih, Kolonel Inf Teguh Pudji Raharjo, menduga pelaku tergabung dalam kelompok Lekaka Telenggen.

Kelompok ini juga yang diduga menembak Esyra Patatang, guru agama SD Inpres Kulirik, Distrik Mulia, Puncak Jaya, Selasa (13/9).

Sang pendidik meninggal dunia karena peluru yang bersarang di kepalanya.

Teguh menambahkan, Suparman dan Wininga sudah dirujuk ke Jayapura. Mereka diangkut dengan menggunakan pesawat jenis Caravan ke Bandara Sentani.

Suparman dirawat di RS Marthen Indey dan Wininga dievakuasi ke RS Dok II.

"Kami menyesalkan penembakan terhadap anggota TNI dan masyarakat sipil karena kelompok itu antipembangunan. Mereka adalah musuh bersama," tegasnya

Penggranat kabur

Dari Bener Meriah, Aceh, polisi menduga AF, 23, pelaku pelemparan granat ke mobil, pekan lalu, sudah melarikan diri ke Medan, Sumatra Utara.

Pelacakan yang dilakukan anggota Polres Bener Meriah di sejumlah lokasi yang diduga tempat persembunyian pelaku tidak membuahkan hasil.

"AF terlacak sudah ke medan. Kami akan terus memburunya," papar Kapolres Bener Meriah Ajun Komisaris Besar Deden Somantri.

Polisi, lanjut dia, harus segera menangkap AF.

Selain untuk menegakkan hukum terhadap pelaku, pihaknya sangat berkepentingan untuk melacak asal mula granat aktif tersebut.

Aksi pelemparan granat terjadi pada Sabtu (17/9) ke dalam mobil dinas yang ditumpangi istri dan keluarga Ketua Komisi A DPRK Bener Meriah, Mansyur Ismail.

Saat itu, kendaraan tengah melintas di Dusun Manderek, Gampong Alur Punti, Kecamatan Pintu Rime Gayo.

Dua anak pasangan Mansyur-Nurma Aulia Fahmi tewas di tempat kejadian.

Keesokan harinya, Nurma, yang menderita luka berat, menyusul kedua anaknya.

Dalam penyelidikan, polisi menangkap SZ, istri muda Mansyur. Saat diperiksa, ia mengaku menyuruh AF, adiknya, untuk membeli granat dan melemparnya ke mobil yang dikendarai korban.

Deden Somantri menambahkan, untuk memburu pelaku, pihaknya mendapat dukungan tim dari Polda Aceh.

"Penangkapan AF akan membuat kasus ini menjadi terang benderang," tandasnya.

(MR/Ant/N-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya