Headline
Surya Paloh tegaskan Partai NasDem akan lapang dada melakukan transformasi regenerasi.
Surya Paloh tegaskan Partai NasDem akan lapang dada melakukan transformasi regenerasi.
Kumpulan Berita DPR RI
HARI ini, ratusan pelajar dari 15 sekolah di Kabupaten Garut yang terdampak bencana banjir bandang akan mengikuti kegiatan belajar lagi.
Mereka kembali ke sekolah masing-masing, atau belajar di tempat pengungsian.
"Mereka akan belajar menggunakan pakaian seadanya, perlengkapan sekolah seadanya, dan alat-alat tulis seadanya," papar Kepala Bidang Pendidikan Dasar Dinas Pendidikan Kabupaten Garut, Totong, kemarin.
Ke-15 sekolah yang tidak bisa menyelenggarakan kegiatan belajar-mengajar sejak disapu banjir bandang pada Selasa (20/9) itu terdiri dari 2 sekolah dasar, 8 sekolah menengah pertama, 1 sekolah menengah atas, 2 sekolah luar biasa, dan 2 kelompok bermain.
Totong memastikan semua siswa akan mulai belajar lagi setelah Bupati Garut Rudy Gunawan menegaskan seluruh pelajar yang jadi korban banjir harus kembali ke sekolah.
"Tidak perlu pakai seragam maupun peralatan sekolah lainnya. Masuk dulu ke sekolah, apa adanya."
Untuk itu, Rudy mengharuskan semua pengawas dan staf di dinas pendidikan untuk berada di sekolah.
Guru harus menjalankan kegiatan belajar-mengajar meski dalam kondisi seadanya.
Kalau perlu, pihak sekolah harus menjemput langsung anak-anak korban banjir agar mau pergi ke sekolah, tidak peduli tanpa sepatu atau seragam.
Selain untuk pendidikan anak, lanjut Rudy, kehadiran anak di sekolah bertujuan mengetahui jumlah siswa yang menjadi korban banjir.
"Dengan cara itu bisa diketahui jumlah kebutuhan seragam, sepatu, maupun peralatan sekolah bagi mereka. Saat ini, bantuan sepatu dan peralatan sekolah korban banjir sudah tersedia, cukup melimpah," tandasnya.
Nia, 40, korban banjir di Desa Haurpanggung, Tarogong Kidul, mengakui anaknya belum mau bersekolah sejak banjir bandang melanda.
"Alasannya tidak punya seragam, sepatu, dan buku," tambahnya.
Swafoto
"Upami bade kadieu mah tong fofotoan wae. Tinggali nu janteun korban ditinggalkeun ku bapakna, indungna, atanapi nu budakna paeh ku susukan Cimanuk. Mun kadieu tong seuseurian, siga nu teu boga perasaan ka nu jadi korban (Kalau ke sini, jangan berfoto-foto diri saja. Lihat yang jadi korban, ditinggalkan bapak, ibu, atau yang anaknya meninggal karena amuk Sungai Cimanuk. Kalau ke sini, jangan tertawa-tawa terus, seperti tidak punya simpati kepada korban)."
Kalimat itu diungkapkan Nanang, 35, warga Kampung Bojong Sudika, Haurpanggung.
Ia mengaku kesal dengan kedatangan sejumlah orang ke lokasi bencana, turun dari mobil-mobil berpelat Bandung, Jakarta, dan Bogor, berswafoto, dan ber-hahahihi.
"Selfie di lokasi bencana terkesan tidak menghargai warga yang sedang dilanda musibah. Mari sama-sama kita jaga perasaan korban," imbau Humas Basarnas Bandung Joshua Banjarnahor.
Komandan Posko Penanggulangan Bencana Garut Letkol Arm Setyo Hani Susanto menyatakan, selain warga yang memberikan bantuan, ada yang datang untuk sekadar melihat-lihat lokasi bencana.
"Yang datang memberi bantuan juga berfoto-foto sambil teriak-teriak. Di lokasi banjir, saya tidak mau memperlihatkan gigi sendiri (senyum)," tambah Komandan Kodim Garut itu.
(EM/BU/N-2)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved